Ketenaran, Kekayaan dan Nafsu adalah Ketiadaan. Review The Nine Cloud Dreams – Kim Man-Jung

Standar
Ketenaran, Kekayaan dan Nafsu adalah Ketiadaan. Review The Nine Cloud Dreams – Kim Man-Jung

Sebelum menuliskan lengkap review ini, saya harus minta maaf di depan karena mungkin akan salah-salah nama yang disebut. Ada banyak tokoh dan karakter yang diceritakan dalam cerita 215 halaman dengan 23 halaman kata pengantar. Beberapa istilah dalam ajaran Budha juga sangat mungkin kelingsut dalam review ini. Maafkan

Kim Man – Jung adalah cendekia di abad ke17 di Korea. Di masa itu cendikia atau scholar itu ada tingkatannya dan yang paling tinggi adalah penulis sejarah dan penyair. Penulis fiksi biasanya menyamarkan namanya karena akan menjatuhkan status mereka dalam masyarakat sebagaimana pun populernya karya mereka. The Nine Cloud Dreams termasuk mahakarya literatur Korea yang pada abad 19 butuh upaya untuk menelusuri siapa pembuatnya, sampai akhirnya divalidasi kalau ini adalah karya Kim Man-Jung. Buku ini sudah dua kali diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan yang saya baca ini diterjemahkan oleh Heinz Insu Fenkl. Terjemahannya sangat indah, dan mudah dicerna kecuali pada bagian-bagian puisi karena bayangan saya pasti lebih indah dalam bahasa aselinya, bisa berima dan saling kait satu sama lain kalimat di dalamnya. Itulah sebab, selesai membaca buku ini, secara ambisius saya berharap bisa membaca dalam bahasa aselinya, atau paling tidak dalam bahasa Korea. Novel ini sendiri ditulis dalam teks bahasa Cina karena hangeul kan baru ditemukan kemudian.

Novel ini bercerita tentang biksu muda yang hidup dan belajar ajaran Buddha di pegunungan Lotus Peak selama 10 tahun, bernama Hsing-chen. Suatu hari dia melakukan perjalanan atas perintah gurunya dan di tengah jalan bertemu dengan delapan bidadari lalu terjadilah percakapan di antara mereka. Sepulangnya dari tugas, Hsing-chen tak bisa mengendalikan pikirannya dan terus terbayang-bayang kedelapan bidadari atau kalau dalam bahasa Inggrisnya peri itu. Ini adalah dosa dalam ajaran Buddha, dan Hsing-chen mendapatkan hukuman yang aneh. Menjalani kehidupan ideal bagi seorang laki-laki. Yang tidak dia ketahui adalah kedelapan peri itu juga dihukum karena mengganggu biksu muda ini.

 Hsing-chen terlahir kembali sebagai Shao-yu dari keluarga Yang yang bersinar karena ketampanannya dan kepintarannya. Pada usia 15 tahun, dia meninggalkan ibunya untuk ikut ujian CPNS kalau versi hari ini. Dalam perjalanannya dia bertemu reinkarnasi peri pertama yang menjadi anak seorang jenderal pemberontak, mereka jatuh cinta dan berjanji akan menikah. Ini janji pertama.

Dalam perjalanan berikutnya, Shao – yu beradu tanding kemampuan puisinya. Adalah jelmaan peri kedua yang menjelma sebagai perempuan penghibur, dialah yang akan menentukan pemenangnya dan si pemenang dapat tidur dengannya sebagai hadiah. Dengan puisi Willow yang dia buat untuk peri pertama itulah dia terpilih sebagai pemenangnya. Lalu mereka jatuh cinta dan saling mengikat janji. Ini janji kedua ya.

Ibunya pernah meminta dia segera menikah setelah lulus CPNS atas bantuan bibi-nya di ibukota kerajaan. Shao-yu punya selera tinggi, tidak tanggung yang diincarnya adalah perempuan yang dikabarkan tercantik di sana, putri seorang Menteri yang tidak pernah memunculkan wajahnya ke sembarang orang. Shao-yu melakukan trik sehingga dia bisa lihat anak Menteri dan jatuh cinta padanya. Ini jatuh cinta yang ketiga. Sang Menteri dengan senang hati melepaskan anak gadisnya karena Shao yu lulus ujian dengan peringkat pertama. Pertunangan diresmikan dan Shao-yu mendapatkan pelayan perempuan yang kemudian lagi-lagi dia jatuh cinta padanya. Jatuh cintanya yang keempat.

Pernikahan terus tertunda karena Shao-yu lalu terjebak urusan pemerintahan. Dia sukses meredam pemberontakan dari wilayah perbatasan karena merasa tidak diperhatikan oleh Kaisar. Dia sukses melawan pasukan Tibet dengan bantuan seorang pembunuh perempuan yang diutus membunuhnya yang malah berbalik mencintainya. Haiya, ini adalah jatuh cinta kelimanya.

Atas kesuksesannya Shao-yu diangkat menjadi Perdana Menteri Dengan statusnya ini, adalah Ibu Suri yang gemes menjodohkan putrinya Lin-Yang dengan Shao-Yu. Tetapi Lin-Yang tak ingin menyakiti putri Menteri tunangan Shao-Yu, dia bilang “pernikahan yang diawali dengan rasa sakit hati perempuan lain adalah tidak benar.” Ibu Suri lalu dengan brilian mengadopsi putri Menteri menjadi anaknya, dengan demikian tidak melanggar hukum karena keduanya adalah putri kerajaan yang tidak terpisahkan untuk berbagi suami. Maka demikian keputusan kerajaan, Shao-Yu memiliki dua isteri sah dan sementara ini empat selir, ditambah naik jabatan menjadi Adipati.

Dalam perjalanan hidupna, Shao Yu bertemu dengan dua lagi perempuan yang menjadi selirnya sehingga total enam selir dan dua isteri. Singkat cerita, mereka hidup bahagia dengan masing-masing isteri memberikan satu keturunan untuknya. Sampai di usia senjanya, Shao Yu memutuskan semua keduniawiannya yang sempurna untuk mengabdi pada Buddha.

Saat itulah dia bertemu kembali dengan gurunya dan tersadar bahwa semua keindahan hidup itu hanyalah ilusi, sebagai bentuk hukuman padanya. Shao-yu kembali menjadi Hsing-Chen yang kini memahami bahwa ketenaran, kejayaan, kekayaan dan kebahagian duniawi itu hanyalah ilusi yang telah diciptakan untuknya. Dalam ketiadaan dia menemukan ketenangan. Kedelapan peri itu pun mengabdi pada ajaran Buddha, mengganti pakaian mereka dengan jubah dan menggunduli kepala mereka. Hsing-Chen dan kedelapan peri mengabdi dan menyebarkan ajaran Buddha hingga pada waktunya mereka diterima surga.

Saya spoiler banget ya. Tapi kamu tetap harus baca dan ikutan terkesima seperti saya dengan kata-kata yang diterjemahkan dengan apik. Sebelum membaca novel ini, saya sudah riset lebih dulu review dari beberapa akademisi sastra dan juga aktivis perempuan. Salah satu yang saya ingat sekali, sebuah peringatan bahwa segala sesuatunya harus ditempatkan dalam konteksnya, yaitu abad 17 ketika poligami adalah sesuatu yang diterima dalam kehidupan bangsawan. Berat untuk tidak komentar tentu saja, kalau tahu pernikahan tidak boleh berdasarkan pada rasa sakit perempuan lain, terus kenapa tetap maksa nikah oi? Apa rasa cemburu bisa dimatikan dan dialihkan jadi rasa persaudaraan antar perempuan dalam sebuah rumah tangga dengan satu suami dan ketujuh perempuan lainnya? Setiap isteri dan selir punya ruangan masing-masing dalam kompleks rumah Shao-yu, yaloh ga perlu jauh-jauh jogging yak, cukup menyantroni setiap kamar dengan lari-lari kecil.

Terlepas dari itu semua, ini karya klasik yang tentu menarik untuk dibaca, melemparkan saya pada imajinasi kehidupan abad 17 di Korea dengan kehidupan kerajaan yang penuh intrik. Tanya dong kenapa saya pilih buku ini?

Kim Man Jung dikabarkan adalah leluhur Kim Seokjin, iya, kesayangan saya selama setahun ini, member dari BTS. Saya membayangkan Hsing-Chen aka Shao-yu adalah Kim Seokjin, apalagi ada kalimat dari salah satu perempuan itu bilang, “dia adalah laki-laki sempurna, yang akan sangat mudah kamu temui bersinar di antara kerumunan. Dia adalah phoenix di antara ayam-ayam” ((ayam-ayam))! Tetapi pada bagian dia berbagi cinta dengan kedelapan peri, saya berkali-kali jitak kepala, “amit-amin Jin, jangan begitu yak. Yaloh jangan sampai Jin.” Seperti time travelling, yang digambarkan Man-Jung di abad 17 adalah cicitnya Kim Seokjin di 2021, yang brilliant, bersinar, dan sangat kreatif dengan ide-idenya yang ajaib. Ah sudahlah… bacalah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s