Kekuatan Masa Depan Adanya di Kamu. Partisipasi, Keterlibatan, Kolaborasi adalah Kunci Mengubah Politik. Review #newpower by Henry Timms dan Jeremy Heimans

Standar
Kekuatan Masa Depan Adanya di Kamu. Partisipasi, Keterlibatan, Kolaborasi adalah Kunci Mengubah Politik. Review #newpower by Henry Timms dan Jeremy Heimans

Dengan segala kelemahannya, saya masih percaya pada demokrasi yang menempatkan kekuasaan terbesarnya pada rakyat dan prinsip satu orang satu suara dan tidak ada yang ditinggalkan. Sialnya demokrasi yang berjalan menanggalkan prinsip dasar dan kekuasaan yang kemudian hanya ada pada segelintir orang dalam kelompok elit baik dalam politik, sosial maupun ekonomi. Sial betul!

Itu adalah bentuk kekuatan lama (Old Power) yang terstuktur, tersentralisasi dan dikelola top-down. Setelah pemilu, begitu jauh rakyat bisa mencampuri bagaimana negara ini berjalan. Rakyat hanya jadi domba yang digiring ke sana kemari dan penonton di sebuah konser politik. Jangan heran, jika kemudian tingkat partisipasi politik terus rendah dalam pemilu, tingkat kepercayaan publik terutama generasi muda pada institusi juga rendah termasuk pada media.

Karakter generasi muda yang hidupnya dikelilingi kemajuan teknologi informasi, digital, sudah berubah. Mereka ingin terlibat penuh dalam setiap proses kehidupan, politik, ekonomi dan sosial. Mereka berbagi, semua orang menjadi pintar, semua tahu, semua bisa. Mereka ingin diakui keberadaannya dan diapresiasi atas apa yang dilakukan, dihargai dirinya. Jiwa “founder” itu muncul di hampir setiap diri anak muda. Kamu tidak bisa membendungnya. Daripada melawan arus perubahan, kenapa tidak mencoba merangkul perubahan itu, merangkul jiwa-jiwa muda penuh gejolak dan kritis ini.

Buku #newpower ini memberikan perspektif lain dari sekedar eforia era digital dan pesimistis terhadap slacktivisme, aktivis pemalas. Buku yang dibuat oleh dua aktivis digital #GivingTuesday dan #GetUp! Ini buat saya keren banget. Keduanya meyakinkan gerakan di sosial media bisa membuat perubahan, bisa mengubah sebuah kebijakan, tapi ada syaratnya.

Gerakan digital itu harus mengikuti prinsip ACE – Actionable, Connected dan Extensible. Sebuah gerakan yang bisa membuat perubahan tidak seliat dan fleksible itu, tapi tetap harus punya struktur dalam arti jelas target sasaran dan value yang dibawa. Harus bisa dilaksanakan oleh siapa pun, terkoneksi dan dekat dengan partisipan. Struktur dalam gerakan digital itu seperti segitiga; pemilik platform atau penggagas gerakan, partisipan yaitu mereka yang tingkat partisipasinya lebih rendah dan super –partisipan, mereka yang sangat aktif berpartisipasi, baru kemudian ini bisa jalan.

Nah yang buku ini juga menjawab kritikan tentang “buble” yang jadi kelemahan gerakan digital. Menurut mereka, segitiga struktur movement itu harus nge-blend dan masuk dalam arena politik secara umum artinya tetap harus melibatkan media, NGOs yang terlibat dalam isu yang sama, institusi pemerintahan, publik secara umum dan akademisi. Segitiga itu menjadi sebuah lingkaran yang saling terkait untuk bisa mengubah sesuatu lebih nyata. Kita memang tidak bisa berteriak di gelembung yang sama untuk berubah, tapi tetap harus melibatkan pihak di luar gelembungnya.

Saya kasih contoh BTS yak, karena kebetulan sedang riset tentang mereka. Sekali pun anggota BTS tidak mau dibilang gerakannya politis, tapi dengan nilai yang dibawa, mereka bicara di media, dan di depan sidang PBB, tentu saja gerakan mereka politis. Partisipan mereka ARMY, superparticipant mereka salah satunya One in Army, ada juga Bangtan Scholars, dan di Indonesia, saya tergabung dalam Bintang Ungu, kami mengembangkan karakter di salah satu PAUD di Jakarta.

Akan sangat mudah platform digital yang dibangun dengan partisipasi massa bergeser ke arah old power, seperti Facebook dan Uber. Begitu investasi masuk dan tuntutan bisnis, gaya-gaya leadershipnya mulai top-down deh, dan melupakan super-partisipan dan sharing powernya. Selain dalam dunia bisnis, #newpower juga mengubah peta politik.

Barack Obama yang memulainya dengan mass participation movement, dengan Yes We Can, pada akhirnya kekuatannya bergeser di pemilihan keduanya. Pendukung yang tadinya relawan dijadikan sumber pemasukan lewat donasi. Donald Trump dimulai dengan membayar massa untuk kampanyenya, ketika “seolah-olah” didukung beneran dan dengan kalimat kontroversinya, malah jadi beneran memang.

Yang menarik adalah Podemos, yang dimulai dengan kemuakan akademisi di Spanyol terhadap kekuatan lama yang korup, mereka melakukan movement menolak pemerintahan. Dalam waktu dua bulan, gerakan ini menjadi partai politik, memunculkan satu tokoh, dan mampu menggerakkan massa turun ke lapangan dan dalam 2 tahun, mereka mendominasi kursi di parlemen. Macron juga dibahas dalam buku ini. Ketika politik bergeser menggunakan kekuatan baru dengan kekuatan partisipasi massa dan menjadi populer, yang perlu dijaga adalah sejauh mana mereka akan konsisten pada gerakannya dan merangkul massanya. Yang terjadi sebagian besar, massa kembali ditinggalkan.

Kekuatan baru masih sangat messy, berantakan dan perlu diperbaiki sana-sini. Bapak internet, Tim Berness Lee masih berjuang dengan proyek Solid nya untuk menjawab keresahan soal privacy. Solid akan membuat kita punya kontrol tentang data yang mau kita beri dan rahasiakan. Tetapi kekuatan baru membuat saya percaya, bahwa demokrasi itu masih bisa diperbaiki, partisipasi publik itu masih bisa dibangun. Infrastruktur digital memang masih sangat tidak adil, hanya sebagian yang bisa menikmatinya, tapi dari yang sebagian itu, tugas kita selanjutnya adalah menciptakan full-stack society. Sebuah masyarakat, komunitas, dan peradaban yang setiap orang di dalamnya berdaya, mampu mempraktikan kekuatan yang dimilikinya lewat jempol, paham pada apa yang dia lakukan dan punya keyakinan yang sama untuk melakukan perubahan ke arah lebih baik. Sound utopia? Semua juga dimulai dari mimpi kan.

Buku ini membuat saya ingat betapa bahayanya 3 tahun ke depan, ketika kekuatan lama bakal memanfaatkan “kekuatan baru” cuma untuk kepentingan politik menjelang 2024, setelah itu, lagu lama lagi. Jadi kita hanya punya waktu 3 tahun ini untuk belajar lebih kritis dan berdaya agar tak mudah diperdaya politik.

BTS is GOOD for your (print media) business. A piece on V – Kim Taehyung birthday

Standar
BTS is GOOD for your (print media) business. A piece on V – Kim Taehyung birthday

I was sitting on my terrace that morning when TIME Magazine arrived. I was in a hurry to unboxing the package that I have been waiting for two weeks and paid like 25K rupiahs more than the usual price. It said due the high demand and they need to printed local.

I was nervous because the cover was not BTS but Kamala Haris and Joe Biden. First I thought they sent me the wrong package, I was nervous. Then on the second page, it said BTS “the Entertainer of the Year” horeee, my heart pumped!  

To be honest, I am totally less interest to read about Kamala Haris and Joe Biden as Person of The Year. I am not going to spent my money on Time just to read them, no matter, how being political I am. Still, I am not interested enough to buy something that is not close related and relevant to me these days. I can read about them online.

But this is BTS! Period.

According to Brandwatch Consumer Research on January 2020, there are 48 million unique authors mentioning BTS online from January 2013 – December 2019. If they are real Army then there are 48 army groups (48 millions soldiers). With 2,199,192,809 mentions or in averages 1,004,197 mention daily!

I am one of them to be certain – oh well, since November 2020.

Anyway, BTS ARMY is a huge market. Just like me, they might not need to read the whole content of the magazine, they just want to collect them for the sake of BTS’s pictures. Time Magazine put BTS on 4 pages (including 1 page with a whole picture), propably only about 3000 words but it sold fast and I was on the second batch of waiting list for the magazine. Imagine how much revenue Time get for one edition with BTS cover and they have been on TIME for like 4 times.

BTS is a  good news for the almost collaps printed media. Put them on cover, boom, the sales rocketed like Burj Kalifa.

I am not making it up.

CNN Business came with the report on 18 December 2020. Variety, WSJ Magazine and Esquire are among those who harvesting revenue from BTS. Variety printed 30% more copies than usual with BTS on the cover. WSJ Magazine came with the statement “[d]ue to overwhelming demand” to reprint its November issue. Esquire typically sells 20,000 copies per issue at domestic retailers and ended up printing an additional 20,000 copies for the US, along with 34,000 copies for South Korea, where they typically sell 100 copies, and another 2,000 copies for Japan.

My friend purchased the Esquire from Amazon and all the way from USA to Indonesia. I did search on e-commerce Tokopedia to look for the price, and all put Pre-Order mode with the full-payment price around hundreds of rupiah and transported from USA or India. Coming soon for January 2021, BTS Army is looking forward for RollingStone and Dicon. For Rolling Stone the Pre-Order has been sold out already on Tokopedia. *clap, clap, clap

It is interesting to see how media has been using BTS for their business because usually is the other way around. Through out BTS history, mainstream media has been ignored them, worst sometimes been direspect them as the “outsider”. BTS does not bigger because of the conventional media, they are bigger because of their great strategy of business of horizontal connectivity with their Army through social media. It is the power of the Army that has push them to the surface of world “domination” (Jin said the world domination was not on their plan, and they just want to be respected). Once they are on the Billboard chart and speech on the UN, mainstream media put attention on them and look for the news worthy of BTS. The media wait for the momentum to publish the news of BTS, and as they predicted, BTS keep making a good momentum with awards, and Billboard Chart. We are all waiting for the Grammy announcement on January 2021 and BTS once again will dominating news.

I am not critizing anything. I am pretty sure a magazine like TIME put BTS article with news-worthy angle so does Esquire that emphasis the story around masculinity value that has been presented by BTS, or Variety with the issue of mental health and WSJ with IPO of Big Hit on October 2020. I just wish the media can dig more than just what already been discuss by others. Go deeper and look for more interesting angles of BTS, because from two months rough research I did, there are so much you can get from BTS and the Army. Put them as the subject with news worthy, help them to spread their value and not just because it is good for your business. Really.

Today is V, the stage name of Kim Taehyung, birthday. Among other members, he is the first visual that everyone can click and remember when they saw BTS for the first time. To me, V is also most interesting figure among them with his visual style. He breaks so many conventional and mainstream rules of what gender looks like. He wears make up, he loves women clothes and accessories. He makes everything looks neutral and everything fit perfectly on him. He has these duality that can be totally different but minggle at the same time. On the stage, I find V with his strong sex appeal but once I watch him on Run BTS or Bon Voyage or any live stream he has, he is just like a baby, a cute normal boy from my neighborhood.

He is impressive in term of art, easy to spot it on his lyrics, music, voice, paintings and his visual arrangement for the group. I am excited to wait for his Mixtape. He has this old soul and his music of classic jazz and soul is so close to mine. He coined Purple Heart or Borahae to express love from BTS to Army and vice versa. Today he will be 25 on Korean age or 24 years and it is going to be a long journey to come for V to reach all of his dream than what he already has.  With his assets, he is going to be bigger then today.

Happy birthday V, borahae. 

Rekomendasi buku 2020 yang bisa kamu baca 2021

Standar
Rekomendasi buku 2020 yang bisa kamu baca 2021

and they will annoyed you somehow.

1. Less is More – Jason Hickel. Tidak ada cara lain buat menyelamatkan masa depan bumi kecuali kita semua ambil jeda dari segala sesuatunya. Kita harus nge – set ulang cara kita berpikir, hidup dan bekerja. (https://nroshita.wordpress.com/…/berusaha-sekedarnya…/)

2. Humble Pi – Matt Parker. Matematika itu pelajaran paling saya musuhi waktu sekolah. Membaca buku ini membuat saya menyesal kenapa tidak serius belajar matematika karena semua yang ada di sekitar ini bisa dijelaskan olehnya. saya menyalahkan guru saya yang ga asik sih. Parker menjelaskan matematika dalam bahasa yang paling asik, btw, dia guru SMA loh. damn kenapa dulu bukan dia guru saya. (https://nroshita.wordpress.com/…/kesalahan-matematika…/)

3. Frenemies – Ken Auleta. Matinya agensi periklanan saat ini karena bersaing dengan para juragan digital seperti facebook, amazon dan lainnya. ya mati aja lu kalau ga mau kreatif dan beradaptasi (https://nroshita.wordpress.com/…/orang-tak-suka-iklan…/)

4. Human Network – Matthew O Jackson. Hello Kaum Privilese, ini buku tentang kamu. Mau sekeren apapun kamu kalau tidak punya status di masyarakat, susah sekali untuk maju. Semua ditentukan darimana kamu berasal (https://nroshita.wordpress.com/…/status-sosial…/)

5. Wellbeing, Resilience, and Sustainability – Jonathan Joseph, and J. Alister McGregor. Buku yang bakal mengganggu sekali buat kamu yang bergerak seperti saya di isu development. Kita ini beneran mau melakukan perubahan sesuai kebutuhan lapangan atau cuma pesanan donor cuy? (https://nroshita.wordpress.com/…/tiga-mantra-suci…/)

6. The Future is Asian – Parag Khanna. Buku terakhir tahun ini yang saya baca. Kita punya kesempatan untuk mendominasi politik dan ekonomi dunia, tapi secara bersamaan kita juga punya tantangan untuk menentukan, siapa sih sebenarnya orang Asia itu? https://nroshita.wordpress.com/…/masa-depan-milik…/

Segitu dulu…

Review buku di blog saya yang paling banyak dikunjungi tahun ini:

1. How Democracy Dies, tentu karena Anies

2. Manufacturing Consent – Noam Chomsky

3. Satanic Verses – Salman Rushdie

4. Metamorphosis Franz Kafka

5. The Book Thief oleh Markus Zusak

Masa Depan Milik Orang Asia. Review the Future is Asian – Parag Khanna

Standar
Masa Depan Milik Orang Asia. Review the Future is Asian – Parag Khanna

Dua minggu lalu saya mampir ke Periplus. Niatnya jelas, hanya jalan-jalan karena baru saja beli dua buku dari toko yang sama via admin. Di toko, saya yang mulai ngefans dengan BTS tertarik majalah Time edisi kolektor dengan sampul BTS. Tapi saya hitungan, apakah saya sebegitu cintanya dengan BTS sampai rela menghabiskan sekian ratus ribu? Kecuali ada alasan kuat untuk membeli majalah itu. Saya beralih ke rak buku keluaran terbaru dan menemukan buku ini The Future is Asian. What a…

Keluar toko dengan dua majalah dengan sampul BTS dan tiga buku baru dan senyum mencrang di wajah. Saya tahu di sinilah semuanya akan dimulai. Buku ini akan membuka jalan untuk melihat Asia dengan cara berbeda dari sudut bernama BTS. Begitu sudah sederetan rencana lanjut studi S3 tuh muncul.

Buku ini secara umum menyenangkan untuk dibaca dan memberikan banyak insight baru yang selama ini, kita disajikan cerita tentang Asia dari kacamata barat. Khanna membukanya dengan sejarah Asia. Oh iya, kata Asia itu warisan kolonialisme ya, harap pahami. Begitu juga dengan istilah Timur Tengah. Asia itu luasnya hampir 2/3 daratan bumi dataran Rusia, Cina, hingga Australia, melintasi sebagian Turki, Iran, Irak, Qatar, lalu di Asia Selatan. Sejak ratusan tahun lalu, Asia menguasai peradaban, ilmu sains sampai perdagangan sutera dan rempah. Sejarah besar itu bergeser ketika Eropa menguasai revolusi industri dengan mesin uap dan mulainya penjelahan dan penjajahan. Hingga perang dunia kedua, bom nuklir yang meyudahi dan membuka perang dingin ideologi antara patron Rusia dengan komunisme dan Amerika Serikat beserta sekutunya Eropa, Canada dan Australia dengan ideologi demokrasinya.

Post kolonialisme, negara-negara di Asia berusaha untuk bangkit membenahi dirinya sendiri. Indonesia dan beberapa negara asia dan afrika menyatakan diri dalam kumpulan non-block karena tak ingin terjebak pada patron Rusia dan Amerika. Hingga hari ini pun, sebenarnya baik demokrasi maupun komunisme yang ada di Asia tidak hitam putih seperti yang digambarkan dalam teks-teks pandangan barat. Selalu ada penyesuaian dengan nilai nasional dan secara umum, negara-negara di Asia sangat menghormati kekuatan hubungan kekeluargaan dan komunitas. Sekalipun berbeda budaya, nilai di negara masing-masing, ancaman buat Asia bukan pada ideologi tapi pada teritori seperti kawasan semenanjung korea, laut cina selatan, perbatasan Pakistan India adalah di antara kawasan-kawasan yang selalu dalam situasi tegang. Amerika, adalah penyedia layanan terutama keamanan bagi negara-negara di kawasan ini. Itu pun perannya semakin terkikis karena masing-masing negara punya caranya sendiri untuk mempekuat pertahanan. Asia kata Khanna, tidak punya ambisi untuk menjajah negara lain, seperti eropa dan amerika, buat Asia respek sudah cukup, untuk tidak saling ganggu.

Asia ini populasinya 5 juta orang dengan usia ratarata masih berada di usia produktif yaitu sekitar 20-30 tahun. Sementara belahan dunia lain seperti eropa dan amerika mengalami isu aging yaitu berkurangnya generasi muda sebagai angkatan kerja, Asia masih berlimpah. Sekalipun Jepang dan Cina punya isu yang sama, tetangga mereka seperti Indonesia, Filipina dan negara-negara Arab bisa menutupi kekurangan tenaga kerja di masa depan.

Bicara tentang generasi muda Asia, isu ideologi tidak lagi jadi perhatian. Hubungan antar budaya semakin liat melebihi teritori. Khanna menyebutkan ekspor budaya dari India, Korea Selatan, Cina dan Jepang membuat prejudice – prejudice generasi sebelumnya semakin terkikis. Salah satu contoh yang menarik adalah semakin banyak generasi muda Jepang yang belajar di Korea karena pengaruh K-Pop dan mereka tak lagi peduli pada prasangka dan permusuhan yang selama ini dipelihara orang tua mereka. Asimilasi lewat perkawinan antara negara juga melunturkan sekat di antara negara-negara Asia.

Asianomics berbeda dengan neoliberalisme atau kapitalisme ala barat. Pasar buat Asia bukan master tapi partner, neomerchantalisme adalah model yang dilakukan oleh Cina. Kapitalisme yang dibayang-bayangi oleh kekuasaan pemerintahan. Negara-negara asia semakin mempererat hubungan di antara mereka terutama pada sektor pangan dan energi karena kebutuhan asia adalah yang terbesar di dunia yaitu 80%. Investasi Cina di Afrika dan Eropa semakin besar, sebaliknya Uni Eropa masih jadi investor terbesar di Asia Tenggara disusul Jepang dan Cina. Asia selalu menemukan cara untuk membangun hubungan pasar dengan negara lain tanpa perlu merasa takut dimusuhi Amerika.

Secara keseluruhan buku Khanna ini memberikan gambaran positif tentang masa depan Asia dan orang-orang Asia untuk mendominasi geopolitik dan ekonomi dunia. Saking positifnya ya, buat saya Khanna ga begitu sensitif terhadap isu yang juga besar di asia terutama tentang pelanggaran hak asasi manusia dan perubahan iklim, kecuali kalau dia lihat dua isu juga hanya bagian dari atensi barat saja. Di bab 9 saya mulai terganggu dengan alternatif yang dia tawarkan, bahwa kalau Asia sebenar-benarnya ingin besar, maka model demokrasi yang sekarang ini harus diubah. Itu betul, demokrasi Asia itu demokrasi oligarki, menguntungkan kelompok tertentu, keluarga, nepotisme, demokrasi yang corrupt dan bahwan demokrasi barter, beras sekarung ditukar suara di kotak pemilu. Tapi usulan techocracy sebagai pengganti demokrasi buat saya mengganggu terutama karena contoh yang diberikan adalah Singapura dan Cina yang catatan tentang HAM nya bukan sekedar isu sampingan. Bagaimana teknologi penilik aka surveillance dia anggap mampu menyelesaikan korupsi karena kemudian pemerintahan bisa berjalan secara transparan buat saya juga mengerikan. Bagaimana dengan hak privasi orang, kebebasan berpendapat, berekspresi dan bagaimana teknologi juga membuat jurang ketidakadilan bagi warga negara juga harusnya dia sentil di dalam buku ini. Menyelesaikan masalah negara tidak bisa selesai dengan satu sisi, mengambil teknokrat sebagai pemimpin dan mengatur negara dengan teknologi, manusia kan bukan mesin, budaya liat terus berubah. Ini seperti sebuah benturan dari keseluruhan buku dari bab awal, begitu di bab terakhir, saya seperti merasa antiklimaks, gubrak. Nevertheless, ini buku penting dibaca untuk membuka perspektif berbeda terutama untuk yang selama ini hanya membaca teks-teks dari perspektif barat.

Kembalikan Komunikasi Politik Pada Jalurnya. Review Media, Democracy and Social Change oleh Aeron Davis, Natalie Fenton, Des Freedman, Gholam Khiabany

Standar
Kembalikan Komunikasi Politik Pada Jalurnya. Review Media, Democracy and Social Change oleh Aeron Davis, Natalie Fenton, Des Freedman, Gholam Khiabany

Buku ini ditulis oleh empat dosen favorit saya saat studi S2 di Goldsmiths University of London 2015 – 2016. Tentu saja saya bias, karena bukan hanya saya akan bilang buku ini bagus tapi juga sangat perlu untuk dibaca. Buku ini jadi bacaan wajib buat kamu yang bergerak seputar isu politik, dan media.

Saat membaca buku ini, pilkada berlangsung dan pemenangnya sudah bisa ditebak. Distribusi kekuatan politik sangat terbatas pada keluarga penguasa. Saya cukup ehem aja. Lalu media utama hingar bingar tapi tak berani kritis, sekedar mencari click bait untuk bisa bertahan hidup. Hampir dalam waktu berdekat, seorang kawan yang biasa menuliskan newsletter seputar isu hutan bertanya betapa susahnya mendapatkan berita tentang lingkungan di media arus utama. Jawaban saya, lihatlah pemilik medianya, apakah bagian dari perusak lingkungan yang sedang kamu monitor itu? dia lalu tertawa. Komunikasi politik kita sudah buruk rupa sejak dikuasai para influencer dan buzzer sementara media arus utama ompong sebagai pilar demokrasi.

Membaca buku ini memang seperti mengantarkan saya kembali ke ruangan kelas. Keempat dosen saya itu tidak pernah bawa buku dan memaksa kita membaca di kelas. Bacaan itu sudah diberikan di awal semester dengan kalender bahasan mingguan. Jadi dosen hanya datang dengan sebuah pertanyan besar. Misalnya seperti di bagian satu, tentang berpikir kritis yang ditulis Fenton. Berpikir kritis itu apa sih? Kritis itu artinya explanatory – bisa dijelaskan, practical – bisa diterapkan, dan normative- berpikir normatif sesuai dengan norma yang berlaku. Kita bisanya berpikir kritis hanya terbatas pada penjelasan atau teori tapi ga bisa diterapkan apalagi disesuaikan dengan konteks yang ada.

Buku ini mengritik bagaimana para intelektual merayakan berlebihan kemajuan teknologi informasi, dunia digital untuk melakukan sebuah perubahan. Tapi mereka lupa, siapa yang memegang kekuasaan dan kekuatan di balik itu? apa motif politik dan ekonomi yang dimiliki oleh para penguasa IT dan apakah mereka merasa ikut bertanggungjawab telah memecah belah  publik saat Brexit di Inggris Raya dan Pemilu Amerika yang memenangkan Trump? Bagaimana dengan mereka yang tidak punya akses pada internet? big data yang dirayakan semua orang itu hanya infrastruktur, sebuah alat untuk menyampaikan pesan. Tapi pesan apa dan kepada siapa, itu harus jadi titik kritis kita. Bahwa big data itu meluaskan ketidakadilan bahkan rasisme itu sudah banyak dibahas oleh para pemilkir. Tapi yang suka lolos dari perhatian adalah peran pemerintah. Di dalam demokrasi, apapun yang terjadi, pemegang kekuasaan tertinggi kan tetap pemerintah, maka kembalikan semua ini kepada “power” dimana kekuasaan itu berasal dan berada? Bahwa tidak ada yang akan lolos dari dampak sebuah kebijakan publik yang dibuat, karena itu tidak mungkin kita bisa abai terhadap apa yang mereka lakukan.

Masih tentang infrastruktur media, yaitu kekuatan digital, aktivisme klik, kita harus kritis pada semua gerakan sosial yang muncul di media sosial. Adakah yang benar-benar berdampak dan berkelanjutan? Sebut saja #blacklivesmatter #metoo #occupywallstreet apakah benar telah sampai mengubah sebuah kebijakan yang berdampak luas dan dalam jangka waktu lama?

Aeron Davis di bab 5 mempertanyakan peran partai politik sebagai kendaraan demokrasi. Apakah demokrasi bisa berjalan tanpa partai politik yang sudah bergeser fungsinya menjadi manajemen artis – istilah ini dari saya ya? Partai politik dikuasai oleh konsultan politik yang lebih sibuk menyiapkan persona politikus ketimbang menyerap aspirasi lokal yang mereka wakili dan menyiapkan agenda politik. Ketika kampanye pemilu dilakukan, dana partai politik habis untuk membeli media kampanye ketimbang turun ke lapangan untuk melakukan diskusi publik. Apakah teknologi tidak cukup untuk menyerap aspirasi? Pernahkah kita tanya, apakah pertemuan virtual itu memungkinkan setiap orang bicara dan didengarkan seperti prinsip utama demokrasi?

Tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintahan dan partai politik turun dratis di negara penganut demokrasi. Jika tidak ada perubahan dilakukan dari pola operasional partai politik, maka bukan tidak mungkin revolusi dan pembangkangan publik akan terus terjadi. Sudah waktunya berpikir tentang alternatif perbaikan sistem demokrasi yang ada.

Buku ini tidak memberikan alternatif untuk kembali ke sistem sosialisme secara gamblang, tapi secara kritis mengingatkan kita kembali pada prinsip awal demokrasi, tentang keadilan bersama, bahwa kekuasaan tertinggi ada pada rakyat dan demokrasi bukan melulu tentang pemilu, harusnya demokrasi itu adalah sebuah pilihan gaya hidup yang dipraktikan sehari-hari. Tapi siapa yang kemudian menguasai kekuasaan? Dalam sistem demokrasi dengan prinsip neoliberalisme, media hanya sebuah enabler untuk propaganda. Media menjadi alat melanggengkan kekuasaan yang dimiliki oleh kelompok yang sama dengan penguasa ekonomi.

Tawaran solusi dari buku ini adalah kembalikan kekuasaan utama itu pada publik, distribusi kekuasaan kepada skala yang lebih kecil yaitu komunitas. Bagaimana media bisa dimiliki bersama oleh stakeholdersnya – atau publik melalui kooperasi agar nilai jurnalistik tidak dikuasai kepentingan pemilik modal. Media harus berani kritis dan kembali untuk kepentingan publik, mereka yang tidak memiliki kekuasaan atau kekuataan bahkan tertinggal, terpinggirkan kepentingannya. Partai politik kembali ke lapangan untuk menyerap aspirasi lokal konstituen yang diwakilinya. Sedangkan para akademisi dan kaum intelek, harus ikut memberikan solusi bukan dengan menjaga jarak dari publik, tapi terlibat untuk kepentingan bersama. Sangat mudah bagi akademisi terjerumus dalam jurang politik dan perebutan kekuasaan, tapi  mereka harus kembali pada cita-cita mulia untuk “menentang” hegemony kekuasaan, berani bicara benar dan membela kepentingan publik.

Buku ini belum masuk ke Indonesia tapi bisa dibeli online di periplus.com butuh 40 hari kerja untuk bisa ke tanganmu dari London. Ahai tepat sekali, emisi saya dari buku ini besar sekali.

2020, Tahun Penuh Rasa Syukur untuk Tetap Hidup dan Waras

Standar
2020, Tahun Penuh Rasa Syukur untuk Tetap Hidup dan Waras

Tahun yang diawali dengan ambisi dan optimisme, berujung dengan rasa sukur yang besar untuk bisa bangun pagi dalam keadaan sehat dan waras.

Menengok kembali papan visi 2020 yang tumben dibuat detail dalam tiga target, personal goal, finance goal dan family goal, saya jadi tersenyum miris. Semua tentu punya harapan besar di awal tahun, ada mimpi dan rencana yang di Desember ini, bukan hilang, hanya tertunda. Tahun yang sungguh berat untuk dilewati, tanpa antisipasi, mitigasi, kita dipaksa beradaptasi dengan semua perubahan, no thanks to Covid19.

Yang paling berat adalah menjaga kewarasan, bagaimana tetap aktif, berpikir positif di tengah himpitan ruang gerak dan peluang yang tetiba hilang bersamaan sepanjang Maret – Juni. Buat saya yang hidupnya 80% di luar rumah, tiba-tiba harus 24 jam di dalam rumah, bukan hal yang mudah, buat saya dan keluarga. Mendadak saya harus berbagi waktu, membagi pekerjaan rumah dan cari uang dan waktu untuk diri sendiri. Bekerja dari rumah, justru membuat saya miskin waktu. Semua serba terburu-buru, kalang kabut, antara masak, cuci pakaian, bebersih kamar, ngerjain tugas, meeting dan tetiba pekerjaan seringkali datang  di luar “jam kerja”. Pada malam hari, tubuh saya merasa lelah bahkan ketika merasa tak produktif hari itu. 

Tidak bertemu orang secara langsung, berbagi ide, membaca gerak tubuh dan air muka itu berat. Meski berusaha meyakinkan bahwa medianya saja yang berubah, dari nyata menjadi virtual, tidak bisa, yang tak tergantikan adalah tatapan, sentuhan dan melihat orang tertawa di depan muka langsung dengan di balik layar tetap berbeda. Sangat betul, pada akhirnya kita tahu bekerja tak harus 5 hari di kantor dan meeting berjam-jam hanya untuk menghasilkan 1-2 keputusan. Tapi bertatapan langsung dengan lawan bicara itu tak bisa melulu dihalangi kamera. Pelukan kawan saat kita merasa terdampar di titik terendah itu tak bisa tergantikan emoticon di kotak pesan.

Hari ini 275 hari sejak pandemi resmi diakui di Indonesia, adalah 275 hari perjuangan untuk tetap sehat dan waras. Mencoba tetap aktif, bekerja membuat saya waras karena emosi tak diberi kesempatan untuk mengendalikan diri. Sebab kalau sedikit saja lengah, mencoba istirahatkan kepala, hati saya kembali bergejolak. Merindukan kumpul-kumpul, marah pada situasi, bingung memikirkan masa depan, takut, khawatir, dan menjadi tidak bahagia. Bahagia saya ketika menyiapkan situasi sekitar tetap seperti “normal” dan tetap bekerja, dan menyiapkan waktu untuk “liburan”. Beberapa bulan terakhir, saya menyerah dengan jadwal yang terburu-buru dan kembali seperti semula, I less care of domestic work, and I become me… selepas subuh membaca buku, dilanjut yoga dan baru kerja. Memasak tetap hal utama karena saya memilih sehat dengan masakan sendiri.

2020 tidak sepenuhnya buruk dalam hal produktivitas. Karena tidak membiarkan emosi mengendalikan diri, saya akhirnya mencipta banyak hal yang tak terpikirkan bisa dicapai dalam waktu singkat. Tahun ini dua novel diterbitkan hanya berselang beberapa bulan. Hening, novel kedua sudah selesai ditulis dua tahun lalu, terbit dalam bentuk e-book. Di Agustus, saya fokus menyelesaikan novel ketiga, Kala Kelabu di London dalam waktu kurang dari 30 hari dan terbit November 2020. Hari ini baru sadar, gila juga yak, tak terpikir saya bisa menyelesaikan itu dalam waktu singkat. Saya bertanam, beberapa kali panen sayuran. Saya meneruskan rajutan yang sudah selebar 2 meter sekarang. Membaca lebih banyak buku dan menulis jurnal hampir setiap hari. Hasil temuan terakhir adalah para Angpaman aka Superhero bernama BTS, ketujuh pahlawan kewarasan saya ini menyelamatkan saya dalam sebulan terakhir. Setiap hari emosi drop, saya akan pasang lagu BTS kencang-kencang di telinga dan menyanyi bersama meski lirik sudah pasti salah. Sebelumnya Lee Joong Gi, Gong Yoo, dan semua aktor korea yang main di film dan drama. Yes mereka-mereka inilah yang membuat saya tersenyum dan tertawa saat sedih dan kesepian.

Setiap hari ada saja berita duka muncul di timeline sosial media saya, tiap kali itu juga airmata banjir bahkan untuk mereka yang saya tak kenal secara personal. Malaikat kematian seperti sedang kejar target kerjaan, semua diburu-buru diajak berpulang. Melompat dia kesana kemari, mencabuti nyawa seperti kita mencabut bulu ketek.

Setiap orang beradaptasi dengan cara yang berbeda, saya ya begini, kamu sangat boleh menentukan caramu sendiri. Tidak ada satu pun orang berhak untuk bilang mana yang terbaik atau yang terburuk, saat ini, saya dan kamu cukup saja bersukur kita masih bisa bernapas pagi ini dan bisa mencium bau kentutmu sendiri. Terima kasih semesta sudah mengajari saya mencintai diri sendiri baik saat terpuruk maupun bahagia, dua paradox yang selalu datang lebih sering bersamaan akhir-akhir ini. Terima kasih sudah mengajari saya berterima kasih untuk setiap helaan napas yang bisa berhenti kapan saja, bahkan detik ini pun. Terima kasih untuk kesempatan hidup yang diberikan, semoga bisa bermakna.

Tiga hari terakhir berada di Bali. Saya tahu kawankawan yang melihat itu cukup “kecewa” karena pecah telur saya pergi dan berkumpul dengan kawan-kawan lama. Saya sih tidak perlu menjelaskan apa pun, yang pasti saya berusaha untuk tetep menjalankan protokol kesehatan. Tidak lepas masker kecuali saat makan, tetap rajin cuci tangan dan tetap minum vitamin. Kesehatan kan bukan cuma tentang fisik, tapi juga menjaga kewarasan.

Terima kasih 2020 untuk pelajaran paling berharga dalam hidup. 2021, kita akan bertemu hanya jika seizinNya.

Being Political With BTS On Jin’s Birthday

Standar
Being Political With BTS On Jin’s Birthday

I decided to write this one in English, the dominant foreign language that I have to mastered if I want to survive in this very competitive era. I learnt English self-taught by listening to New Kids On The Block and later on with Benedict Cumberbatch and all kind of Hollywood movies. I grew up embracing western culture through all kind of entertainment, although now and then, I also enjoy Chinese and Indian movies. I grew up with a strong patriarchy culture through movies and yet community around me. Fortunately, my family is embracing a rare culture where both of my parents are encouraging their daughters to pursue higher education. I was raise to be a rebel, questioning everything, to be able to speak up and being rational.

Being rare type of a woman is not easy when you are living in a strong patriarchy culture community. Just when my nieces born, I know I have a bigger challenge in life to raise them to be a person who is free from toxic masculinity, a gender biased and patriarchy one. We (mom and me, basically) want Zi, Septi and Azki to be able to decide what they want to be or do in this life as a person, not because they are girls. So here comes the story on how BTS comes along with me.

The eldest niece, Zi has been bullied since young age (she is 12 now) because of her tall and bigger body compare to other girls in her school. She is being called the ugly giant. It hurts us as an adult in the family, a lot!. No matter how hard we encourge her to care less about it, she is obviously being hurt. Nevertheless, one day she sent me a video of RM – the leader of BTS speech in UN event and encourge youth to “Love Yourself” and dare to speak up. She changed, she changed a lot. She more confident about her beautiful look and her amazing smart brain. She is RM herself, the nerd one. She starts dancing and make herself a video of singing and dancing a long with BTS song. She is happy.

I recognize BTS since then and being grateful for her. However, not until three weeks ago, I finally able to enjoy BTS songs and get drawn with them since then. I invest time to do research about them and their songs. I want to know more about them, and here are my findings so far.

Breaking language barrier

Not like in my era where my world was dominated by western music and movies, Zi is living where Korean Culture took over. It does not matter that the songs are singing in Korean language, music is crossing that barrier. Like Zi, I can enjoy their music, I sing a long with their song – yes, I try to sing a long in Korean as well, and moves my body following their beat.

BTS has been in Billboard chart many times these days, and got their first grammy nomination this year. They appeared in many western talkshow, concert in English speaking countries in US and Europe. They took over the black and white stage ala the Beatles. Enough for Time Magazine to put them on the cover and said that BTS is the K-Pop Band that conquered the world and as the future leader.

Breaking the toxic masculinity

I am working in around gender mainstreaming issue and I am a feminist. It is so delighful to see BTS breaking all the gender stereotyping where man must follow the mainstream ideal of masculinity. BTS breaks all the rules. They are using make up on stage, following by beautiful dresses in bright colors. They showed empathy, cry on stage is a natural as a human being and not afraid of being soft to each other and they do domestic works. Something that’s rarely being shown in public through media.

Zi following their Vlive, Bon Voyage and everything that related to BTS and she learnt that man and woman is no different in their preference of clothes, work, and visual. People can be whatever they want to be as a person.  

Staying positive

Generation Z is living in the hardest era among all generations. They don’t have a bright future related to environment that being damaged by the older generations, they are living in debt while the opportunities become more limited. They are living in the wire where everything is connected virtually, less time to meet in person and making friends, especially during the pandemic. Youth is being shocked the hardest, yet, BTS has been encourage their fandom to stay positive and keep the positive attitude. Life Goes On as their latest song said.

I have been through most of their lyrics on the net and I am amazed on how deep their thoughts are. They wrote songs to stops being “love slave” aka bucin in Indonesia in Epiphany that said I am the one I should love or enough of “Fake Love”. They talked about the love of art in “Black Swan” that the first death of the artist is when they no longer feel any pulse toward their own art. The whole album “Love Yourself” is encourage youth to be themselves.

They make speech during the exam and graduation moment to remind youth to take a breath and find their own pace because following others can be breathless and trying to please others will make them lost themselves. Not to forget to cherish themselves – all these words are come from my biased Kim Seokjin

As an adult, I am like wow… being smashed many times. I do not mind learn from the youth and I am again being grateful that Zi idolized them.

Being political

By saying “speak yourself” they encourage youth to be a political being. Their fandom BTS Army has been doing lots of things related to political issues, you can do research on what they did during Trump campaign. The Army organized organically toward many social and environmental issues, exactly what we need these days, we need youth to make a movement to build their own better future.  The members have been given an example on doing philanthropy act especially during the pandemic time.  

Being persistence and hard worker

I am being biased toward Kim Seokjin. He is my ultimate biased. I can relate more to him for being funny and dorky outside but the introvert inside. He is trying to make everyone laugh and act as a mood booster. He learns singing, dancing, playing guitar and piano from nothing in the past 7 years while also graduating from college. I told Zi that Jin has shown that talent is nothing compare to hardwork and persistence, that everyone can achieve their dream through hardwork. At the same time, staying humble is a must.

For the past three weeks, my emotion is ups and downs and I know it is natural feeling through this hard times of pandemic. Being alive today is something that I must grateful because tomorrow is clueless. When I am down, I put BTS music and watching Jin’s strange humor and logic help me to survive and laugh out loud.

Since I can not say things personally to BTS members and especially to Jin, let me shout out loud through this blog. Happy birthday Kim Seokjin, may all the good things and peace come to you in these coming years. You deserve all the best things in life. Stay humble, stay funny and genius one. Thank you for saving my life in these hard times, thank you for making me laugh out loud.

Thank you BTS for saving Zi’s, you are all the Anpaman we need these days!

Bagaimana Raksasa Teknologi Bertahan? Kunciannya Adalah Mendengar. Review Always Day One – Alex Kantrowitz

Standar
Bagaimana Raksasa Teknologi Bertahan? Kunciannya Adalah Mendengar. Review Always Day One – Alex Kantrowitz

Di era semua orang maunya bicara, para CEO raksasa perusahaan IT dunia justru membangun budaya mendengar. Dalai Lama bilang “When you talk, you are only repeating what you already know. But if you listen, you may learn something new.” Kalau kamu bicara, kamu hanya mengulang hal yang sudah kamu tahu sebelumnya, tapi kalau kamu mendengar, kamu mungkin dapat hal baru untuk dipelajari.

Itulah yang dilakukan Jeff Bezos, CEO Amazon, Mark Zuckerberg, CEO Facebook, Sundai Pichai dari Google dan Satya Nadella dari Microsoft. Hal lain dilakukan oleh Tim Cook di Apple yang dibahas juga konsekuensinya di buku yang ditulis reporter teknologi, Alex Kantrowitz ini. Di awal bukunya, Alex sudah disklaimer kalau buku ini ditulis bukan untuk mengagungkan kebesaran para raksasa IT ini tapi selalu ada hal baru yang bisa dipelajari mengapa mereka bisa bertahan. Dia menggali budaya apa sih yang dibangun di dalam perusahaan besar ini sehingga mampu bertahan di dunia dimana inovasi teknologi itu sangat cepat terjadi.

Pada sampul belakang Alex menulis, “Day One” itu adalah kode di Amazon untuk selalu berpikir seperti startup saat mereka memulai mewujudkan inovasinya. Jeff Bezos bilang “statis, diikuti ketidakreleavanan, diikuti oleh kemunduran yang mengerikan, lalu mati.” Intinya jangan pernah puas dengan kemajuan yang dicapai saat ini, harus terus berinovasi agar selalu ada di Day One karena Day Two adalah kematian.

Jeff Bezos menyediakan waktunya 45 menit setiap Jumat untuk diskusi dengan para letnannya tentang usulan para stafnya yang ditulis dalam 6 halaman dengan font calibri 11. Bezos melarang penggunaan PPT sejak 2014. Semua orang di Amazon diajak menuliskan ide mereka seperti menulis fiksi, dimulai dengan mimpi tentang apa yang mau mereka buat, lalu dirunut mundur tentang bagaimana mewujudkan mimpi tersebut. Orang dengan usulan terbaik dapat kesempatan untuk menyampaikannya di depan top management, jika usulan diterima, akan langsung dihubungkan dengan tim keuangan untuk menghitung ongkos produksinya dan diberi waktu juga tim untuk wujudkan mimpi itu.

Mark Zuckerberg membangun budaya “Feedback” dia takkan sungkan untuk duduk manis bersama para stafnya untuk mendengarkan masukan dari mereka tentang produk Facebook. Dia sadar sebagai orang teknis, pengetahuannya tak banyak tentang marketing dan juga management. Dia kemudian menghubungi beberapa pemimpin perusahaan untuk mengizinkannya mengikuti semua kegiatan pemimpin termasuk Bezos dan belajar. Zuckerberg juga memiliki lingkaran yang diisi orang orang yang selalu “menentang” nya. Dia tidak ingin hanya dikelilingi orang yang hanya sepakat dengannya karena dengan begitu dia tak dapat hal baru untuk dikembangkan.

Sundar Pichai membangun budaya kolaborasi di Google. Semua orang di Google tahu persis apa yang sedang dikembangkan di Google, tidak ada rahasia. Sebaliknya setiap orang dan tim bisa menyumbangkan hal yang dapat mendukung tim lain untuk memastikan inovasinya berjalan dengan baik. Dengan fitur yang ada di Google termasuk Google Doc setiap orang bisa berbagi informasi.

Tim Cook berbanding terbalik dengan Pinchai. Di Apple, setiap tim hanya mengurusi apa yang menjadi tanggungjawabnya, itulah yang menyebabkan inovasi di Apple terhambat. Siri keduluan Google Assisstant karena ada beberapa fiturnya yang tidak bisa dikembangkan. Turn over di Apple sangat tinggi, selalu orang baru untuk mempelajari semuanya dari awal. Tapi nilai “kerahasiaan” itu menjadi value jualan mereka yang menjunjung “privacy” dalam produk mereka, termasuk berani melawan permintaan FBI untuk membongkar isi hape apple salah satu tersangka kejahatan.

Satya Nadella butuh waktu untuk membongkar kebiasaan saling menyerang antar tim yang berkompetisi di Microsoft. Sejak hari pertamanya menjadi pimpinan di Microsoft, temuannya yaitu Cloud membuka mata perusahaan bahwa perusahaan tidak bisa dibangun dengan nilai kompetitive antar tim di dalamnya, tapi justru dengan kolaborasi. Setiap orang harus mau mendengarkan ide dari orang lain. Selain itu Microsoft besar karena mau mendengarkan kebutuhan pelanggannya. Ada tim khusus di marketing yang mendatangi pelanggan, menanyakan feedback dari produk mereka dan apa yang bisa dilakukan berikutnya untuk memudahkan hidup pelanggan. Masukan dari pelanggan dirangkum oleh tim marketing dan disampaikan oleh tim pengembang produk.

Apakah mereka berjalan tanpa cacat? Wah cacatnya banyak dan Alex tidak menutupi hal itu dalam bukunya. Amazon berkutat dengan isu tentang perlakuan terhadap buruhnya yang buruk, Facebook dengan isu privacy dan penyebaran informasi yang salah, Mark sibuk mendengarkan feedback dari para timnya sehingga melupakan gejolak yang terjadi di luar kantornya. Google dan Microsoft dengan isu pelecehan perempuan dan diskriminasi kesempatan bagi perempuan bergabung di perusahaan mereka.

Pada bab 6, Alex mengajak kita untuk membayangkan hal terburuk dari kemajuan teknologi, bahwa kita akan kehilangan rasa kemanusiaan, empati, nilai-nilai sosial dan kedekatan dengan keluarga, sahabat juga nilai agama. Otomatisasi bahkan menyingkirkan buruh manusia dari pekerjaannya dan ini akan menimbulkan krisis sosial.

Di bab 7, saya manggut-manggut ketika Alex bicara tentang filantropi yang dilakukan Mark Zuckerberg ketimbang bayar pajak. Zuckerberg bilang dengan filantropi di yayasan yang dibangun isterinya Chan, dia bisa mengembangkan revolusi dalam pendidikan sesuai dengan kebutuhan kepemimpinan masa depan. Cara mereka jauh berbeda dengan yang dilakukan pemerintah dengan pajaknya yang hanya mencetak pemimpin masa depan yang hanya bisa menghapal, mengejar nilai pelajaran, disiplin dan tidak punya budaya kritis dan inovatif. Sebenarnya saya gemes mereka menghindar pajak, tapi kalau itu alasannya saya jadi senyum sendiri, jleb banget. Budaya pendidikan kita memang masih mencetak buruh bukan inovator.

Mudahnya Perhatian Netizen Digeser. Studi Kasus WordPress Untuk Artikel Review How Democracies Dies

Standar
Mudahnya Perhatian Netizen Digeser. Studi Kasus WordPress Untuk Artikel Review How Democracies Dies

Senin, 23 November 2020, setelah akhir pekan yang penuh perjuangan untuk sekedar sehat, saya buka laptop untuk bekerja. Seperti biasa, laman yang dibuka adalah WA, wordpress ini, facebook dan email. Saya terkejut, bukan sekedar terkejut, tapi mau copot jantung beneran begitu lihat traffic yang mengakses wordpress ini setinggi Burj Khalifa di Dubai. 600 views! Emejing!

Sungguh tak paham apa yang terjadi pagi itu. Lama melototin traffic, begini rasanya jadi anak-anak start up yang berlomba mencuri perhatian netizen untuk aplikasi mereka ya. Apa yang terjadi di luar sana? Sakit saya sembuh seketika.

Begitu lihat item artikel tertinggi adalah Review How Democracies Dies, 489 views, saya sudah bisa menebak, sesuatu yang tak lazim terjadi di media sosial. Seseorang menciptakan tren lalu kubu lawan macam kebakaran jenggot, macam tahu bulat, mendadak tergoreng. Jadilah wordpress ini ikutan ditengok ratusan orang.

Ini penampakan traffic Senin, 23 November 2020

Saya tahu, buku terbitan 2018 dan saya review ditahun yang sama itu cuma dilirik karena lagi tren sementara. Bukan karena mereka benar-benar tertarik membahas isi buku yang sebenarnya benarnya menarik. Jadi kenapa saya harus bangga didatangi ratusan pengunjung, sebaliknya saya mah prihatin, begitu mudahnya kamu tersulut tren. Ih!

Yang terjadi dalam beberapa hari kemudian, media sosial dipenuhi foto orang membaca buku. Kalau cuma pencitraan, sungguh kasihan. Kamu tahu, 2017 Unesco bilang hanya 1 dari 1000 orang Indonesia yang membaca buku. Indeks literasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan 2019 menunjukkan bahkan DKI Jakarta sebagai Ibukota negara, yang keren ini, tingkat literasinya masih 58,16% artinya sedang-sedang saja (sambil nyanyi dangdut). Sekalipun buta aksara berkurang, budaya membaca secara umum masih sangat rendah. Ketika foto ramai-ramai membaca buku, doa saya semoga itu bukan sekedar political statement, bukan pencitraan, tapi buku itu benar-benar kalian baca dan pahami.

Sudahlah budaya membaca rendah, kita sudah dihantam budaya instant lewat teknologi. Makin sederhana bahasa, semakin popular narasinya, semakin pendek jumlah kalimatnya, semakin disenangi orang. Kamu takkan cukup dituangi data tanpa narasi yang benar, tak cukup membaca headline untuk paham isi berita.

Setiap kali menuliskan review buku di blog ini, saya tuh dilema. Apakah dengan memberikan review sebuah buku yang halamannya ratusan dan berbahasa Inggris ini tindakan benar? Apakah tidak membuat orang yang “malas” membaca akan semakin malas membaca dan saya hanya melanggengkan budaya instant? yang lebih buruk adalah orang-orang memanfaatkan hasil review saya untuk berdebat kusir dan bertingkah seolah membaca sendiri buku itu.

Niat awal review buku dibuat semata untuk membantu saya terus mengingat sekaligus sekedar pematik bagi pembaca untuk membaca sendiri buku itu. Selain itu berbagi tentang pengetahuan yang singkat dari sebuah buku yang saya baca. Sesederhana itu. Tapi apa yang terjadi tiga hari kemarin membuat saya meringis. Kesel.

Ini traffic perhari ini, 26 November 2020

Sesederhana itu melihat betapa mudahnya netizen digeser opininya oleh politisi dan kerumunan pendukungnya juga media. Setiap hari mulai menurun tren orang mencari resensi buku ini, sukurlah. Saya hanya blog ini normal lagi, ditemukan orang yang benar-benar ingin cari referensi awal untuk sebuah buku yang ingin dibaca. Bukan sekedar ikutan tren

Pak Anies, besok saya boleh titip novel untuk difoto bareng bapak? Mayan pak, bisa bantu saja jualan novel.

3 Rekomendasi Drakor Berisi

Standar

Pandemi memang benar-benar mengubah hidup saya. Sejak pandemi resmi diakui Indonesia, saya beralih menonton drama korea selepas magrib untuk mencari hiburan. Rutinitas saya berubah, oh well, saya berusaha untuk tidak terjebak dalam rutinitas sebenarnya. Tapi drama korea akan ada di satu dua jam dalam sehari. Diusahakan ga menggila menghabiskan satu malam penuh dan binge semua episode. Saya juga termasuk sangat pemilih, tonton satu episode untuk tahu apakah plotnya saya suka, isi cerita menarik dan tentu saja pemainnya enak dipandang. Judulnya juga mencari hiburan, kalau ala kadarnya ya mending baca buku sik.

Dari banyak drakor yang saya tonton, ada tiga saja yang mau saya rekomendasikan untuk pembaca blog ini. Drakor ini plotnya menarik, twist banyak di setiap episode yang bikin penasaran untuk meneruskan tontonan dan yang pasti risetnya serius.

Flower of Evil – pertama kali lihat posternya di VIU saya sih ga tertarik. Coba judulnya aja jayus gitu. Tapi setelah temen bilang, tonton dulu deh episode pertama pasti lu suka. Akhirnya bener terjebak dalam cerita dan mengejar 16 episode dalam satu minggu saja.

Sebagai anak kriminologi, ceritanya jadi dekat dengan saya. Stigmatisasi terhadap anak seorang pembunuh terus menempel hingga dia dewasa dan itu mengubah keseluruhan hidupnya. Kalau punya bapak penjahat, kemungkinan besar anaknya juga akan jahat dan menjadi bagian komplotan bapaknya. Si anak juga terlahir dengan kebutuhan khusus secara pskilogis tidak mampu menunjukan emosinya. Tidak paham apa itu sedih, marah, bahagia, cinta. Itu menambah “kesialan” dalam hidupnya.

Kedua tokoh utama protagis dan antagonisnya sama-sama memiliki masalah kejiwaan. Risetnya menarik.

Stranger / Forest of Secret – langsung ke drakor yang saya tonton karena tokoh utamanya juga punya masalah psikologis, ketidakmampuan memahami emosi. Ini drakor politis banget, cocok buat saya yang menyukai politik. Cerita tentang sebuah pernikahan politis, anak perempuan seorang milioner yang menikah dengan jaksa muda yang cemerlang. Keduanya mengambil keuntungan, papa mertua pebisnis itu membeli hukum lewat anak mantu untuk melindungi bisnisnya. Si anak mantu memanfaatkan papa mertua untuk memuluskan karirnya di kejaksaan sampai menjadi sekretaris gedung biru – pemerintahan korea. Harta, tahta dan perempuan memang masuk dalam plot ini.

Lalu ada jaksa Hwang Si Mok yang ga bisa mengenali emosi itu kalau ngomong ga pakai tadang aling-aling. Di episode pertama saya sudah jatuh cinta padanya karena mirip Sherlock Holmes hanya ga tengil aja. Karena tidak tak punya emosi, tidak punya kepentingan dan sepanjang hidupnya berlaku jujur. Si Mok lah yang membongkar kasus pembunuhan seorang penyedia jasa perempuan untuk para petinggi kejaksaan untuk ditukar dengan perlindungan hukum. Kasus itu merembet pada korupsi di kejaksaan dan semua yang terlibat diungkap oleh Si Mok dan partner dari kepolisian detektif Han.

Money Game – nah ini… buat pembaca buku tentang kapitalisme, neoliberal, sosialisme, drama korea yang satu ini menjelaskan itu semua dalam 16 episode. Ya tentu saja tidak penuh, tapi lagi-lagi risetnya bagus. Mengusung buku the Great Transformation – Karl Polanyi, drama korea ini mencoba menjelaskan secara singkat bagaimana neoliberalisme sudah mengiris kedaulatan pemerintahan korea selatan. Saat krisis finansial 1997, pemerintah korea selatan yang nyaris bangkrut itu meminta pertolongan IMF untuk meminjamkan utang, yang syaratnya tentu saja privatisasi perbankan nasional. Ketika krisis kembali terjadi di 2020, seorang politisi ambisius ingin mengembalikan kedaulatan pemerintahan, bagaimana bisa mengendalikan pasar tanpa menjadi bangkrut. Apa yang salah menjadi sosialis katanya, ketika pasar tidak lagi mampu mengembalikan kesejahteraan rakyat?

Film ini tuh berasa dekat secara emosional buat saya. Cerita tentang bagaimana keluarga miskin semakin miskin karena uangnya dipertaruhkan di bursa saham yang lagi-lagi dikendalikan oleh orang-orang tertentu. Terjebak utang yang tak terbayarkan meski sudah bekerja lebih dari 12 jam sehari. Tentang seorang profesor dan praktisi ekonomi tingkat dunia yang keluar dari Wall-Street untuk menjadi petani kubis di sebuah desa. Dia merasa telah mengajarkan ilmu ekonomi yang salah kepada mahasiswanya, dia mengakui bahwa pasar bukan jawaban untuk mensejahterakan rakyat, membebaskan pasar sepenuhnya hanya akan menguntungkan sekelompok kecil konglomerat.

Tiga drama korea ini bikin saya semakin gemas karena sinetron Indonesia sumpah jelek banget!! Kacang, tanpa isi. Tak ada riset, tak ada plot menarik, tak ada pemain yang serius, teknik sinematografinya ala kadar. Jauh sungguh jauh.

Tiga drama korea ini juga bikin saya penasaran, seandainya seluruh isi buku di perpustakaan pribadi saya itu bisa dibagi seringan drama korea, barangkali pesan akan cepat sampai. Barangkali publik akan sama-sama mudah mencerna dan tak mudah dibohongi si anu dan si inu.

Seandainya bisa milih pemainnya, tentu saja tetap setia untuk memilih Cho Seung Woo, Lee  Joon – Gi, dan Goo So, dan tidak melupakan Gong Yoo kesayangan, haik.