Kekuatan fandom menggerakkan politik sipil. Review Politics for the Love of Fandom by Ashley Hinck

Standar
Kekuatan fandom menggerakkan politik sipil. Review Politics for the Love of Fandom by Ashley Hinck

Semasa Green Radio mengudara, kami pernah punya acara “Suara Komunitas” menghadirkan komunitas dengan kegiatannya. Kami percaya komunitas-komunitas non formal ini punya kekuatan untuk menggerakkan massa, melakukan perubahan baik. Tetapi respon tak selalu positif memang, radio dianggap sebagai radionya komunitas, LSM ga ada duitnya. Dan begitulah.

Ketika dunia bergerak semakin liat, semakin cair meski dibatasi layar 14 inchi, perubahan justru terjadi dengan sangat cepat dan massif. Sekat-sekat institusi format semakin menghilang. Dulu pemuda ditemui di ruang Karang Taruna, sekolah dengan bangunan kaku seperti kanebo menjadi arena sosialisasi, begitu juga dengan institusi keagamaan. Tetapi hari ini, identitas seseorang semakin banyak, tak melulu dibatasi oleh gender, usia, agama, tingkat pendidikan, demografi umum yang kita temui di project.

Hari ini, setiap orang punya ruang nyamannya bersama kelompok yang membuat mereka merasa diterima apa adanya tanpa perlu bendera latar belakang yang membatasi ruang gerak. Namanya fandom, kelompok penggemar. Mereka punya nilai etik yang diusung, dan punya modalitas etika yang digunakan untuk mewujudkan kerangka etik yang mereka percaya.

Hinck, penulis buku ini adalah penggemar Harry Potter dan bergabung di klub penggemar, Harry Potter Alliance. Grup ini berhasil dalam kampanye yang membuat Warner Bros beli coklat dengan sistem fair trade. Di buku ini juga Hinck menghadirkan 4 cerita fandom lainnya. Klub penggemar AmericanFootball yang mengajak pemain dan penggemar menjadi mentor untuk anak-anak sekolah dasar. Ada youtuber untuk kutubuku, atau Nerd yang menjadi ajang saling berbagi. Greenpeace yang mengajak penggemar LEGO dewasa ALOF untuk menggagalkan kerjasama LEGO dengan SHELL, dan UNICEF dengan memanfaatkan penggemar Star Wars.

Apakah setiap Gerakan yang melibatkan fandom akan berhasil? Tentu tidak semudah itu malih. Seperti di atas dijelaskan, menggerakkan fandom harus paham dulu kerangka etika apa yang berlaku di kelompok mereka, lalu sesuaikan dengan modalitas apa yang mereka punya. Fandom adalah sekumpulan orang dengan obyek kesenangan yang sama. Untuk dapat memahami mereka, maka harus pula dapat memahami tentang obyek tersebut. Tidak bisa ujug-ujug hanya karena melihat fandom sebagai super kekuatan Gerakan sipil, serta merta mencari, membujuk dan menggaetkan mereka untuk kepentingan tertentu. Fandom berisikan orang-orang yang cerdas untuk memilah kesesuaian kampanye dengan etika mereka.

Selama ini fandom dianggap sebagai sekedar kelompok histeria, tetapi Hinck bilang sudah saatnya fandom dilihat sebagai sebuah kekuatan untuk melakukan perubahan. Jangan mocking atau melecehkan kekuatan besar para fan, yang dalam kelompoknya mereka belajar dan saling berbagi nilai, dan sikap politik tertentu.

Tetapi Hinck juga mencatat, dari keempat contoh yang dia ambil, tentu saja ada kelemahan. Fandom tidak semuanya “welcoming” terhadap fan baru. Seperti American Football, LEGO, Star Wars dan Nerdfighter didominasi oleh kulit putih dan laki-laki, maskulin. Fan kulit berwarna dan perempuan seolah dibatasi ruangnya dalam kelompok ini. Meski mereka menyangkal hal tersebut, tapi studi Hinck menemukan hal tersebut.

Saya sengaja tak detail membahas bagaimana proses engaging fandom untuk kepentingan politik, ngeri. Buku ini rada bahaya kalau di tangan partai yang sedang liar menggeliat cari dukungan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s