Bagaimana Raksasa Teknologi Bertahan? Kunciannya Adalah Mendengar. Review Always Day One – Alex Kantrowitz

Standar
Bagaimana Raksasa Teknologi Bertahan? Kunciannya Adalah Mendengar. Review Always Day One – Alex Kantrowitz

Di era semua orang maunya bicara, para CEO raksasa perusahaan IT dunia justru membangun budaya mendengar. Dalai Lama bilang “When you talk, you are only repeating what you already know. But if you listen, you may learn something new.” Kalau kamu bicara, kamu hanya mengulang hal yang sudah kamu tahu sebelumnya, tapi kalau kamu mendengar, kamu mungkin dapat hal baru untuk dipelajari.

Itulah yang dilakukan Jeff Bezos, CEO Amazon, Mark Zuckerberg, CEO Facebook, Sundai Pichai dari Google dan Satya Nadella dari Microsoft. Hal lain dilakukan oleh Tim Cook di Apple yang dibahas juga konsekuensinya di buku yang ditulis reporter teknologi, Alex Kantrowitz ini. Di awal bukunya, Alex sudah disklaimer kalau buku ini ditulis bukan untuk mengagungkan kebesaran para raksasa IT ini tapi selalu ada hal baru yang bisa dipelajari mengapa mereka bisa bertahan. Dia menggali budaya apa sih yang dibangun di dalam perusahaan besar ini sehingga mampu bertahan di dunia dimana inovasi teknologi itu sangat cepat terjadi.

Pada sampul belakang Alex menulis, “Day One” itu adalah kode di Amazon untuk selalu berpikir seperti startup saat mereka memulai mewujudkan inovasinya. Jeff Bezos bilang “statis, diikuti ketidakreleavanan, diikuti oleh kemunduran yang mengerikan, lalu mati.” Intinya jangan pernah puas dengan kemajuan yang dicapai saat ini, harus terus berinovasi agar selalu ada di Day One karena Day Two adalah kematian.

Jeff Bezos menyediakan waktunya 45 menit setiap Jumat untuk diskusi dengan para letnannya tentang usulan para stafnya yang ditulis dalam 6 halaman dengan font calibri 11. Bezos melarang penggunaan PPT sejak 2014. Semua orang di Amazon diajak menuliskan ide mereka seperti menulis fiksi, dimulai dengan mimpi tentang apa yang mau mereka buat, lalu dirunut mundur tentang bagaimana mewujudkan mimpi tersebut. Orang dengan usulan terbaik dapat kesempatan untuk menyampaikannya di depan top management, jika usulan diterima, akan langsung dihubungkan dengan tim keuangan untuk menghitung ongkos produksinya dan diberi waktu juga tim untuk wujudkan mimpi itu.

Mark Zuckerberg membangun budaya “Feedback” dia takkan sungkan untuk duduk manis bersama para stafnya untuk mendengarkan masukan dari mereka tentang produk Facebook. Dia sadar sebagai orang teknis, pengetahuannya tak banyak tentang marketing dan juga management. Dia kemudian menghubungi beberapa pemimpin perusahaan untuk mengizinkannya mengikuti semua kegiatan pemimpin termasuk Bezos dan belajar. Zuckerberg juga memiliki lingkaran yang diisi orang orang yang selalu “menentang” nya. Dia tidak ingin hanya dikelilingi orang yang hanya sepakat dengannya karena dengan begitu dia tak dapat hal baru untuk dikembangkan.

Sundar Pichai membangun budaya kolaborasi di Google. Semua orang di Google tahu persis apa yang sedang dikembangkan di Google, tidak ada rahasia. Sebaliknya setiap orang dan tim bisa menyumbangkan hal yang dapat mendukung tim lain untuk memastikan inovasinya berjalan dengan baik. Dengan fitur yang ada di Google termasuk Google Doc setiap orang bisa berbagi informasi.

Tim Cook berbanding terbalik dengan Pinchai. Di Apple, setiap tim hanya mengurusi apa yang menjadi tanggungjawabnya, itulah yang menyebabkan inovasi di Apple terhambat. Siri keduluan Google Assisstant karena ada beberapa fiturnya yang tidak bisa dikembangkan. Turn over di Apple sangat tinggi, selalu orang baru untuk mempelajari semuanya dari awal. Tapi nilai “kerahasiaan” itu menjadi value jualan mereka yang menjunjung “privacy” dalam produk mereka, termasuk berani melawan permintaan FBI untuk membongkar isi hape apple salah satu tersangka kejahatan.

Satya Nadella butuh waktu untuk membongkar kebiasaan saling menyerang antar tim yang berkompetisi di Microsoft. Sejak hari pertamanya menjadi pimpinan di Microsoft, temuannya yaitu Cloud membuka mata perusahaan bahwa perusahaan tidak bisa dibangun dengan nilai kompetitive antar tim di dalamnya, tapi justru dengan kolaborasi. Setiap orang harus mau mendengarkan ide dari orang lain. Selain itu Microsoft besar karena mau mendengarkan kebutuhan pelanggannya. Ada tim khusus di marketing yang mendatangi pelanggan, menanyakan feedback dari produk mereka dan apa yang bisa dilakukan berikutnya untuk memudahkan hidup pelanggan. Masukan dari pelanggan dirangkum oleh tim marketing dan disampaikan oleh tim pengembang produk.

Apakah mereka berjalan tanpa cacat? Wah cacatnya banyak dan Alex tidak menutupi hal itu dalam bukunya. Amazon berkutat dengan isu tentang perlakuan terhadap buruhnya yang buruk, Facebook dengan isu privacy dan penyebaran informasi yang salah, Mark sibuk mendengarkan feedback dari para timnya sehingga melupakan gejolak yang terjadi di luar kantornya. Google dan Microsoft dengan isu pelecehan perempuan dan diskriminasi kesempatan bagi perempuan bergabung di perusahaan mereka.

Pada bab 6, Alex mengajak kita untuk membayangkan hal terburuk dari kemajuan teknologi, bahwa kita akan kehilangan rasa kemanusiaan, empati, nilai-nilai sosial dan kedekatan dengan keluarga, sahabat juga nilai agama. Otomatisasi bahkan menyingkirkan buruh manusia dari pekerjaannya dan ini akan menimbulkan krisis sosial.

Di bab 7, saya manggut-manggut ketika Alex bicara tentang filantropi yang dilakukan Mark Zuckerberg ketimbang bayar pajak. Zuckerberg bilang dengan filantropi di yayasan yang dibangun isterinya Chan, dia bisa mengembangkan revolusi dalam pendidikan sesuai dengan kebutuhan kepemimpinan masa depan. Cara mereka jauh berbeda dengan yang dilakukan pemerintah dengan pajaknya yang hanya mencetak pemimpin masa depan yang hanya bisa menghapal, mengejar nilai pelajaran, disiplin dan tidak punya budaya kritis dan inovatif. Sebenarnya saya gemes mereka menghindar pajak, tapi kalau itu alasannya saya jadi senyum sendiri, jleb banget. Budaya pendidikan kita memang masih mencetak buruh bukan inovator.

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s