Monthly Archives: Oktober 2013

Akhirnya, Belanja! (catatan perjalanan ke Seoul bagian kelima)

Standar

Terima kasih kepada sepatu gunung bermerek Eiger yang untuk kesekian kalinya saya beli selalu copot dibagian talinya. Ah kacrut! Akhirnya saya terpaksa beli sepatu yang ringan untuk jalan-jalan.

Dalam rumus penggila belanja yang saya buat sendiri, sekali belanja, berikutnya sulit menolak godaan. Betul?? Karena saat beli sepatu misalnya, secara otomatis mata ini tertarik untuk melihat etalase lain di dalam toko yang sama, ada jam tangan mungil, ada kacamata harry potter yang bikin saya nelangsa karena mahalnya dan ada banyak baju yang bikin gemes minta dibeli. Kartu kredit saya simpan jauh-jauh sampai lupa ada dimana. Ahay saya selamat…. Belum…

Ini sepatu yang saya beli. Kata teman saya baby shoes. Harganya tebak…. 10ribu won saja! Alias 100ribu rupiah. Tahukah klimaks atau orgasme bagi penggila belanja? Kalau bisa beli barang bagus dengan harga semurah mungkin.

20130930_211226

 

Dari sepatu, lalu setiap hari saya pergi ke toko baju rajutan berselang satu blok dari toko sepatu. Memandangi tanpa daya sebuah baju rajutan yang harga minimalnya 10ribu won! Tapi uang saya harus dieman-eman agar tak sengsara saat pulang nanti. Sampai di hari saya meninggalkan Myeongdong untuk pindah ke wilayah Itaewon, saya hanya beli anting-anting lucu ini seharga 1000won.

20131002_230622

Kirain di Itaewon ga bakal belanja. Ternyata menyerah pada sebuah cincin lucu yang menunjukkan kalender, barangkali karena saya takut lupa. Cincin ini harganya 15ribu won. Iya mahal *tertunduk*

Camera 360

 

Di samping tiga barang di atas, saya juga belanja tas punggung ala Korea 35ribu won itu padahal sudah belanjanya di pasar tradisional Namdaemun loh. Lalu beberapa perintilan oleholeh untuk teman dan keluarga. Setelah itu tutup mata sampai waktunya pulang. Syukurlah saya masih bisa pulang dengan naik bus 15ribu won dari Itaewon ke bandara dan sisa 40ribu won. Itu sukses “backpackeran”namanya bisa pulang jalanjalan tanpa hutang 😉

Bersih dan Teratur (Catatan perjalanan ke Seoul bagian ketiga)

Standar

Berjalan kaki di Seoul ga usah takut diserempet kendaraan bermotor atau diklakson seperti yang terjadi di Jakarta dan Bandung. Kalau tidak ada lampu pengatur lalu lintas dan penanda penyebrangan, artinya pejalan kaki “berkuasa.” Contohnya di Myeongdong, mobil memang tidak dilarang untuk memasuki area pertokoan ini tapi mereka harus bersabar luar biasa untuk bisa lewat sementara pejalan kaki yang jumlahnya banyak itu melintas di depan mereka. Kalau di jalan raya yang jelas memiliki rambu lalu lintas, berani pejalan kaki melanggar, barangkali yang kena tilang adalah si pejalan kaki itu sendiri.

Yang menarik dari kota ini juga kebersihannya yang luar biasa. Lagi-lagi saya harus membandingkannya dengan kota Jakarta dan apalagi Bandung, cantik tapi jorok, seperti gadis manis ga mandi berbulan-bulan, bau.

Saya jarang melihat tong sampah di jalanan. Pun yang ini ada di taman. Tapi bukan berarti orang membuang sampahnya sembarangan.

20131003_175936

Trotoarnya juga bikin iri karena bersih sekali.

20130929_130713

 

Yang menarik dari rumah-rumah di sana, dilengkapi dengan cctv, kamera pemindai. Apa mereka paranoid? Entahlah, mungkin untuk membuat pemilik rumah selalu waspada.

20131003_124650

 

Waspada juga penting terutama di isu listrik. Sekering listrik mereka digembok kayak begini.

20131003_123720

 

Kalau bicara soal keteraturan, harus bicara soal transportasi kota. Metro subway mereka terbaik setelah Jepang dengan sembilan jalur yang bikin terkoordinasi satu sama lain. Dengan hanya bermodal peta jalur metro, ga perlu takut tersesat di kota ini. Tiket terusan bisa dibeli dengan harga 3000won dan setiap kali jalan-jalan saya isi ulang sebesar 3000won lagi. Kabarnya sih bisa di refund, tapi sampai saya pulang, isi tiket saya masih 8000won, oh….

20131003_093939

 

20130929_131247

 

 

Lupakan Berat Badan! (catatan perjalanan ke Korea bagian keempat)

Standar

Ceritanya begini; dahulu kala orang Korea hidupnya susah, mereka harus bekerja sangat keras dan tekun. Nyaris tak ada waktu terbuang selain untuk bekerja. Termasuk juga ketika menyantap makanan, mereka tak bisa berlama-lama menikmati rasa. Terciptalah sebuah menu yang saya menyebutnya nasi campur, dalam mangkok besar nasi ditaruh pertama, lalu ditiban aneka sayuran, lalu ditambah lauknya ayam, telur atau daging babi, atau aneka seafood. Ditambahkan bumbu saos yang kadang pedas, lalu semua diaduk sampai rata, terus diaduk!

Dahulu orang hanya punya waktu 15 menit untuk istirahat makan siang sebelum kembali bekerja jadi tak bisa mencicipi satu persatu lauk yang tersedia, semua dicampur biar segera cepat selesai dimakan. Versi lain bilang itu makanan paling sederhana yang bisa mereka hidangkan, dengan diaduk begitu tak perlu banyak menu.

Voila! Inilah foto beberapa jenis nasi campur. Yang enak dari ini semua adalah nasinya yang lengket dan terasa manis. Harganya berkisar 8000 – 10 ribu won, tergantung pada isi nasinya.

20131003_125943

 

20131003_130404

 

Lalu kita beralih ke mie ramen, mie gendut dengan kuah panas. Saya suka.

20131004_135546

 

Yang aneh adalah mie dingin, soun dengan kuah bercampur es serut. Saya mencobanya hanya sesendok, nda suka. Aneh beraat.

20131004_135541

 

Aneka mie ini harganya mulai 6000 won.

Lalu kembali ke nasi goreng. Di sebuah restaurant di Myeongdong mereka memasak di depan muka anda. Seru tapi hati-hati, mata perih dan pulang bajumu bau minyak goreng. Harganya 8000 won bisa untuk berdua atau bertiga, karena porsinya besar.

20130929_141356

 

Oh buat kamu yang memilih untuk jadi vegetarian, bisa pilih menu ini. Sushi ala korea. Ah percaya deh bukan itu namanya, saya ga tahu hahaha. Sejujurnya ga enak. Ini cuma nasi ditambah towelan bumbu apa gitu dan dibungkus daun, seperti makan nasi, sambal dan lalapan. Ada yang rasanya kayak daun pok pohan.

20130930_131813

 

Di restaurant Korea yang selalu disajikan gratis adalah Kimchi dan air putih dingin, bisa diisi ulang sampai kembung. Bayangkan betapa mahalnya air mineral di Indonesia, tapi di sana diberi gratisan seperti beberapa warung di Indonesia yang menyediakan teh tawar gratis.

Saya juga sempat ke restaurant Beer and Chicken, sungguh cuma itu yang disediakan oleh restaurant ini. Jangan khayal minta nasi. Tapi dengan empat porsi ayam aneka rasa, siapa butuh nasi buat mengenyangkan perut. Hmm karena jajannya barengan, saya lupa harga aslinya. Seingat saya masing-masing menyumbang 10ribu won.

20131002_200555

 

Tapi dari semua menu makanan yang saya coba, ini adalah tempat favorit! Namanya Korea Ginseng Chicken Soup sejak 1960. Tempatnya di dekat Gwanghwamun Square. Awal berdiri cuma warung makan kecil yang memang menyediakan soup ayam. Setia betul pada menu andalannya itu dan terus berkembang karena enaknya. Restaurant ini ada di hampir setiap rekomendasi perjalanan ke Seoul.

20131003_182536

 

20131003_183358

 

Ayam utuh tanpa kepala, di dalam badannya berisi nasi. Panasnya mengepul dan wangi daun bawang. Cara makannya buka paksa dada ayam hingga nasi di dalamnya berbaur dengan kuah. Aih sedap. Soup ini disajikan bersama segelas kecil ginseng Korea yang rasanya nonjok sampai ke kepala. Kabarnya sebagai obat kuat, meningkatkan daya tahan tubuh. Buat saya, cukup sekali itu saja.

Bicara soal makan, ga lengkap tanpa minumnya. Ada Suju, bir tradisional Korea. Setiap orang asing membicarakan bir ini. Malam kedua di Seoul saya berkesempatan mencobanya. Huaa terlalu, seperti minum spiritus.

Tapi saya ketagihan anggur jagungnya mereka. Disajikan dalam mangkok yang biasanya buat kita cuci tangan di sini. Dulu anggur dibuat dari sisa panen padi dan jagung yang berlebih, difermentasi secara sederhana dengan ragi, persis seperti membuat tape. Kekuatannya hanya lima hari. Maka dari itu saya tak bisa bawa pulang ke Jakarta, pertama karena takut ga lolos cukai, kedua ga tahan lama. Ah. Atau buat sendiri aja ya?

20131001_191410

 

Berat badan naik? Sudah pasti tapi yang judulnya jalan-jalan, rugi besar kalau tidak membuka diri menjajal segala suatu yang ada di negeri baru ini. Tapi setelah semua dijajal, saya masih menyimpulkan masakan Indonesia masih yang terbaik, kedua masakan perakanan dan ketiga masakan Thailand. End of story!

Kpop, Bergaya di Jalanan! (catatan perjalanan ke Seoul bagian kedua)

Standar

Saban kali Mami saya menonton saluran televisi berbayar ONE, dia akan komentar pada dua hal; artis dan aktornya yang cakeup juga dandanan mereka dari atas ke bawah.

Kalau melihat orang Indonesia berdandan ke Korea-Korean, ga pernah tampak pantas di mata saya. Selalu aneh. Warna dan motif baju dan bawah bertabrakan. Tapi ketika saya sampai di sini, apalagi di tempatnya di pusat gaol-nya anak muda Korea gitu, saya malah terbengong-bengong. Semuanya jadi serba pantas. Hotpants dengan sepatu boot dan topi Pandora. Lelaki dengan jas kantor mengkilat dan sepatu kets. Celana panjang berwarna permen termasuk rambut dengan beragam gaya. Overcoat berwarnawarni. Dan yang keren, lelaki Korea tak sungkan menjinjing payung tongkat panjang. Di Indonesia, lelakinya memilih kehujanan daripada payungan, betulkan?

Ini beberapa foto di antaranya yang saya ambil sembarang.

20130929_131912

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

20130929_132059

 

20130929_133807

20130929_134211

Sepanjang jalan saya bertemu banyak anak gadis dengan hidung diplester. Teman-teman saya bercerita tentang tren orang tua Korea menghadiahkan operasi plastic saat anaknya berusia 17 tahun. Operasi plastiknya beragam tapi paling banyak itu memancungkan hidung dan membesarkan mata, menanam benda agar membentuk kelopak mata. Ouch.. yang ini saya ga berani hunting fotonya, takut ditimpuk sandal.

Annyeong haseyooooo (catatan perjalanan ke Seoul bagian kesatu)

Standar

Seoul! Harus saya akui, kota ini tak ada dalam daftar tempat yang ingin saya kunjungi. Tapi begitu saya berkesempatan 8 hari di kota ini, saya malah ingin kembali lagi.

Saya tidak siap dengan bekal saku yang cukup, lagian ga akan belanja karena menurut informasi ini kota mahal. Lebih baik diam saja di kamar hotel dan berharap agenda kerja bakal padat merayap.

Bekal pribadi saya cuma $100 dan 76.000 Korean Won. Sedikit ya. Dititipi uang dari kantor untuk bekal dua orang, dari sana lah saya berharap ada sedikit napas kalau ada hal darurat seperti belanja itu kudu terjadi. Halah darurat!

Karena di kantor baru semuanya dilakukan sendiri jadi saya tahu persis berapa yang mesti dikeluarin untuk bisa berangkat ke Korea. Tiket ambil jatah promo dari Singapore Airlines $456 PP dan visa Rp 300 ribu. Dan diberi bekal dari kantor untuk berdua sebesar 5 juta rupiah. Inget ya untuk berdua. Itu pun harus dikeluarkan untuk yang sifatnya tugas, seperti transport lokal dan makan malam.

Kejam itu adalah hotel yang diberikan kepada kami adalah bintang empat yang letaknya persis di tengah-tengah Myeongdong, pusat perbelanjaan. Kejam karena godaan belanja sulit untuk ditaklukan. Saya penggila sepatu dan tas, bukan baju, dan tawaran mereka yang berjejer dengan harga diskon sungguh membunuh saya perlahan. Setiap hari saya menghitung uang, takut bercampur antara dana pribadi dan dana kantor. Bersyukur sampai akhir tugas selama 5 hari itu aman.

Begitu sampai di Incheon Airport, terkagumkagum karena besarnya, bersih dan semua teratur. Kudu diantar pakai kereta untuk sampai ke pintu keluar. Dengan terkantuk-kantuk karena pesawat berangkat jam 5 pagi, saya sudah tiba sejak jam 1 malam dan ngga bisa masuk karena pintu masuk terminal baru dibuka pukul 4.30 pagi. Begitu dibuka langsung antrian panjang. Pelajaran berharga dari online check in adalah tidak perlu antri, bisa langsung serahkan saja bukti check in di counter ngga sampai 5 menit keluar deh boading pass di Soetta.

Camera 360

 

Kembali ke Incheon, dari sini sesuai dengan petunjuk dari tim Korea, kami harus mencari pintu keluar 12A atau 5B untuk bisa naik bus airport no.6015. Beruntung begitu sampai di depan pintu bus nya datang. Supirnya pakai kaos lengan panjang, topi dan sarung  tangan berwarna putih. Dia akan menyambut penumpangnya, membantu bawaan yang bisa dimasukkan ke dalam bagasi bawah bus. Saya memilih menaruh tas punggung saya ukuran 45liter itu di dalam bus. Sebelum masuk harus setor biaya 10.000 won, atau setara dengan Rp. 100.000 saat itu. Yang unik adalah sebelum busnya dijalankan, supir bus memeriksa setiap penumpang apakah sabuk pengaman sudah terpasang. Ah sedap, seperti di pesawat saja atau di mobil pribadi, itu pun yang biasanya rajin pakai sabuk pengaman adalah temannya supir di bangku depan. Kita lebih takut ditilang daripada kematian sih.

Kalau naik taksi, harganya luar binasa, benar-benar membinasakan turis dadakan macam saya ini, 46ribu won atau sekitar Rp 460.000 setengah juta buat taksi? Dan beda waktu tempuhnya hanya setengah jam lebih cepat saja. Tentu saja naik bus lebih masuk akal. Sementara naik kereta bawah tanah tidak ada dalam petunjuk awal kami.

Meski mata setengah mati ngantuk dan badan lelah di atas pesawat setengah hari, tapi mana mungkin melewatkan pemandangan pertama di Korea. Melewati semenanjung, lalu pinggiran sungai Han, memasuki kota. Tibalah di halte Senjong Hotel. Bukan bukan hotel ini, kami masih harus berjalan ke pintu keluar subway no.7 dan lalu menikung ke kanan masuk ke daerah Myeongdong dan akhirnya menemukan hotel Skypark. Hotel ini ada di atas pertokoan. Pintu masuknya kecil di sela toko sepatu yang menggiurkan mata. Lobinya ada di lantai 11 dan mereka punya teras kecil di rooftop. Menunggu check in menikmati udara Seoul yang…brrrr 19 derajat Celsius di jam enam sore. Ah beruntung hampir setahun beradaptasi dengan udara sejuk di Bandung jadi tidak terlalu kaget lah dengan dinginnya Seoul.

Sialnya kalau lebih dingin dari 19 derajat itu. Hanya ada 1 jaket dan syal yang saya siapkan dalam tas punggung yang sudah bersama selama satu bulan terakhir keliling ke beberapa kota di Indonesia dan tidak menemukan dingin kecuali di Seoul ini.

20130929_134647

 

Begitu sampai di kamar hotel tentu saja yang diperebutkan oleh saya dan teman kerja adalah toilet. Voila! Toiletnya canggih, buanyak tombolnya dalam dua bahasa, inggris dan korea ditambah symbol bokong di tiap tombolnya. Ada pengatur volume air, temperaturnya, jarak semprot dan terakhir pengering bokong. Serunya. Kali pertama itu dibuang waktu untuk eksplorasi setiap tombol.

20131004_105926

 

Yang keren dari hotel ini adalah toiletries yang disediakan bertajuk “Etude House,” mini pack, kabarnya ini merk lumayan bagus di Korea dan laku. Toko besarnya ada di depan hotel. Maka dari itu saban hari, satu set Etude masuk ke dalam tas punggung. Norak? Biarin.

Makan malam pertama di Seoul. Mencari yang halal bukan perkara mudah apalagi ga semua petunjuk disertai bahasa Inggris dan pelayannya juga terbata-bata. Walhasil saya hanya bisa percaya pada gambar. Nasi goreng keju kimchi, 5500 won. Percayalah makanan berat dengan harga murah ya cuma segitu nilainya. Kalau mau cemilan di pinggir jalan ya bisa, 2000 won untuk kentang ulir.

20130928_210256

 

Karena hotel ini sesungguhnya berada di tengah pertokoan, sampai di jam 11 malam masih ada pelayan toko kosmetik, yang jumlahnya berjejer samping menyamping dalam jumlah buanyak, masih berteriak

Annyeong haseyooooo

Ah, kata-kata itu alamat melekat berhari-hari ke depan.

Exit 1

Standar

Kalau kita punya banyak jalan keluar dalam hidup ini, kenapa harus stuck pada satu masalah yang itu melulu.

Cinta. Who doesn’t need one.

Tapi apa harus ngoyo mencarinya, apa harus terikat dalam sebuah tali yang disebut pernikahan. Eh begitu kah analogi yang diperkenalkan pada kita, pernikahan itu tali yang mengikat dua pribadi. Kalau seseorang sudah merasa bahagia dengan kesendiriannya mengapa harus memaksanya membagi hidup dengan orang lain?

Pertanyaan itu keluar dari mulut teman saya ketika kami bertemu setelah empat tahun di atas meja penuh waffle green tea. Dua scope green tea dan plain ice cream. Saya bilang kenapa orang Korea senang sekali makan dalam porsi besar sementara badan mereka tetap bisa langsing. Dia ga menjawab kecuali mencoel waffle dari piring saya.

“Apa kamu punya seseorang yang menantimu pulang nit?,” dia bertanya sambil menyuap waffle. Pertanyaan itu ujugujug yang ga saya duga. Karena menurut saya yang mestinya dia tanya pertama adalah,gimana workshopnya, udah liat apa aja di kota ini.

“Ada. Kami sedang merencanakan pernikahan tahun depan. Insya Allah. Kamu?”

“Single dan aku bahagia dengan hidupku sekarang. Seperti bebas dari urusan cinta. Ada sih perempuan yang on and off, dia juga bebas kapan mau datang.”

“Ada rencana untuk serius?”

“I always serious. Tapi bukan berarti harus menikah. Kenapa semua orang harus menikah? Kamu ingin punya anak ya?

“Iya lah. Cukup 1 saja, karena biaya mahal. Aku juga ga kepikiran menikah sebelumnya, not until recently ketika bertemu dengannya dan aku rasa, inilah waktunya. Kenapa ingin punya anak, ya ingin saja. I am getting old, I am 36.”

Matanya terbelalak. Dia pikir saya masih di akhir 20an. Hua tersanjung, awet muda.

“Kalau pun aku menikah suatu hari nanti, mungkin di saat usiaku 40tahun, atau malah 50 tahun. Aku menikmati hidup sendiri, bekerja dan menabung untuk masa depan. Tapi menikah ga ada dalam agenda. Mungkin nanti. Apalagi keinginan punya anak, tak terpikirkan”

“Selama kamu bahagia dengan pilihanmu, ga usah terpengaruh oleh pilihan orang lain.”

Dia tersenyum. Tapi entah kenapa saya masih merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Barangkali dia sebenarnya kesepian, tapi prinsip hidup sendiri membuatnya tak mengakui itu. Saya mungkin salah, tapi bisa saja benar kan.

Menikah atau tetap sendiri, dua duanya bukan pilihan mudah. Setiap pilihan ada konsekuensinya, dan selama siap menanggung itu, kenapa tidak. Yang pasti lakukan apa yang membuatmu bahagia kawan.

Kami berpisah di perempatan jalan, sembari dia bimbang saya akan sendirian berkeliaran di lingkungan yang asing. Dia ada kencan malam itu. A man had a need, katanya sambil mengedipkan mata pada saya. Peluk jauh sobat, sampai jumpa di bagian lain dari dunia ini.

Orang Asing Mendengar Lebih Baik

Standar

Akhir pekan lalu adalah kali pertama saya menginap di sebuah hostel di Korea, berbagi kamar dan kamar mandi dengan orang yang benar-benar asing. Seharusnya kamar yang saya pesan lewat situs Agoda itu khusus untuk perempuan, ternyata tidak. Begitu saya masuk ke dalam kamar, sudah ada koper di sana. Seseorang sudah menempati salah satu ranjang. Tanpa dugaan apapun, saya ganti baju santai, kaos tanpa lengan dan celana pendek. Tibatiba seorang lelaki paruh baya masuk ke dalam kamar, hampir saya menjerit. Dia mencoba menenangkan saya sambil bilang,” No worry, I am leaving this afternoon. You have this room on your own.”

Saya bilang kalau kamar ini harusnya khusus perempuan. Lawan bicara saya Cuma ketawa, katanya ga ada kamar khusus perempuan di hostel ini, semuanya barengan. WHAT!! Saya panic, mikirin bagaimana gaya saya tidur yang suka memperlihatkan perut dan kaos kemana-mana, ga bisa buka kutang dong. Merasa menyesal diboongin sama hostel ini.

Si bapak itu bilang, sejak kemarin dia sendirian ga ada teman satu kamar, jadi kemungkinan besar saya pun begitu. Percakapan kami singkat saya. Sambil menutupi seluruh tubuh saya dengan bedcover, dia meneruskan cerita kenapa sampai di sini. Si bapak datang dari Amerika khusus untuk implant gigi, kata dia jauh lebih murah. Kata  saya, kalau diitung biaya perjalanan dan akomodasi apa masih lebih murah. Dia Cuma senyum. Dia bilang, begitu beranjak tua semua masalah datang, termasuk gigi yang mendadak tanggal, supaya tetap nyaman makan dan tertawa, dia rela deh ngeluarin jutaaan dalam rupiah untuk implant gigi. Sepuluh menit kemudian lelaki gundul dengan wajah ganteng menjemput si bapak dan membantunya menurunkan koper, kami saling mengucap selamat tinggal.

Ah lelaki  gundul ganteng itu, salah satu pegawai di hostel ini. Bisa saya tebak, dia juga orang Serbia. Betul hostel ini dimiliki seorang Serbia, dengan aksen bahasa inggris yang aneh, saya memberanikan diri bertanya dia darimana. Ada sekitar tiga lelaki Serbia di hostel ini yang kalau ngomong ga bisa pelan, menakutkan, tapi ganteng, ya termaafkan lah… hua plak!

“Someone took my towel, I still need it.” Kata saya kepada salah satu dari mereka

“Oh that was me, I cleaning up everything. I cannot stand looking at anything that hanging on the door. Im sorry but you know that you can always have the clean one.” Katanya sambil menyerahkan handuk baru.

“I aim to save the planet by reusing my towel.”

Dia Cuma senyum.

Ga berapa lama, seorang cewe berambut coklat datang dengan wajah ceria. Dia langsung menyapa saya,”Indonesian girl… hi,  I am Anna from Rusia, hmmm near border to China.” Katanya. Setelah memperkenalkan diri, dia melanjutkan cerita tanpa bisa saya hentikan. Dia  bilang kalau beberapa bulan lalu dia ke Indonesia, backpackingan sendiri. Kenapa? Karena dia butuh waktu dan ruang jauh dari lelaki yang dinikahinya selama tiga tahun terakhir.

“After I came back, I told him that I made a decision. I want a divorce. Oh yes, I am single for the last two weeks now.”

Wow…  saya ga tahu harus menanggapinya seperti apa. Mau menunjukkan rasa simpatik karena biasanya orang bercerai itu sedih, Anna malah cerita sambil tertawa. Hal yang menurut dia paling menyakitkan dari perjalanannya ke Seoul kali ini adalah kenyataan bahwa dia sendirian. Dua kali datang ke Seoul sebelumnya selalu bersama lelaki yang sama. Bahkan foto pra pernikahaannya pun dilakukan di Seoul, setiap sudut membawa kenangan katanya. Sampai di situ saya tahu, Anna sedang sedih. Dia lalu menunjukkan foto-foto pra pernikahannya itu pada saya.

“I love him.” Katanya dengan mata yang menghindari saya.

“Then why you divorce him?”

“You are not married right?”

Saya menggelengkan kepala

“People changed once they got married. So was my husband. When we were just dating, he was so sweet.  We worked so hard to save money so we can get married. Then, he changed. He no longer works. He is an artist and said that he needs to concentrate to find inspiration. The inspiration never came. I love him. I couldn’t tell him that it is hard for me to work by self to fund our marriage. So I tell him that I want to clear my mind by traveling alone. Then yes, everything became clear. Why should I marrying someone who eat and spend my money and live at my apartment.”

Okay… dalam 15 menit pertama pertemuan kami, saya sudah dapat ceritanya selengkap itu. Buat saya cukup mengagetkan sekali. Bagaimana bisa anda bercerita dengan orang asing selancar itu?

Saya ceritakan ini semua pada teman saat makan siang di hari berikutnya, Anna sudah check out dari hostel saat itu. Teman saya punya analisa menarik. Bukannya emang asik ya bercerita pada orang asing, yang ga ada keterkaitan emosional sama sekali, bukan teman atau saudara, completely stranger. Orang yang asing ga akan menghakimi, berkomentar menyakitkan, mereka Cuma akan memasang kuping lebih lama daripada orang dekat.

Saya setuju dengannya. Barangkali dua perempuan yang berikutnya datang jadi teman sekamar juga begitu. Mereka semua datang sendirian, menikmati Seoul sendirian, bukan sekedar wisata, tapi mencari jawaban atas pertanyaan hidupnya. Barangkali juga itu yang terjadi dengan saya. Bertanya ulang pada diri sendiri, mau ngapain setelah ini. Sudah benarkah pilihan hidup saya? Kenapa cerita Anna begitu menghantui saya?

Minggu malam saya pulang dijemput akang. Setelah hampir satu bulan penuh hidup di jalanan, saya pulang. Saya tahu, bersamanya saya punya rumah untuk selalu kembali.