Monthly Archives: Februari 2016

when life is screwed me up…

Standar

It has been a worse week of my life here in London. But let’s exclude the study things because it is the consequences of being here, to study, that the last time I done it was 15 years ago. But life itself was so crazy on me these days.

I had a big fight with Akang, the biggest one since we have been together for 4 years. But it was for a pretty cool reason, we fought over our difference values and idealism in life. It was awesome! While other fight over the in secure feeling of relationship, we are politically mature one… aha! But still, fighting with your love one is never easy, i was crying for three days.. and not even talking to my best friend about it.. im cool now.. life is about moving on..

Today, I lost £26 for the ticket to Warwick. Everyone has been encourage me to leave the library and have fun and I havent really enjoying my life here, so yeah.. got myself the ticket, bought it with my friend’s card and dream about a relaxing day in other city, hoping for an  adventure, begging my supervisor not to talk too much on our meeting and it was about 15 mins instead of 30 mins. I was running to the station with big and heavy backpack. There, I was so excited and the excitement suddenly turn to sadness. I couldnt collect my ticket without my friend’s card… no excuse and there goes my dream of one day vacation cost £26…

Another shitty things that happened was an organization declined their offer for me to do voluntary work for them because i dont have a work permit…. very funny!! I am a student and allow to work less than 20 hours per week… oh well nevermind not too interested to work with them anyway!!

Although Hossein my friend said I dont need to always cheers and smile when I feel bad, I do have reasons for it. A chocolate that I bought ealier was nice, cammomile tea is relaxing, and my supervisor like my proposal! Wooohhoo… all those hard work, late hours and readings really bring good things… and the fact that i might got the opportunity to meet Hugh Grant in person, is also made me smile brightly today…

So Jimmy my best friend in Miami was always right, every day is a special on its own way… I am back to the library, a place where I feel secure and actually live with friends around.. im back to my reading…

It is for you my friend, you always busy to even ask how my days was. Im telling you the stories now… miss talking you…

Ketika Pergi Adalah Jalan Paling Gampang Buat ‘Bahagia’

Standar

Bahagia adalah definisi yang dibuat sendiri, sangat subjektif. Definisikan dulu bahagiamu. Buat saya, berada di tengah kawan yang bisa membuat saya terpingkal-pingkal, membagi tangisnya, atau membuatnya tersenyum adalah bahagia. Lalu temukan lagi arti ‘kawan’ buatmu. Tentu saja usia pertemanan ga menjamin mereka akan membuatmu bahagia atau sebaliknya. Teman SD mu sudah tak punya bahan percakapan denganmu karena pengalaman hidup, lingkaran teman, pekerjaan yang berbeda. Lalu isi kepalamu juga belum tentu lagi sama dengan mereka yang dianggap teman. Waktu, pengalaman hidup, idealism, semua mengubah keadaan. Saya merasa teralienasi dari lingkaran pertemanan, dari nilai umum dan ekspektasi sosial di lingkungan yang selama ini saya merasa nyaman di dalamnya.

Bahwa menjadi pendukung hak asasi manusia dalam isu LGBT dianggap ‘salah,’ menjadi feminis adalah ‘radikal,’ terlalu ‘ekstrim’ ketika menjadi aktivis lingkungan, ‘kiri’ dalam pandangan politik, terlalu berani mengungkap pendapat, lalu saya ‘tersingkir’ dalam hal yang dianggap ‘mayoritas’ di negeri ini dan terlalu ‘intimidatif’ bagi sebagian kawan.

Paling mudah adalah tidak kembali ke rumah seperti saran sahabat saya di Jerman. Kata kawan di sini, you done enough for everyone, find your own happiness, stay here. Andai setiap keputusan bisa semudah menjentikan jemari ya…

Menjadi diri sendiri di negeri yang beranjak mundur menjadi tradisional, konservatif, dan ‘dikuasai’ mereka yang cuma melihat hitam dan putih dari sebuah kitab suci, emang berat. Tapi pergi adalah hal yang terlalu mudah buat saya, dan bukan itu yang saya cari. Hidup ga pernah mudah buat saya, ga pernah. Apa yang saya dapat hari ini, bukan sebuah kebetulan, tapi perjuangan dan ga mungkin berhenti di sini. Hutang saya pada mereka yang mendukung saya sampai di sini terlalu banyak untuk ditinggal pergi begitu saja. Dan ngebayangin bahwa ada jutaan perempuan yang segila saya di rumah adalah semangat untuk kembali. Kalau semua perempuan gila pergi dari rumah besar bernama Indonesia, lalu siapa yang akan cerewet pada negeri ini. Cerewet dari jauh itu beda loh dengan mengalami sendiri, berdiri bersama teman-teman yang peduli pada perbaikan. Saya tidak sedang menjadi pahlawan, sama sekali tidak. Saya Cuma satu perempuan gila dari banyak perempuan yang masih berjuang dan konsisten berjuang untuk persamaan hak perempuan dan lelaki.

Buat saya yang besar di keluarga poligami, tiga ibu, 12 saudara sebapak, pernah hidup dengan 50 ribu satu bulan, lima kawan kecil mati karena over dosis, dua di antaranya mati di penjara karena digebukin petugas, kawan perempuan sekampung menjual diri untuk hidup ‘lebih baik,’ saya tahu betul apa yang saya bicarakan dan perjuangkan. Di sini, di London, saya belajar teori, perjuangan hidup sebenarnya ada di sana, di rumah bernama Indonesia. Ya tentu saja saya akan pulang, and whatever happens in London, stays in London…

Buruk rupa, pecahkan kacanya

Standar

Tetiba negeri ini diancam ketakutan, setiap keluarga tetiba merasa takut anaknya ‘ketularan’ menjadi lesbian, gay, bi-seksual, transgender. Tetiba kawankawan LGBT yang sudah ada sepanjang sejarah manusia menjadi bulan-bulanan ketakutan mereka, ancaman api neraka kembali dikobarkan. Apa yang salah menjadi manusia yang berbeda? Jawabannya selalu kembali ke agama, bukan kembali pada manusia… jika berdakwah adalah kewajiban, maka dengan derajat yang sama, mestinya kita bisa menempatkan penghormatan pada perbedaan, dan pilihan masing-masing, tidak menyebarkan benci.

Lalu para orang tua diingatkan kembali untuk mengawasi anaknya lebih dari biasanya, dipermasalahkan kembali tentang atribut. Perjuangan menghapus perbedaan pink adalah perempuan dan biru adalah lelaki selama bertahun-tahun tetiba luluh lantak. Anak lelaki harus diperkenalkan pada atribut kelaki-lakian, anak perempuan pada ke feminitas – begitu ga sih istilahnya? Itu sama dengan anak lelaki ga boleh cengeng, ga boleh menangis, karena itu penanda kelemahan, yang Cuma nempel di anak perempuan. Lagi-lagi perjuangan feminis untuk menghapus perbedaan manusia berdasarkan kelamin ini hancur… cur… cur… karena orang tua takut jika anaknya memilih berbeda… lalu seolah-olah karena entahlah orang penting mana yang anaknya memilih LGBT lalu merasa mereka telah salah mengasuh dan tidak bisa menerima hal itu, lalu menyalahkan semua kawan LGBT. Seperti kalau kamu merasa buruk rupa, lalu yang dipecahkan kacanya.

Begini ya, soal atribut, tentu saja saya akan bercerita tentang pengalaman pribadi karena ini blog pribadi saya toh 🙂

“Anak pertama sih maunya anak laki, biar bisa jaga keluarga, bawa nama keluarga. Tapi ya kalau Tuhan kasihnya anak perempuan, ya gimana lagi, terima aja.”

Pernah dengar kalimat di atas? Entah bagaimana saya bisa tahu kalau papi saya juga tidak berharap anak pertamanya adalah saya, perempuan. Mau tahu rasanya? Sakit dan sedih, lalu mencoba mengerti itulah alasan kenapa papi mendidik saya seperti anak lelaki yang diharapkannya. Secara kebetulan juga, mami saya tomboy banget, akhirnya saya besar dengan segala atribut anak lelaki. Saya memilih main bola ketimbang loncat karet dan boneka atau masak-masakan. Saya babak belur jatuh dari pohon dan sepeda waktu bermain dengan teman-teman kecil yang semuanya lelaki. Saya diajari ganti ban mobil, genteng, ngoprek mobil dan motor. Tentu saja rok bukan pilihan utama, mami sampai ngejar-ngejar saya yang lari karena ga mau pakai rok ke sekolah.

Seperti tahu anaknya kecewa karena tidak diinginkan, mami selalu bilang, jadi anak perempuan harus kuat seperti anak lelaki, harus pintar dan tunjukin bahwa anak perempuan mampu mandiri dan tidak bergantung pada siapa pun.

Kalimat itu nyangkut sampai hari ini, saya tidak Cuma memaafkan papi tapi berterima kasih padanya karena membuat saya tumbuh jadi anak yang keras pada diri sendiri dan mandiri. Ketika papi sakit, pada om saya dia bilang,’ga ada anak lelaki saya yang sayang dan merawat saya sebaik nita dan lina. Di ujung hari, anak-anak perempuan saya yang ternyata membuat saya bahagia.’ Lalu jempolnya mengacung pada saya yang menghamburkan diri memeluknya…

So, kembali ke topik, meski saya dibesarkan ala anak lelaki, tidak menjadikan saya memilih menjadi anak lelaki. Saya tetap perempuan yang sampai hari ini hanya tertarik pada lelaki. Pun sekali lagi, kalau ada anak perempuan yang kemudian memilih mencintai perempuan lain atau memilih menjadi anak lelaki, terus kenapa? Apakah dia akan berhenti menjadi manusia karenanya? Apakah kamu bukan lagi orang tuanya dan dia bukan lagi anakmu? Mana lebih penting, urusan selangkangannya atau cara dia menjadi manusia yang berguna bagi sekeliling, dan bagimu?

Suatu hari saya pernah tanya,’kalau anak mami ini ternyata lesbian gimana mam?’ dia melotot kaget, terus ketawa, ‘ya sudah mau gimana lagi, hidupmu toh,’ biasanya akan berlanjut, ini hidupmu, tanggungjawabmu. Bertanggungjawab dan berbahagialah dengan pilihanmu, Cuma itu yang mami mau.’

Setelah Allah, adalah Ibumu… kirakira begitu yang saya tahu. Dan mami saya adalah yang pertama tahu segala hal yang terjadi pada saya. Menjaga hatinya adalah pagar hidup saya.

Anyway, ada banyak hal yang sebaiknya ditakuti, tentang pernikahan dini anak-anak bau kencur yang dipaksa melayani lelaki dewasa, pada kasus perkosaan anak yang dilakukan orang-orang terdekat, bukan pada atributnya, bukan soal pink dan biru, boneka dan mobil…

I know what you might think, tahu apa saya soal pengasuhan anak, punya aja belum… ahai.. punya pengalaman luar biasa dari orang tua yang hebat sudah cukup membuat saya berkaca, mau apa saya dengan anak-anak saya nanti… lagian sejak jam pertama zi lahir, saya adalah perempuan dewasa yang dilihat dan menyentuhnya, dia lebih dari sekedar ponakan, dia adalah anak saya…

What an exhausting month!! #cheveningjourney

Standar

Happy 5 monthaversary… not really into it, not aim to think that I am about to come home in 7 months! The second term is very exhausting. I don’t have time to go to the farm like I used to, and that is the only escaping place I have here. I don’t go out that often anymore, couldn’t go to the central London to see the crowd, oh well not really regret it, though.

Feedback for my first essay is a disaster, brought me down for days. But I just have to move on and do the best I could for the next one and that would mean that I have to spend more times at the library than I really am the last term. Paul Stocks our English teacher was right when he said a master degree is like pregnancy. The first three months is nothing, you don’t realize anything but the second term is really demanding… If this is what the pregnancy look like, I want the baby to come early like in May or June, I want everything to is done as soon as possible…. I am losing my breath here.

The dissertation is on its way! 4000 literature review, done! Next one is 2000 words for research proposal and should hand it on Friday! Meanwhile reading week means to read the module which I haven’t done it yet and tomorrow is Wednesday already…. Someone, please stop the clock!!! Rrrrrrr……

I am trying not complaint about it and with this smile; no one will ever believe that I am so stress! And not going to hide it anyhow! But I take it as a huge challenge in life, like I always do and when everything is over, I am going to miss this ride more than ever! Consider I am so lucky to have my best friends with me, who always giving me hug to reduce my worries, making me smile and always there next to me. Huge thanks for my three favorite persons while here in London; Ivana, Hossein and Jon… I won’t be able to get through my days without you guys. I love you, really do!!

For the last 5 months, I change a lot! Especially the way I think and see the world, the way I talk and argue with people and how to handle the hard-time, to control the emotion. It’s not about the grade, although yes it does somehow, but most important thing is the learning process and what I learned so far. Funny fact that being nice and caring is sometimes annoying for others especially they who live in the culture where no one cares for others and it goes to the misread the message of your kindness. But it’s just my nature, a caring person 🙂 and will remind the same for the next 7 months…. Oh no… I miss everyone already 😦

Sebelum Menyalahkan Kemiskinan Sebagai Kegagalan Individual

Standar

Pernah dengar kalimat ini, ‘Hidup ga semudah cangkeumnya Mario Teguh,’?…. Temen saya sering banget ngomong gini dan saya cuma senyum. Betul banget, hidup ini ga semudah omongan motivator yang mendorongmu untuk terus berusaha dan berusaha, tenggelamkan dirimu pada tuntutan kapitalisme, bahwa hidup ini hitungannya materi, bahagia kalau bisa ikutin passionmu dan hasilnya… tetap dihitung materi. Kalau gagal, stress, itu gagalmu, gagalmu memenuhi tuntutan ‘sosial’… kamu tidak pernah jadi kamu sepenuhnya… Dan mereka yang miskin adalah karena tidak berusaha maksimal, menunggu bantuan dari langit.

Kalau kemiskinan adalah kegagalan individu mengangkat harkat derajatnya seperti tuntutan sosial, lalu dimana peran pemerintah? Kalau kemiskinan bukan lagi isu sosial, lalu buat apa kita bayar pajak untuk pelayanan sosial – pendidikan dan kesehatan dan sebagainya? Kalau kemiskinan tanggungjawab pribadi, buat apa kita memberikan suara untuk para wakil rakyat yang nyaris tidak pernah mewakili suara kita itu? Lalu kita duduk manis sebagai penonton bagimana pemerintah yang kita kasih mandate itu bekerja, lalu ketika kita jatuh miskin adalah kesalahan pribadi? mari berpikir ulang…

Jutaan copy buku tentang bagaimana orang sukses terseok-seok terlebih dulu sebelum mereka naik derajat, orang kaya… coba tengok lagi, apa yang mendukung mereka, latar belakangnya, kiri dan kanan yang mendukung. Apakah 28,51 juta orang Indonesia yang dikategorikan miskin oleh BPS, September 2015, itu punya ‘keistimewaan’ atau kalau bukan disebut ‘keberuntungan’ yang sama dengan 1 persen elit yang menguasai politik dan ekonomi di negeri?

Iyap betul sekali, jangan menunggu bulan jatuh dari pemerintah untuk membantu kemiskinan teratasi. Iyap betul, kita harus berkontribusi pada negeri ini untuk mengatasi kemiskinan, TAPI… jangan hilangkan tanggungjawab pemerintah dari itu… tetap toyor jidat para wakil rakyat yang Cuma bisa hambur hambur pajak kita. Jitak pemerintah kalau angka 28,51 juta itu tidak berkurang tahun ini. Jangan diam, lalu menatap kagum pada Mario Teguh, Rene Suhardono, atau sebut nama motivator lainnya… mereka adalah orang-orang yang beruntung punya peluang untuk maju, mereka bukan 28,51 juta orang itu kawan…

Satu yang perlu samasama kita ingat, orang miskin bekerja lebih berat dari kita. 25 jam kalau perlu hanya untuk dapat tidak lebih dari 50 ribu rupiah perhari untuk makan tiga sampai lima mulut, bahkan lebih. Jangan bilang orang miskin ga boleh punya anak, oh iya kalau KB gratis bisa dilakukan, mungkin, kalau saja para pemuka agama ga terus mendoktrin banyak anak, banyak rezeki dan Allah bakal memberikan jalan.

Selama ada ketidakadilan masih terjadi di sekeliling kita, itu isu sosial kawan, tanggungjawab kita, terutama pemerintah… after all, we vote, we pay tax… they better do their best!! Karena tanggungjawab masalah sosial lagilagi bukan di cangkeumnya Mario Teguh.

kemiskinan01

Mari Bicara Beyonce ‘Bey’ Knowles-oleholeh kuliah Visual Analysis

Standar

Sebelum terkagum-kagum pada aksi Bey di Super Bowl Halftime yang mencuri perhatian dunia karena menyampaikan ‘pernyataan politik’nya tentang ‘Black Live Matters,’ lewat single terbarunya #Formation, saya tergelitik menengok kembali foto Bey di google pic.

Presentation1

Lihat foto di atas deh… Saya kok tidak lihat perempuan berkulit hitam dengan rambut Afro nya yang keren seperti yang dimiliki anaknya dari Jay Z, seperti dalam liriknya Formation

I like my baby hair with baby hair and afros
I like my negro nose with Jackson Five nostrils

Yang saya lihat Bey yang pirang dan lurus, seperti konsep ‘cantik’ milik perempuan berkulit putih yang dominan di semua produk kecantikan. Dia bahkan ‘menghilangkan’ ciri khas perempuan berkulit hitam.

Lalu Bey mengklaim dirinya sebagai feminis, apakah dalam lagunya sudah bebas dari kalimat ‘menyenangkan lelaki?’. Mari lihat foto Bey lainnya

Presentation2

Bey tahu banget, bagian mana dari tubuhnya yang paling ‘menjual’ selain suara dan musiknya. Bey surely feels good about herself? Lalu mengonstruksi perempuan terutama penggemarnya untuk ‘menjadi dia,’ inilah representasi perempuan molek yang sukses sebagai penyanyi. Yang jelas bokong bagian yang merepresentasi unsur ‘seksual’.

Buat saya Bey adalah komoditi kapitalis secara personal, dan dia juga menghasilkan produk yang membuat namanya melambung, kekayaan berlimpah, sesuatu yang tidak mewakili bangsa kulit hitam pada umumnya. Itu bagaimana saya ‘decoding’ menangkap pesan dari gambar video Formation dan foto Beyonce dalam koleksi google image.

Tim produksi di belakang Bey tahu persis tuh, Formation bakal boom persis saat kampanye Black Live Matters muncul. Momentum…. Aksi dan pernyataan politik itu memang butuh momentum, yang kadang jarang banget didapat. Bey, beruntung! Menjual citra sebagai feminis dan aktivis di tengah kampanye emang pas banget deh! Selebihnya… hipokrit!

Catatan dari kuliah hari ini:

  • Visual mengontruksi rasa kita pada realitas.
  • Visual menawarkan cara lain melihat isu sosial
  • Terpenting, visual membawa kita pada ideology, orasi-retorika, dan power!!

I Think, Therefore I am

Standar

Are we really a rational-being with a freedom of thinking? We cannot denial the subject on every political moment and participation. But only those who have the passion of the politic that can become political, there is always motivation behind your action. It is a psychological term of seeing ‘self’ as a subject of political action that involve emotion and affect to make a person political. Confusing? Wait until you get my story

Each one of us, probably has a moment of an event that bring sensational, bodily reaction of shivering for example that bring the consequences in your political point of view. As I defined myself as a feminist and environmentalist, I do have my moment that really changed me on to something that I am now.

I live in polygamous family, 3 moms, 12 siblings. First I thought I should not take this story to public domain area, but I think it’s a very good example how this event can change me to something that I am today, a feminist, an independent woman, I hate polygamy and little trust on marriage institution. It is not something need to be hide, its something that people, especially girls need to know.

As polygamous discussion only in the area how to share love justly between husband and wife-which there is no such of it!!, it tend to forgot how the effect of polygamous to the children! how we were jealous to each other, if you cannot harshly say ‘hate’. It is expensive to raise one kid, imagine if you have to share one pocket of daddy to your other 12 siblings, which one of us should get better education, who deserve one?

I was the first kid among 12 others who got bachelor degree, honestly it was not from my dad pocket on the last two years of my degree, I got full scholarship to finish it. but still jealousy arose. My mom’s children are 3, and we don’t talk to other dad’s children that are other 10. As we grow up and dad passed away, we are living in our own world now… we don’t talk to each other, who care!

What is left for me is how ridiculous the term of polygamy is, how women need to educate themselves in better way, make yourself independent!

It changes my life forever, I see different way of marriage life, and love is all about… especially what power do women have to her own life, see yourself as a person, a subject of rational being. Although for what we learn today, I can’t say that I representing women in general. People react different way on a moment of their life. Other children from polygamous family might feel nothing is wrong with it, and I have to respect their point of view.

The question will be, so what if you already feel the anger of un-justify life, powerless woman in marriage… I don’t know, because it turn out that making political movement is not as simple as it looks. It’s really depend, who talk what and where. Naively to say, I can only write on my own blog at the moment, hoping you are the reader can translate it in the same feeling as I have, an empathy… and when you do, there will be two of us, or maybe three or four, can join the force of educating woman, against polygamy. There are already the same movement of course, lets make it big to bring bigger impact.