Generasi Millenial Lelah Hayati. Review Buku Can’t Even karya Anne Helen Petersen

Standar
Generasi Millenial Lelah Hayati. Review Buku Can’t Even karya Anne Helen Petersen

Buku ini memberikan batasan generasi milenial adalah mereka yang lahir 1981 – 1996. Dua generasi sebelumnya adalah X yaitu saya dan Bommers – orang tua saya dan kakek nenek dan seterusnya. Generasi milenial tertua saat ini berusia 40 tahun dan termuda adalah 35 tahun. Masa sedang sibuknya bekerja double shift siang malam, tanpa memerhatikan Kesehatan jiwa dan raga, demi membayar tagihan sekolah anak-anak, rumah, kendaraan, memenuhi tuntutan social agar tak turun kelas, dan mengurus orang tua. Betapa pun kerasnya melakukan usaha, tabungan tak kunjung kelihatan cukup untuk masa depan, demi anak-anak. Lalu pandemic datang tahun lalu mengacaukan semua agenda, sebagian dari kita bahkan kehilangan pekerjaan, semua mulai lagi dari nol. Anne Helen Petersen memulai bukunya dari cerita pribadinya, sebagai jurnalis lepas, akademisi yang belakangan baru menyadari betapa melelahkan hidupnya.

Sialnya tak banyak dari generasi milenial mengakui dirinya mengalami kelelahan luar biasa lahir batin, atau bahasa kerennya burnout. Dan ketika mengakui mereka depresi, stress dan burnout, obatnya selalu disematkan personal. Kamu kurang bersyukur, banyaklah berdoa, kembali pada agama, dan atau obat penenang. Mulai dari guru spiritual, psikolog, yogi dan para coach, motivator semua menumpukkan masalah Lelah hayati ini sebagai isu personal, bukan social. Padahal, akarnya ada di dalam kehidupan social yang sistemik, namanya kapitalisme.

Begini ceritanya. Dalam kapitalisme, yang dituntut adalah pertumbuhan atau growth, dengan seminimal mungkin ongkos produksi di dapat keuntungan sebesar-besarnya. Ada pergeseran paradigma, setelah great depresi tahun 1930-an, ekonomi menempatkan pekerja sebagai asset. Karena hanya dengan jaminan kesehatan yang baik, pensiun, pendidikan untuk anak-anak mereka, para pekerja bisa bekerja lebih produktif tanpa dibayang-bayangi tanggungan tersebut. Lalu Ketika neo-liberal muncul di tahun 80an, sentral kehidupan beralih pada individu. Bahwa individu termasuk pekerja bertanggungjawab atas dirinya sendiri.

Geser lagi ke akhir 90an sampai hari ini, gig economy menjadi perpanjangan dari liberalisme ekonomi. Kalau bisa diselesaikan oleh para pekerja lepas, untuk apa memelihara pekerja tetap? Passion menjadi jargon baru. Kalau kau bekerja sesuai passionmu, dibayar secukupnya okay lah, yang penting hati senang. Iming-iming kebebasan berkreasi, mengatur diri sendiri, mengatur jam kerja yang akhirnya terjebak pada pekerjaan tanpa jeda. Kebebasan itu bayarnya mahal, harus memikirkan asuransi kesehatan sendiri, atau jaminan pensiun. Dengan label freelance, orang melihatmu punya waktu banyak sampai tidak ada waktu pembeda antara urusan kerjaan dan pribadi. Apa itu weekend? Apa itu me time? Semua pekerja didorong untuk bekerja seperti kuda untuk bisa mencapai apa yang disebut sukses dalam bentuk materi. Apalagi saat pandemic ketika pekerjaan dibawa ke dalam rumah, tak ada lagi batasan urusan rumah tangga dan kerja. Semua menyatu.

Dulu standar lulus SMA cukup untuk bekerja di belakang meja, ketika semakin kompetitif, naiklah standar menjadi S1. Sekarang S2 apalagi lulusan luar negeri, barulah sedikit ada di atas angin di dunia yang semakin kompetitif. Apakah kemudian masalah selesai? Belum tentu malih.

Lalu milenial menikah. Buku ini bercerita, seprogresif-progresifnya pasanganmu, ketika urusan rumah tangga, tetap perempuan yang dijadikan andalan. Perempuan kemudian “dipaksa” memilih untuk mengurus rumah tangga atau bekerja. Kalau pun memilih bekerja, tetap dituntut agar keluarga diperhatikan. Alhasil, perempuan bekerja 24 jam, pasangan laki-lakinya?

Kalaupun kemudian pasangan sama-sama bekerja, mereka harus membayar pengasuh dan PRT untuk menjaga anak-anak dan mengurus rumah. Biayanya menjadi bertambah, kalau tidak ada pengasuh, penitipan anak juga tidak murah. Atau sekolah full-day, agar anak-anak tidak sendirian di rumah, biaya lagi dan itu tidak sedikit. Orang tua milenial lelah hayati lagi.  Ketika pertengkaran terjadi sampai pada perceraian, perempuan akan mendapat beban berlipat ganda karena pengasuhan biasanya jatuh pada perempuan sementara biaya tak jadi tanggungan bersama. Ini belum bicara tentang biaya pendidikan dan kesehatan anak-anak. Berapa anak? 1, 2 atau 3? Bahwa anak membawa rezekinya masing-masing? Ntar dulu, anak-anak juga tidak pernah minta dilahirkan dari rahim ibunya, melahirkan dan membesarkan mereka adalah tanggungjawab orang tua, yes.

Burnout lagi.

Bayangkan jika pendidikan anak-anak disokong negara secara adil, tidak perlu orang tua memilih swasta yang biayanya alakazim untuk pendidikan yang lebih baik, karena sekolah negeri pun punya kualitas yang sama. Kalau saja perempuan diperlakukan adil dalam penggajian dan dijamin tidak kehilangan pekerjaan karena cuti melahirkan atau harus absen mengurus keluarga yang sakit, tentu akan beda cerita. Kalau saja freelancer, pekerja gig economy seperti kontraktor IT, supir ojek online, kurir juga mendapatkan jaminan minimal standar minimum gaji, tentu mereka tidak menghabiskan 24 jam untuk memenuhi tuntutan hidup. Kalau saja budaya patriarki tidak dengan senang hati menyokong kapitalisme, dan jam kerja di luar dan di dalam rumah bisa secara adil dibagi oleh pasangan, tentu keseimbangan hidup itu bisa didapat.

Kapitalisme pada akhirnya akan mati, iya lah, ketika pada akhirnya generasi milenial tidak lagi punya waktu untuk memikirkan seks, menikah apalagi punya anak, akan hilang generasi pekerja di masa mendatang. Jepang, dan Korea, sudah mengalami angka penurunan kelahiran bayi yang signifikan, siapa lagi anak menyusul?

Milenial sudah mulai berontak, Fuck Passion Pay ME! Jangan mau lagi diembel-embeli tawaran sesuai passion lalu kamu dipaksa bekerja sampai mampus.

Buku ini sangat perlu dibaca oleh semua generasi. Bommers cenderung menyalahkan milenial dengan menyebut mereka sebagai generasi pemalas dan keras kepala. Hola om tante, milenial adalah hasil cetakan ajaran kalian loh. Apa yang mereka tampilkan sekarang tak lebih dari jawaban atas tuntutan yang disematkan kepada mereka sejak lahir. Belajarlah memahami.

Saya tutup review ini dengan lagu NO dari BTS, liriknya menggambarkan kelelahan luar biasa bagi generasi muda milenial dituntut kehidupan material, seperti boneka kayu yang dikendalikan orang dewasa, lalu siapa yang bertanggujawab?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s