Monthly Archives: Juni 2013

Cerita Dari Kenaikan BBM

Standar

Hmm yank, aku ga bisa sering-sering ketemu kamu. #bbm kan naik.

Sebaiknya kita putus. Kamu tinggal di utara, aku di selatan. Hubungan kita berat di ongkos. #bbm

Bikin perjanjian yuk. Aku bayar tiket bioskop, kamu bayar makan yaa. #bbm

Mulai sekarang jangan kebanyakan nongkrong di cafe ah. Biaya hidupmu terlalu mahal tau. #bbm

Mantap. Aku mau berhenti dari kantor ini. Apaan, #bbm naik uang makan tetap sama.

Baru ada kenaikan gaji awal tahun krn inflasi. Masa kita mesti menaikan lagi gaji karyawan krn #bbm. Masih tengah tahun belum ada untung.

Ongkos angkot naik, penumpang jumlahnya terus berkurang. Lalu bagaimana kita bertahan kang? Kata supir pada kenek. #bbm

Jangan dinaikkan harganya, kurangi saja jumlahnya. Kata ibu warteg menuang sayur pakai sendok teh. #bbm

Ga usah ngayal sahur pertama pakai daging ya. Mulai ramadhan ini, kita belajar jadi vegetarian. #bbm

Gaji bulan ini sisanya berapa untuk ditabung? Listrik, transport, makan sudah pasti dinaikan 10-20%. #bbm

#bbm naik, semua serba naik. Pusing aku- kata lelaki sambil membuka bungkus rokok dji samsoe -nya.

Berapa lagi kusiapkan bulan ini? #bbm naik, pajak tetap harus dibayar, cicilan mobil dan maintenance.-kata dia di belakang setir honda brio.

Mak, ongkos tambahin ngapa? Pan angkot naek| udah kaga ada duit lagi gue. Udeh bolos aje hari ini, bilang ame guru lu kl lu sakit! #bbm

Masa becak ikutan naik bang?| situ pikir saya makan pake kaki? #eh #bbm

Cerita Purnama

Standar

Purnama dan aku menjadi serigala

Purnama, indomie kornet dan kamu… Sempurna

Sejak purnama pertama, aku yakin akan menikmati purnama seterusnya bersamamu.

Purnama menghilang, bulu serigalaku gagal megar.

Purnama sempurna, rahwana sedang diet.

Kecelakaan beruntun terjadi karena para pengemudi terpukau purnama.

“Aku cuti maling malam ini,”kata lelaki di atas genteng rumahku sambil menatap purnama

Bagaimana bisa kau jatuh cinta pada purnama yang terang dari hasil mencuri sinar matahari?

Lalu kau berharap purnama tak pergi dan melupakan mentari pagi. Selamanya kau berharap malam tak beranjak.

Ambilkan aku kipas angin, mau kuusir awan penghalau rembulan.

Dolanan di bawah sinar purnama. Anak itu mengangkut TV dan PS ke teras rumah.

Image

People I Want To Meet Before I Die

Standar

 

  1. Benedict Cumberbatch; because he deserved Oscar! He’s remarkable actor in every movie he played. And he’s so sexy.
  2. Salman Rushdie; for better and worse, he’s an amazing author
  3. Haruki Murakami; my biggest inspiration in writing. His absurdness are too real for me
  4. Simon Sebag Montefiore; his Jerussalem has make me fall in love even more to Saladin and his Stalin, damn… he makes me fall in love to the evil!
  5. Khaled Khoseini; just want to ask him… why he always made me cry on his book!
  6. Tariq Ali: well I met him once and got his signature but I want to sit next to him and TALK!

And people that might get hurt from what I said and done in the past, will you forgive me?!

 

Place I Want To Visit Before I Die

  1. Crussade War: from England – Jerussalem, a night in Damaskus at Saladin Grave!
  2. China: where my ancestor came 😉
  3. Mekong Trip: Cambodia, Vietnam, Laos, Myanmar.
  4. To the east of Indonesia; NTB, NTT, Maluku, Papua.

 

Things I Want To Do Before I Die

  1. Skydiving
  2. Mountain climbing to Rinjani and Kerinci
  3. Cycling Jakarta – Bandung, Jakarta – Bali
  4. Having a baby…. Or babies! 😉

Things I Wanna Be Before I Die : Be a better novelist

Thing I wanna have on my dying day is YOU….. and only with you to have all above.

Beauty and Brain

Standar

Brain is the new sexy, said Irene Adler from Scandal of Belgravia – Sherlock Holmes

Brain and Beauty that describe the Pageant Winner – said the organizer.

Brain dan Beauty itu susah disatukan, kalau pun ada jumlahnya sedikit – kata teman saya

“Jangan kebanyakan di fitness centre, otot tambah gede tapi otak tambah kecil loh nanti,”kata saya pada Prima adik saya beberapa tahun lalu

No Offense please… but please do think about it…

Sebagian dari kita akan sibuk terus menerus mengasah isi kepala, seperti Sherlock Holmes bilang, Otak adalah bagian terpenting dari tubuhnya, karena itu dia rela ga makan dan ga keluar rumah Cuma untuk berpikir. Melatih sel-sel darah untuk mempompa oksigen dan darah segar ke otak lebih banyak ketika perut lapar, karena saat kenyang sel darah sibuk membantu pencernaan bekerja. Itulah kenapa puasa juga memberikan manfaat bagi kemampuan daya tangkap.

Ketika sibuk mengurus Beauty, apa ada waktu berpikir bahwa beauty is costly, time consuming and… I don’t know whatelse.

Then in the end you just have to choose, which one you go first, your beauty or your brain. Both? You won’t have much time for both.

Kalau pekerjaanmu bertumpu pada beauty seperti model, aktris dan actor… your beauty should come first. Here in Indonesia, if you are not beautiful on screen… yak…. You’ll be dismissing …. Anyhow, if the beauty is your investment, then you are in the right track to spend it on your body and face not on your brain… let your agent does that 😉

Again no offense… they are some people who can combine Beauty and Brain, like my ex-boyfriend – the Phd one and my other friends… but yes they are really rare hahaha…

But I stick with Irene Adler – Brain is the new sexy…. If I can add… Brain is the new Beauty…

Cincin Kawin

Standar

Seorang teman bule bertanya pada saya kenapa tak banyak pria dan wanita yang menggunakan cincin kawin di jemarinya. Saya menjawab sekenanya, berdasarkan ajaran agama saya, lelaki tidak diperkenankan menggunakan perhiasan dari emas. Barangkali itu jadi alasan utamanya.

Dia sepertinya tidak puas dengan jawaban saya, karena menurut dia sebagian yang ajarannya berbeda dengan saya pun tidak menggunakan cincin kawin. Lalu saya balik tanya,”kenapa sih ribet banget sama cincin kawin? Apa artinya sebuah cincin kawin? Kenapa harus dipakai?”

Wajahnya memerah,”ini symbol kesetiaan!”

AHA!

Saya lalu bertanya random pada sahabat saya, apakah cincin kawinnya dipakai? Begini jawabannya

  1. Dipake sejak gue nikah sampai sekarang engga pernah lepas kok
  2. Ngga. Karena waktu nikah emang engga pakai cincin kawin.
  3. Dipake. Nikah adalah hal tergila yang gue lakukan seumur hidup dan ini adalah putusan yang paling bener.

Apakah cincin kawin melingkar di jari, melingkari juga napsu yang bergemuruh di dada? Apa cincin kawin menjauhkan diri dari segala godaan?

Tidak tentu saja.

Beberapa kawan saya justru tertarik dengan mereka yang tanpa menyebut status, tentu dengan melirik jemari bercincin sudah tahu dia menikah. Apa meredam rasa? Tidak. Mereka yang sudah terikat dilihatnya justru lebih menantang, resiko besar sekalipun kecil. Kalau bisa berpasangan dengan yang sudah menikah, jelas-jelas tak perlu takut pada tuntutan komitmen.

“Kalau yang bercincin saja bisa tidak setia, lalu bagaimana dengan yang tidak?”

Tidak ada yang bisa memastikan soal rasa, tidak juga surat nikah apalagi Cuma cincin kawin yang bisa dilepas dan disimpan di kantong, pulang ke rumah pakai lagi. Aha!

Naïf ah kalau cinta dan setia cuma dilambangkan oleh cincin kawin.

Cerita dari pojok starbucks citos

Standar

Satpam

Dia memilih lokasi berdiri dengan sikap siaga di belakang pilar besar, sedikit jauh dari sinar matahari yang jatuh hanya sekitar 5 cm dari tumit sepatunya. Mencoba awas, menangkap pandangan kiri dan kanan. Selain berjaga-jaga, tugasnya berat…. Menghapal setiap sudut mal ini. Dia sigap menjawab pertanyaan paling sederhana dan paling sering terjadi “toilet sebelah mana ya pak?” lalu dia akan menghadap ke kanan dan tangannya menunjukkan lokasi dengan akurat. Sesekali mengusap wajah karena berdiri lebih dari satu jam takkan menyenangkan pun keringat menetes karena topi biru putihnya itu tak memberikan kesempatan bagi kulit kepala bernapas.

 

Lelaki bule 1

“Saya minta cheese bangle dong.”

“Habis mba.”

“ Iya, saya juga cari. Ga semua starbucks jual cheese bangle ternyata.” Kata perempuan di depan saya. Dia meninggalkan saya untuk bertemu seorang lelaki bule dengan busana hitam putih seperti seorang magang di tempat baru.

Mereka bercakap serius sekali dari meja seberang saya, dari gerak tubuh dan laptop yang dibuka perempuan itu, rasanya ini sebuah percakapan bisnis. Hampir satu jam mereka bicara serius, saatnya berpisah. Keluar pintu dan bersalaman, saling mengucap selamat tinggal. Semoga rapatnya sukses ya, batinku.

Lima menit lelaki itu berdiri di depan pintu starbucks, ah menanti sebuah telepon masuk. Kedua ujung bibirnya mendadak tertarik lebar ke kiri dan kanan, deretan gigi putih memajang melengkapi wajahnya. Dia berlalu…. Selanjutnya makan siang penuh cinta….  pasti… cinta selalu mudah terbaca di wajah pemiliknya.

 

Batik, batik, batik….

Semua berbatik. Kalau saja Unesco tak menjadikan batik sebagai warisan dunia milik Indonesia, apa kita dengan sukarela berbatik? Kenapa harus pakai batik di Jumat? Kenapa bukan Senin, Selasa, Rabu dan Kamis?

 

Pelayan

Senang karena menjelang siang pelanggan terus bertambah. Apa orang-orang ini kenyang dengan roti? Tapi pelanggan banyak berarti sampah yang tertinggal bukan kepalang banyaknya. Harap maklum, kita tak terbiasa mengangkut sampah bekas minum sendiri atau bungkus rokok ke tempat sampah yang tersedia di depan mata.

Karena kita terbiasa membeli segelas kopi 25 ribu bersama pelayanannya termasuk untuk melap bangku yang basah karena kondensasi dan membuangkan bungkus rokok serta gelas plastic bekas minum. Jangan lupa untuk menyapu lantai yang kotor karena abu rokok dan tisu. Karena kita terbiasa memperlakukan orang lain sebagai pelayan dengan uang yang kita punya.

 

Perempuan di pojokkan

Es Coklat ukuran sedang dan croissant almond menemaninya sejak jam 10 siang tadi, sendirian.  Laptop di depan mata dan headphone di balik rambut panjangnya, Cuma terlihat bunderan penutup kuping yang berwarna putih oranye. Sesekali serius, sesekali Cuma diam menatap orang-orang yang lalu lalang. Tidak ada yang bisa menebak isi kepala seseorang, tapi galau itu mudah terbaca dari kerut kening dan air muka yang tak ceria.

Perempuan itu… aku

menulis untuk hidup, hidup untuk menulis

Standar

saya sedang menulis novel kedua ketika menulis ini. jeda sejenak untuk semua gangguan yang terus menghambat saya meneruskan cerita.

kegalauan saya untuk pindah kerja bukan sekali dua kali tapi rasanya ini lebih rumit ketimbang masa 10 tahun lalu. ketika itu saya memilih keluar dari zona nyaman dan mencoba peruntungan dari tempat lain.

enam bulan kemudian, hari ini tepatnya, saya sudah punya rencana lain. bukan rencana baru tapi selalu tertunda karena sekitar saya lalu berpendapat,”gila… darimana lu bisa hidup dari sekedar menulis? nyokap masih bergantung sama lu, tiap bulan lu masih harus punya penghasilan tetap.” dan seterusnya.

Pramoedya kata guru sekaligus teman saya mas tosca, di masanya tak ada pekerjaan lain dilakukan selain membakar sampah dan menulis. cerita lain dari teman tetang penulis lainnya, 4 jam sehari dia menulis, 2 jam membaca dan 2 jam lainnya bersosialisasi bertemu dengan teman-teman.

as you re growing older, your chain of friends loosened… then you’ll need to redefine meaning of socialization.

sejauh ini yang gue kerjakan adalah 8 jam kerja rutin, 2 jam pagi untuk menulis, 2 jam malam untuk riset, bahkan menonton sherlock holmes berkali-kali adalah bagian dari riset. dan itu ga cukup! sungguh ga cukup. karena sampai sekarnag akhirnya saya ga cukup waktu untuk berkunjung satu hari penuh ke toko kopi di banceuy, pergi bertemu photographer untuk wawancara atau sekedar seharian duduk di kafe menonton orang beraktivitas dan nguping untuk dapat inspirasi. then i know… i need more time for my writing process.

i found my passion in writing, i have to hold my passion all these times… for many reason, im not being me, chasing my dream and following my passion…. in the name of monthly salary…. im just another ordinary worker…

penerbit saya bilang “kalau belum menyerahkan 8 jam sehari untuk menulis, jangan pernah berharap menulis bisa menghidupi kita. karena kita tidak pernah memperlakukannya sebagai pekerjaan.

salman rushdie bilang “menulis bukan urusan mood, tapi konsentrasi.” konsentrasi terbagi banyak hal, mood saya terganggu tugas lala lili lolo, ya da ya da bla bla….

oh i like what i do right now… finding a wonderful person as we call them social entrepreneur…. but if once again, have to give up my writing passion and time to do so… i dunno… im thinking about quiting…

with all the consequency that i have to face…

i rather spend my times on my corner of starbucks – though i hate their coffee – and watch people pass me by and guessing what’s on their head, than trap in the office hours once again.

ah….

are you ready to lose half of your life?

Standar

i know im moving to bandung to be close to my love one and learn to accept the fact that i might live there after we get marriage. i thought away from jakarta and meet new friends will sure me that marriage is the right thing to do. but first thing i heard from a friend’s husband was a very annoying statement

“Once you got marriage you are losing half of your social life”

ah….

i heard that before surely… but i thought meeting with new friends and new life in bandung might change a bit my perseption of marriage… but it turn that i was wrong….

marriage… is for who those need one.. ayu utami once said… and she is right…

if you love someone, is it always should be end up with ring on your hand?