Selama profit yang dikejar, selama itu pula kerusakan akan terus terjadi. Review Consequence of Capitalism, Noam Chomsky dan Marv Waterstone.

Standar
Selama profit yang dikejar, selama itu pula kerusakan akan terus terjadi. Review Consequence of Capitalism, Noam Chomsky dan Marv Waterstone.

Saya akan memulainya dengan angka, bahwa ada lebih dari 800 pangkalan militer Amerika Serikat di seluruh dunia. Pertanyaannya adalah untuk apa? Melindungi siapa? Apakah keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat semata-mata untuk menjaga dunia tetap dalam koridor demokrasi, freedom, atau kemerdekaan siapa?

Buku Consequence of Capitalism yang ditulis Comsky dan Waterstone tidak diawali dengan menjawab pertanyaan di atas itu. Tapi mereka memulainya dengan pengertian tentang Common Sense, atau hal yang dianggap lumrah, wajar dan dapat diterima oleh publik. Keduanya tentu bicara dalam konteks pemerintahan negara Amerika Serikat tetapi tidak bisa lepas dari hegemoni global Amerika dan Eropa di dunia. Imperialisme di abad 17 – 19 sudah ganti rupa saja dengan penguasaan militer dan finansial dalam kerangka globalisasi. Barat yang melakukan imperialism dan menghancurkan kehidupan negara-negara bekas jajahan di Afrika, Asia dan Amerika Selatan, mereka juga yang menggaungkan kampanye tentang demokrasi dan hak-hak asasi manusia. Kamu boleh menyebutnya ironi. Setelah Perang Dunia II, Amerika tak punya lawan dan melebarkan hegemoni dalam sebutan Great Area. Amerika merasa perlu melindungi dunia dari ancaman Rusia, bahkan saat Rusia nggak ngapa-ngapain and no where to be found – kata Chomsky. Sejak Perang Dunia II itu, Amerika tidak pernah berhenti berperang bahkan dalam satu tahun pun, dan itu seolah dianggap wajar.

Common Sense dipakai untuk kepentingan melindungi kekuatan hegemoni. Contohnya bahwa neoliberalisme adalah ideologi yang diterima di seluruh dunia, bahwa sukses atau tidaknya seseorang sangat bergantung pada dirinya sendiri, bukan orang lain, masyarakat apalagi negara. Bahwa demi menjaga demokrasi, maka Amerika Serikat “sah” saja mengirimkan tentaranya ke Vietnam, lalu di Afghanistan, Irak dan memusuhi Iran atau negara-negara yang diyakini membawa paham ideologi lain di luar demokrasi. “be with us or be our enemy.” Dengan bendera kampanye demokrasi, seolah Amerika sah untuk mengintervensi kedaulatan negara lain.

Apa hubungannya dengan kapitalisme? Inikan soal politik. Buku 344 halaman ini berisi sejarah, dokumen-dokumen rahasia yang baru bocor di kemudian hari, tentang kepentingan-kepentingan ekonomi di balik kampanye demokrasi global. Kepentingan apa yang ada di Irak? Iya betul minyak. Begitu juga dengan Venezuela, Amerika merasa perlu untuk melindungi sumber minyak bumi di sana, lalu didukunglah pemimpin boneka untuk kepentingan mereka. Persis di Indonesia 1965.

Untuk melindungi kepentingan ekonomi para pemain aka kapitalis itulah, perlu orang atau sekelompok orang yang mampu memberikan rasionalisasi terhadapnya. Industri kehumasan adalah bagian penting untuk menggaungkan kampanye, retorika, propaganda pemerintah melalui media. Militer dilibatkan tentu saja untuk melindungi itu semua melalui kekuatan senjata. Militer diperlukan bukan untuk melindungi warga dunia, tapi kepentingan ekonomi.

Awalnya C-M-C, komoditas dibuat untuk memenuhi kebutuhan manusia, yang kemudian ditukarkan dengan alat tukar bernama uang untuk membeli komoditas lain. Tapi ketika komoditas yang dihasilkan surplus, dan harus terjual untuk menghasilkan uang, maka di situ bermain promosi dan marketing yang membuat seolah komoditas itu sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi. Komoditas dihasilkan untuk menghasilkan profit, lalu diputar lagi untuk menghasilkan profit yang lebih besar, sampai ketika sampai komoditas jenuh dan tak laku di pasaran, muncullah investasi ghoib bernama investasi finansial. Begitu seterusnya dengan konsekuensi pada kerusakan lingkungan dan kehidupan sosial.  

Setelah perang dunia kedua, masa itu disebut masa keemasan kapitalisme, yang dikontrol oleh negara, serikat buruh memegang peranan penting dan pengusaha harus menjamin kesejahteraan buruh. Tentu saja itu tak banyak menguntungkan kapitalis. Common sense kemudian diacak-acak, resistensi muncul untuk membangun rasionalisme baru, neoliberalisme yang dikukuhkan Ronald Reagen di Amerika dan Margareth Thatcher di Inggris Raya. Tidak ada kelas dalam masyarakat, yang ada adalah individu dan negara tidak boleh membatasi pasar. Semua harga ditentukan oleh pasar. Yang terjadi kemudian sampai hari ini adalah jurang luas antara buruh dan CEO, antara perempuan dan laki-laki, si kaya dan si miskin. Kekayaan dunia bertumpuk pada sekelompok orang saja.

5 bab buku ini kita diajak jalan-jalan melintas waktu dan tempat, dan dua bab terakhir adalah tentang respon dan perlawanan juga perubahan sosial. Resistensi terjadi ketika apa yang seharusnya menjadi Common Sense ternyata tidak jadi Common Consent, pengetahuan umum tapi tidak kesepakatan umum. Ada kegelisahan di masyarakat tentang politik dan situasi ekonomi. Chomsky mengajak kita untuk kritis membaca, jika ingin tahu apa itu Common Sense, pantau headline di media massa, satu hari atau dalam seminggu. Apakah yang disampaikan seragam? Apakah sumber yang dikutip dan angle yang disampaikan sama? Jika iya, kamu masuk tahap Pretext, mempertanyakan hal tersebut, tidakkah janggal? Absurd dan ada apa di balik keseragaman berita itu? Lalu masuk ke tahap Reason, cari tahu alasan sebenarnya dari Common Sense itu, apa yang tidak diungkap dalam keseragaman itu?

Waterstone bilang, ketika ada respon, perhatikan apa respon itu untuk melakukan perubahan baru atau mempertahankan status quo? Ketika ada resistensi, selalu ada counter atau respon balik dari pemerintah untuk menggagalkan hal tersebut. Tapi jangan putus asa, resistensi sebesar Occupy Wall Street walaupun tidak menghancurkan kapitalisme, tapi setidaknya menjadikan kritik terhadapnya sebagai wacana umum di publik. Begitu juga dengan Black Lives Matter dan Gerakan lainnya. Perubahan sosial butuh waktu panjang, tapi bukan tidak mungkin. Kalau Neoliberalisme bisa jadi new Common Sense, bukan tidak mungkin Green New Deal juga akan dapat menjadi idealism perubahan baru. Pesannya, harus terus konsisten pada perjuangan. Eeaaa.

Saya pembaca setia Noam Chomsky, yang meskipun bukunya penuh depresi, tapi dia selalu berusaha menyelipkan harapan. Dia percaya selama masih ada orang-orang seperti AOC, Klein dan Sanders, resistensi terhadap hegemony dan ide-ide segar perubahan akan selalu muncul. Waterstone, saya baru tengok kemarin gambarnya di Google, nevertheless, cara dia menyampaikan kuliah yang ditranskrip dalam buku ini, sangat menarik dan lucu. Haish langsung merasa pengen kuliah lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s