Adalah Mitos Influencer Bisa Melakukan Perubahan Sosial. Review Change karya Damon Centola

Standar
Adalah Mitos Influencer Bisa Melakukan Perubahan Sosial. Review Change karya Damon Centola

Pasti masih segar diingatan ketika vaksin anticovid pertama kali disuntikan di Indonesia, salah duanya adalah Presiden dan influencer Raffi Ahmad. Harapan mengajak influencer adalah untuk meyakinkan publik bahwa vaksin itu penting dan aman. Lalu publik dibikin kecewa ketika beberapa jam setelah vaksin, Raffi berkerumun dengan tamunya di rumah dan diunggah di sosial media. Long story short, kalau sekarang kemudian vaksin justru diperebutkan oleh warga, apakah itu artinya Raffi berhasil meyakinkan vaksin aman?

Tidak semudah itu prosesnya Fergusso. Perubahan sikap seseorang menurut Damon Centola dalam bukunya Change bukan seperti virus covid yang menular hanya karena kita berdekatan tanpa perlindungan dengan pembawa virus. Penularan perubahan sosial itu rumit prosesnya dan jangka panjang. Kalau yang dituju sekedar informasi, iya betul, menggunakan strategi Shotgun, sekali tembak lewat berbagai saluran informasi adalah tepat. Menggunakan silver bullet strategy dengan influencer juga tepat. Tapi jika yang dituju adalah perubahan sikap, manusia itu makhluk sosial yang dipengaruhi sekitarnya sebelum berubah. Orang berubah disebabkan beberapa faktor, yaitu informasi dan contoh yang berulang-ulang disampaikan atau redundant, relevan dengan kebutuhan atau nilai-nilainya, peer pressure atau tekanan rekan sebaya, melihat contoh dari orang lain yang berhasil berubah, dan ketika ada social reinforcement, perubahan yang dipaksakan dengan otoritas pemeritahan misalnya. Perubahan perilaku juga membutuhkan waktu dalam proses difusinya. Bukan hanya karena dia selegram atau influencer akan mampu dipercaya followernya dan diikuti tindak tanduknya lalu perubaha terjadi dalam semalam. No no no… Fergusso lelah.  Dalam contoh Google Glass yang disebutkan dalam buku ini, penggunaan influencer malah bisa jadi backfire atau senjata makan tuan bagi gagasan itu sendiri. Influencer bisa juga jadi antipati pada gagasan baru dan menyebarkan ketidaksepahamannya ke orang lain, akibat terburuk adalah mematikan gagasan baru tersebut.

Buku ini semacam refleksi buat saya yang dikelilingi dua kelompok penting di ruang publik. Kelompok jurnalis dan media yang percaya, berita yang disiarkan massive dan terbuka adalah perlu untuk melakukan perubahan. Kelompok lainnya tempat saya bergaul adalah aktivis lingkungan dan perempuan yang selama ini seperti berteriak di ruangan sendiri, berkutat di fishing-netnya sendiri perubahan yang ingin dicapai memakan waktu bertahun-tahun tapi sulit sekali menunjukkan progresnya. Apa yang sudah benar dan apa yang salah dalam strateginya?

Buat Centola, saya adalah individu yang ada di outer-rim, di periphery narrow-bridge yang dapat membawa ide gagasan ke jembatan yang lebih besar, saya justru aset yang dapat mempertemukan kepentingan dua kelompok ini, jurnalis/media dan NGO. Ketika kawan-kawan aktivis ingin melakukan perubahan, mereka perlu mengikutkan orang-orang yang bisa menjembati gerakan mereka dengan kelompok berbeda, agar gerakan bisa dibawa keluar dari lingkaran sendiri, mencapai tipping-point dan perubahan pun terjadi. Pun sebaliknya, media sangat mungkin melakukan framming untuk sebuah perubahan dan tanpa framming untuk “tujuan baik” perubahan juga akan sulit tercapai karena berita seperti ratusan peluru yang dilepaskan bebas tanpa tujuan, publik  kewalahan menghadapi informasi berlimpah.

Pada konteks tertentu, perubahan sosial dalam dilakukan dengan strategi snowball yaitu memilih tempat yang tepat untuk inkubasi gagasan baru, jika berhasil ini dapat direplikasi ke tempat lain dan seterusnya hingga mencapai tipping pointnya dan perubahan itu sustain. Contoh yang dia berikan dalam buku ini adalah perubahan pola tani di mozambique, dan pemasangan solar atap di lingkungan perumahan di Jerman. Orang itu sifatnya meniru, melihat contoh yang konsisten dilakukan dan relevan dengannya.

Soal relevansi gagasan baru, ini akan beririsan dengan bias, tidak ada network yang netral. Setiap orang pasti punya nilai-nilai sendiri yang dia percayai, tentu bukan perkara mudah mengubah nilai orang, tapi mungkin ga? Mungkin. Cina menggunakan kekuasaan pemerintah, otoriter, tapi untuk perubahan sosial dalam arti yang lebih kecil, kita harus menemukan orang yang ada di ujung network itu, atau periphery, yang masih punya kontak dengan network di luar lingkarannya. Orang-orang ini yang bisa dilibatkan sebagai bagian dari infrastruktur perubahan.

Yang paling penting, buku ini mengajak kita berkenalan dengan komunitas terdekat, mengenali mereka dan kebutuhannya, dan temukan relevansi gagasan baru yang kita tawarkan dengan nilai-nilai yang sudah duluan ada. Fokus pada tempat khusus untuk inkubasi, bukan pada selebriti.  

Centola bukan tech-solutionist meski bicara tentang riset complex contagion dengan nodes-nodes dalam network society yang rumit dengan rumus matematika dan bikin saya megap-megap. Aselinya dia seorang sosiolog yang percaya, teknologi itu gimana manusia yang mengoperasikannya, membangun komunikasi dan interaksi di antara penggunanya. Buku ini penting dibaca untuk kawan-kawan aktivis agar kita tak melulu ephoria di lingkaran sendiri.

Kembali ke paragraph awal, silakan refleksikan sendiri, kalau hari ini kamu sudah menerima vaksin, apakah itu karena Raffi Ahmad?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s