100 tahun sejarah Korea dalam cerita satu keluarga. Review Pachinko karya Min Jin Lee

Standar
100 tahun sejarah Korea dalam cerita satu keluarga. Review Pachinko karya Min Jin Lee

Pachinko. Saya bahkan tak tahu ini apa, tidak juga iseng mencari artinya. Saya terus membaca buku setebal 531 halaman tanpa menghitung acknowledgement dan preview buku lain, berharap saya akan menemukan arti Pachinko. And I did, di halaman kesekian ratus.

Dalam fiksi memang tak melulu harus menjelaskan definisi kata seperti non fiksi, selama ceritanya bisa mengalir, pembaca akan mudah memahami dan menemukan sendiri artinya. Begitu juga di buku ini. Tadinya saya berpikir Pachinko hanya sekedar judul, ternyata ini adalah nadinya cerita. Di Pachinko sejarah keluarga Baek mengalir. Butuh cerita satu keluarga untuk menjabarkan 100 tahun sejarah Korea, semenanjung yang dikuasai Jepang, dibelah oleh ideologi politik menjadi Utara dan Selatan dan imigran Korea di Jepang hidup dalam diskriminasi.

Cerita dimulai dari kehidupan seorang anak berkebutuhan khusus, kakinya menekuk. Tak ada keluarga yang mau punya menantu seperti itu kecuali keluarga Yunjin yang miskin dan menikahkan Yunjin agar mereka bisa makan. Yujin mencintai Hoonie dengan segala keterbatasannya, mengurus penginapan untuk nelayan yang mampir ke Busan. Lima kali Yujin keguguran sebelum melahirkan Sunja.

Anak perempuan yang hidup bahagia itu jatuh cinta pada lelaki dewasa dan hamil. Hansu sudah menikah di Jepang dan berharap Sunja mau menjadi simpanannya di Korea. Perempuan simpanan statusnya sangat rendah. Isak Baek, pendeta muda dengan penyakit TBC menikahi Sunja untuk menyelamatkan nama baiknya dan mereka hijrah ke Osaka karena Isak mendapatkan pekerjaan sebagai pendeta di sana.

Di sinilah cerita dimulai. Di Osaka, orang Korea seperti keluarga mereka hidup kumuh, bahkan berbagi ruang dengan babi. Satu rumah dua keluarga, Isak dengan Sunja, Yosep dengan Kyunghee, lalu lahir Noa dan menyusul adiknya Mozasu. Noa menyukai sekolah, menguasai semua pelajaran dan bercitacita kuliah. Mozasu sebaliknya, dia keluar dari sekolah dan bekerja di Pachinko, kemudian menjadi pebisnis hingga novel berakhir.

Pulang kembali ke Korea berarti mati kelaparan, perempuan-perempuan muda Korea yang berusaha kabur dari tekanan Jepang diimingi kehidupan baik di Manchuria, berakhir di rumah bordil. Di Jepang sendiri, orang Korea dianggap parasite, kotor dan rendahan. Tak banyak bisnis milik Jepang yang mau menerima orang Korea. Sementara Yosep, seperti juga lelaki dari budaya patriarki yang kental, merasa terhina jika dua perempuan di rumahnya membantu mencari nafkah, terutama setelah Isak Baek di penjara dan meninggal karena mempertahankan prinsipnya.

Ketika perang dunia kedua pecah, Amerika menghajar Jepang, di situlah tokoh Hansu, ayah kandung Noa muncul kembali dalam kehidupan Sunja dan keluarga. Hansu adalah Yakuza, kelahiran Jeju yang diadopsi pimpinan Yakuza dan menikahi anak bosnya. Hansu menyelamatkan keluarga ini dan mulai mengatur kehidupan Noa.

Belasan tahun kemudian, Noa tahu darah Yakuza mengalir di tubuhnya. Dia kabur, mengubah nama dan menjadi Jepang. Ketika Sunja menemuinya, kepahitan itu muncul kembali, Noa bunuh diri. Dia tak pernah bisa memaafkan keadaan yang membuatnya merasa kotor terlahir sebagai anak seorang Yakuza.

Kalau dipikir cerita berakhir di sini, ah tidak kawan. Masih ada cerita tentang anak Mozasu bernama Solomon yang akhirnya bisa sekolah tinggi di Colombia University Amerika. Ketika kembali, seperti harapan keluarga adalah bekerja di perusahaan asing dan terbebas dari stereotype orang Korea di Jepang. Bosnya seorang Jepang, yang awalnya baik tapi ternyata memanfaatkan Solomon. Solomon pun berakhir bekerja di Pachinko milik ayahnya. Sejujur apapun hidupmu, Pachinko punya stigma yang terlanjur buruk, ditambah darah Korea, selamanya keluarga Korea di Jepang tak pernah bebas dari prasangka.

Novel ini menceritakan peliknya perjuangan mencari identitas diri, apakah seseorang bisa dengan menolak siapa orang tuanya? Darimana dia berasal? Bisakah mengubah rupa, aksen bicara semudah mendapatkan identitas baru di atas dokumen resmi? Bisakah mengubah kultur yang hidup dalam keluarga, sebagai sebuah bangsa? Tak bisakah kita hidup sebagai pribadi as a person?

Novel ini juga bercerita banyak tentang perempuan dalam budaya Korea. Istilah Go-saeng berarti perempuan harus menderita sebagai anak, isteri, dan ibu, berkorban untuk anak, suami dan keluarga. Melakukan semua pekerjaan 24 jam, 7 hari seminggu demi keluarga dan nama baik keluarga. Kesalahan remaja Sunja membuatnya “dihukum” menderita sepanjang hidup, kehilangan Isak, Noa dan Yungjin ibunya, termasuk Honsu lelaki pertama yang singgah di hatinya. Ketika Sunja bertemu dengan calon cucu-mantu, Phoebe, orang Korea yang lahir dan besar di Amerika, perempuan mandiri, berpendidikan dan tak pernah masuk dapur, Sunja membatin “cukup sebenarnya buat perempuan mencintai dirinya sendiri, dan lalu membagi cintanya untuk keluarga, tanpa harus menderita.” Sunja melakukan pemberontakan sejak remaja, dia pergi ke pasar sendiri, dia mengungkapkan cinta, dia bekerja dan berjualan di pasar, dia mendidik anak-anaknya dengan baik. Satu-satuya kebahagian untuk Sunja adalah melihat anak-anaknya bahagia, dan setengah kebahagiaannya hilang ketika Noa mati.

Min Jee Lee adalah seorang Korea yang tinggal di Amerika. Dia butuh 24 tahun menyelesaikan novel dan it’s worth it every single page to read.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s