Monthly Archives: Januari 2016

Apa itu ‘Kebebasan’ di tengah hantaman ‘pilihan’? – oleholeh kuliah promotional culture

Standar

Begini ceritanya. Di Jakarta, saya seringkali pergi ke pusat perbelanjaan untuk berbagai alasan di luar urusan belanja, seperti buat ngadem karena di luar panas, atau sekedar jalanjalan karena pusing sama urusan kerjaan atau janjian nongkrong sama teman, serius dikit, ya meeting dengan klien. Padahal fungsi awal pusat perbelanjaan adalah untuk belanja. Tapi apa iya, pilihan saya mengalihkan fungsi mal jadi tempat nongkrong adalah pilihan sadar secara pribadi? Biasanya pulang dari mal, nyaris ga pernah dengan tangan kosong, minimal roti untuk orang rumah dari sebuah toko roti yang selalu ada di mal itu loh… akhirnya iya… saya belanja juga… apa saya secara sadar memilih belanja? Apa saya ‘bebas’ memilih?

Dalam sebuah ruang besar seperti mal, berderet ratusan ribu lembar kain melambai, patung-patung tersenyum memanggil dengan papan diskon 50%, up to 70% dengan ketentuan berlaku. Berjejer bangku kafe dengan tawaran free wifi, harga menarik, special menu with special price. Lampu dipasang untuk menipu warna baju, patung-patung kurus membuat si gemuk merasa kecil hati. Apa kita benar-benar bebas memilih? Apa kita punya ‘kuasa’ untuk memilih?

Jawabannya antara iya dan tidak. Iya, saya punya kuasa untuk memilih panas-panasan di jalan atau ngadem di mal. Saya punya kuasa memilih nongkrong di warung kopi pinggir jalan atau di ngafe di mal. Saya juga punya kuasa belanja atau tidak, kuasa itu ada di dompet aha! Hahaha… tapi kuasa yang saya punya ‘terkonstruksi’ oleh pilihan yang disediakan oleh produsen dibantu tangantangan ajaib para seniman periklanan. Saya dibuat ‘nyaman’ dengan pilihan yang tersedia.

Tapi apa saya tahu darimana barang dari ujung kaki sampai kepala yang saya gunakan berasal? Saya bisa google sih, dan berusaha kalau tidak sedang ‘malas’ untuk membeli barang yang saya tahu asalnya darimana. Atau saya menolak belanja barang-barang ‘murah’ dari merk terkenal yang dibuat dari buruh murah di Bangladesh atau Vietnam, mungkin juga Indonesia. Istilah kerennya belanja dari barang Fair Trade aja, tapi apa iya 100% mereka sustainable dari urusan material, sampai perburuhan, ga ada yang jamin, dan jangan take it for granted on everything memang.

Maka sampailah di point pertanyaan, ada berapa ‘saya’ di dunia ini? Saya yang sungguh beruntung bisa mencari tahu darimana sumber materi yang saya beli dan bagaimana prosesnya berlangsung. Saya yang beruntung terpapar oleh informasi. Tapi ada berapa banyak yang seperti ‘saya’ lalu kemudian peduli? Lebih sedikit lagi barangkali, karena kalau lebih banyak tentu hutan di Sumatera dan Kalimantan ga terus terganti dengan sawit toh… karena sebenarnya kalau kita peduli, kita bisa mengurangi ketergantungan dari sawit. Ada berapa perusahaan yang jujur memaparkan bagaimana proses produksinya berlangsung, bahaya dari produknya terhadap lingkungan dan pribadi? Lebih nihil lagi…

Jadi ide untuk bilang bahwa pilihan di tangan konsumen dan anda bebas memilih itu menurut saya tidak sepenuhnya benar. Kapitalis ‘menjual’ kebebasan itu untuk semata-mata untuk kepentingan keuntungan mereka. Di tengah kebebasan memilih, ada berapa banyak di antara kita yang justru malah menjadi ‘cemas’ apakah pilihan saya sudah benar? Apa kata orang lain tentang saya?

Lalu sebagian dari kita akan bilang, ‘kenapa juga lu mesti peduli sama pendapat orang lain tentang kita?’ apa kamu bisa benar-benar tidak peduli pada pendapat orang lain tentang kamu? Saya kira tidak… selama kamu tidak bebas bersendal jepit dan bercelana pendek juga kaos buntung masuk kantor, sebenarnya kamu tidak sedang bebas memilih…

Kalau Peer Gyn dalam terjemahan bebas bilang, kita ini cuma bawang, yang kalau dibuka satu persatu lapisannya, berakhir dengan kekosongan… tafsiran saya setiap lapisan itu terbentuk dari paparan nilai, norma, konstruksi budaya, politik, sosial yang membuat kita sebagai individu yang utuh… Karena itu meletakkan sepenuhnya pada kebebasan individu untuk memilih tanpa memperbaiki kondisi pilihan yang tersedia adalah mustahil.

Sudah ya, saya mau belanja dulu. Musim dingin berakhir, waktunya melepas jaket dan sweater lalu sadar ga punya kaos — alasan!!!!

CRAP

Catatan Bulan Keempat, and I don’t want to miss a thing #mycheveningjourney

Standar

Can we freeze the time?

Kalau bisa membekukan waktu, ini adalah waktu yang tepat. Biar saya menikmati keriaan hidup di London yang kayak kulkas bersama teman-teman terbaik di sini. Ivana yang ceria, Hossein yang abstrak, dan Jon yang sopan dan baik hati, lalu Fadilah, adik kecil, Agni yang seru abis, lalu Sam pak petani dan penjaga lebah yang berhati matahari. Masih ada Mba Rina, Mike, Amira, Vennes dan temanteman random yang saya kenal di perpustakaan. Oh iya, saya punya keluarga kecil yang saling menenangkan saat rindu rumah melanda, saat essay menggila.

Bulan keempat kemarin penuh diisi cerita tentang essay, semua sibuk mengerjakan essay yang menyita liburan natal dan tahun baru. Sewaktu sesi refleksi kemarin, salah satu yang ditanya, apa yang paling bikin kamu bangga setelah melewati essay yang menyiksa? Saya bilang, bisa menulis 12000 kata dalam Bahasa Inggris, membaca lebih dari 40 buku referensi, berpikir secara terstruktur dan bisa menyelesaikan dua essay seminggu sebelum deadline, adalah keberhasilan… hasilnya? Urusan nanti… saya hanya mau lulus, bukan menjadi yang terbaik… oh well kalau bisa dapat nilai bagus, tentu saja sujud sukur.

Saya merayakan natal bersama keluarga Tobin, makan siang ala keluarga Inggris, dengan santapan khas natal yang enak. Saya merayakan natal bersama keluarga baru di Sutton Community Farm, berdansa, bernyanyi. Saya merayakan tahun baru bersama dua sahabat, Ivana dan Hossein di sebuah pesta para aktivis. Lalu sakit berhari-hari setelahnya.

Lalu tiba musim dingin dengan suhu sampai minus 3, seperti kulkas raksasa yang remotenya Cuma semesta yang punya. Matahari berkhianat karena tak mampu memberikan hangat. Sehari-hari seperti buntelan raksasa, dengan jaket tebal, syal besar dan tiga lapis baju. Oh kejamnya cuaca.

Kalau bisa membekukan waktu, saya minta sekarang saja….

Be Loud For Something Is Right

Standar

There has been a viral movement to asked people to be away from social media for psychological, social and political reasons. Psychological one is to avoid the addiction (one of the reasons), which is I don’t buy it. Everything is about mind trick, if you can control your mind, you won’t be addict to anything, even with cocaine-as my addict friend once told me, well he died eventually years after stopped being an addict. Social reason is to bring back the human nature as a social creature; we supposed to interact with each other, real interaction. Well, I don’t see why being active in social media defined as a-social activities. You do talk with real people; the content you are talking about is real. You make an appointment with friends much easier through social media. If you are away from your beloved one, family and friends, the social media is your tool to keep in touch with them. The important thing is about communication, the content, no matter what tools you are using. Have you ever feel being alone while surrounded by people you know, because you don’t have the same subject to talk about, you don’t feel that you are belong there. Have you ever found that sometimes it is easier to talk to ‘stranger’ in the social media than your best friends, because stranger won’t judge?

And here comes the political reason, the one that really make sense to me. I finished my essay on surveillance state vs freedom of expression and right to privacy. I must say I took a position as anti-surveillance, because we need to bring back and stick to our basic human right which are free to express ourselves and at the same time we have the right to privacy. Surveillance by state has never been to protect us as a citizen; it is about protection of 1 percentage of populations that we called the elites, those who are politician, businessmen, and lobbyist. It is about a protection to the global capitalist, economic interest of the state, the power of the elites and not citizen safety. By knowing that we are being surveillance, people will tend to follow the rule, afraid to become an anomaly that will catch the eye of the state. This is the Snowden effects – one of the effects of course- that people try to avoid social media and the internet for something they think is sensitive, and other reducing their time in social media, the less information that might share or even received from it.

Before I go further, let me say how lucky I am for being Indonesian, the country where you can say anything, about everything! We do have law that trying to limits our freedom of expression, but do Indonesian stops? NO! We go even crazier… if you hurt the people hearts for example the court in Palembang city that just free one of the company that burned our forest, the picture of the judge and his quotation goes viral and everyone condemned him!! We mocked the transportations minister when he forbidden GOJEK-motorcycle taxi in Jakarta without any other good solution for public transportation. Social media- facebook and twitter, do influence people and even the policy.

And I believe the same thing can happen everywhere, well it did anyway in Egypt 2011, in Hongkong and Malaysia for examples. Do we need to be afraid of being surveillance, No! We just need to be aware that there is surveillance on us. But we should not stop something that is right to say, to express and to change. We should not stop to inspire others with our good-doing. We do need to share more and learn more from others. So what if you sick of seeing your friend’s selfie photos all the time, you can just pass it, scroll down or ups. The only thing that bothering me is having friends, who is share nothing but hatred about everything but doing nothing. I don’t stop being ‘friend’ with them, I just un-follow them hahaha.

So please stay LOUD for something is Right to say on the social media! One of these days, you will never know how inspire you are to others, and how you can make changes somehow!

Let me quote Edward Snowden from the book No Place To Hide by Glenn Greenwald

‘I do not want to live in a world where we have no privacy and no freedom, where the unique value of the internet is snuffed out … I want to spark a worldwide debate about privacy, internet freedom, and the dangers of state surveillance. I am not afraid of what will happen to me. I’ve accepted my life will likely be over from my doing this…I only have one fear in doing all of this, that people will see these documents and shrug, that they’ll say, “we assumed this was happening and don’t care.” The only thing I’m worried about is that I’ll do all this to my life for nothing’

Well I don’t want to waste his efforts for our freedom by being ignorance. I will keep myself LOUD… so loud for something that I believe is something right to say and do.

edward_snowden

For those you interested to learn more about surveillance state, I put the bibliography from the essay. They are really fine books to read!

Sennelart, M. (eds) (2007) Michael Foucault: Security, Territory, Population (Lectures at the College de France). Hampshire: Palgrave Macmilan

Loader, B. D. and Thomas, D. (eds.) (2000) Cybercrime: Law enforcement, security and surveillance in the information age. New York, NY: Taylor & Francis

Coleman, G. E. (2012) Coding freedom: The ethics and aesthetics of hacking: The ethics and aesthetics of hacking. United States: Princeton University Press

O’Harrow, R. (2006) No place to hide. United States: Simon & Schuster

Chomsky, N. (2002) Media control – post-9/11 edition: The spectacular achievements of propaganda. 2nd ed. New York: Seven Stories Press,U.S.

Lyon, D. (2001) Surveillance society: Monitoring everyday life. United Kingdom: Open University Press

Goold, B. J. and Neyland, D. (eds.) (2009) New directions in surveillance and privacy. United Kingdom: Willan Publishing

Andrejevic, M. (2007) ISpy: Surveillance and power in the interactive era (CultureAmerica). Lawrence, KS: University Press of Kansas

Bloy, D. (2007) Media law (SAGE Course companions). London: Sage Publications

Brooke, H. (2011) The silent state: Secrets, surveillance and the myth of British democracy. Heather Brooke. London: Windmill Books

Brin, D. (1998) The transparent society: Will Technology force us to choose between privacy and freedom. Reading, MA: Perseus Books Group

Crook, T. (2009) Comparative media law and ethics. United Kingdom: Taylor & Francis

Krause, K. and Williams, M. C. (eds.) (1997) Critical security studies: Concepts and cases: Concepts and strategies. London: UCL Press

Nicol, A. G. L., Sharland, A., QC, A. N. and QC, G. M. (2009) Media law and human rights. 2nd edn. New York: Oxford University Press

Greenwald, G. (2014) No place to hide: Edward Snowden, the NSA, and the surveillance state. London: Hamish Hamilton

Jordan, T. (2013) Hacking: Digital media and technological determinism. Cambridge, UK: Polity Press