Tiga Mantra Suci Pemerintahan dan Mari Dipikir Ulang. Review buku Wellbeing, Resilience and Sustainability: The New Trinity of Governance oleh Jonathan Joseph, J. Allister McGregor

Standar
Tiga Mantra Suci Pemerintahan  dan Mari Dipikir Ulang.  Review buku Wellbeing, Resilience and Sustainability: The New Trinity of Governance oleh  Jonathan Joseph, J. Allister McGregor

Satu lagi buku yang mengganggu ketenangan dan kenyamanan cara pandang saya sebagai orang yang bekerja di dunia development sejak 2008. Artinya buku bagus, dan wajib dibaca oleh kawan-kawan di dunia saya, juga yang bergerak di politik. Markipas, mari kita kupas.

Ketiga mantra suci tata kelola pemerintahan, wellbeing (kesejahteraan), resilience (daya lenting) dan sustainability (keberlanjutan) seolah menjadi wajib ada dan dicantumkan serta menjadi prinsip dasar membuat kebijakan, dalam proses politik. Apakah ujug-ujug datangnya? Matra terakhir tentang sustainability yang sangat dekat dengan alam, itu sudah dibahas sejak tahun 1970an. Ada kekhawatiran tentang aktivitas manusia yang mengekploitasi alam secara berlebihan dan menganggu ekosistem yang ada. Kekhawatiran itu tentu jadi angin lalu bagi para pemuja “growth” terutama ketika 1980an duo maut neoliberalisme Reagan dan Thatcher menggaungkan tentang kekuasaan absolut pada pasar yang seolah akan menyelesaikan masalah ekonomi dan meningkatkan pasar. Neoliberalisme menekankan pada individualitas, persaingan bebas termasuk antar individu, tak ada lagi yang namanya society, tak ada kelas sosial.

Lalu beberapa peristiwa terjadi, krisis finansial dunia 1998 dan 2008, lalu serangan terorisme di 9/11 2001,mengubah tatanan dunia, mengubah cara berpikir pemerintahan. Tapi bukannya mengakui bahwa sistem ekonomi dunia yang selama ini dijalankan itu salah, sebaliknya narasi yang diubah. Bahwa tanggungjawab kesejahteraan masyarakat, kemampuan masyarakat untuk bouncing back atau bertahan dari krisis dan bangkit lagi, serta keberlangsungan alam dan manusia, menjadi tanggungjawab personal. Oh yes, kamu pintar, kita kembali ke paragraph di atas. The ME CULTURE

Wellbeing – adalah tentang kesejahteraan yang levelnya personal. Apa yang membuatmu bahagia? Begitu pertanyaannya. Happiness movement atau gerakan menuju kebahagiaan bergaung. Referensi awalnya adalah kehidupan para biksu Budha yang hidup tenang dan melepaskan keduniawaian. Konsep yang merujuk pada agama tak laku di dunia yang sekular, lalu mereka mengubah narasi menjadi mindfullness – tbh, sampai sekarang masih kaga paham konsep ini sebenarnya. Bahwa yang terjadi kemudian, konsep ini being use and abused oleh kapitalis yang sama. bukannya melepas beban ekonomi, tapi ditawarkan pengalaman-pengalaman yang menenangkan pikiran dan itu tidak murah. Bahkan kesehatan mental menjadi produk jualan, ketidakwarasan menjadi tanggungjawab pribadi dan bukan sebuah konsekuensi dari gagalnya sistem sosial yang ada. Kita dibuat lupa bahwa ada banyak orang yang tidak punya privilese untuk keluar dari tekanan sosial. Bagaimana kamu bisa menjelaskan orang miskin yang bekerja lebih dari 12 jam sehari dan tetap miskin. Ada mereka yang penghasilannya di bawah standar, dihadapkan pada kebutuhan sehari-hari, bayar listrik dan air juga kontrakan, ditambah biaya sekolah dan kesehatan.

Resilience – ditempatkan pada level komunitas. Berbondong-bondong konsep ini dijejalkan pada masyarakat tentang bagaimana membuat mereka kuat bertahan dari bencana dan bangkit lagi. Penekanannya pada adaptasi bukan mitigasi, bukan pada bagaimana mencegah agar bencana tidak terjadi. Bicaranya tak lagi bagaimana menciptakan infrastruktur yang tahan gempa, tapi pada apa yang harus dilakukan jika gempa terjadi dan bagaimana membangun kehidupan kembali. Pada bagaimana menyelamatkan diri dari banjir daripada mencegah hulu tidak gundul. Jika pemerintah memberikan izin yang asal-asalan kepada pengusaha, maka yang salah adalah manusia yang menjadi korban, kenapa kamu tidak mampu bertahan. Nah, persis, segala izin dipangkas, termasuk tentang lingkungan, maka bersiaplah kita diminta untuk mampu bertahan dari bencana yang disebabkan olehnya.  

Terakhir, sustainability, atau keberlanjutan. Di sini yang berlanjut adalah kegiatan ekonominya, ahai. Konsep ini sangat dekat dengan isu lingkungan, ekologi, ekosistem yang prinsipnya menempatkan manusia sebagai bagian dari alam. Tapi yang terjadi sebenarnya adalah bagaimana agar aktivitas ekonomi tetap berlanjut tanpa merusak alam, begitu cita-cita mulianya. Bisa? Dengan Business as Usual, kita butuh 4 planet baru untuk mendukung ketamakan manusia atau kita punah tak kurang dari 100 tahun mendatang. Hasil negosiasi tingkat dewa saban tahun itu tak pernah benar-benar mengikat dan siapa yang mengontrol tak jelas. Yang jelas jenis kapitalisme baru yang muncul, green capitalism. Dunia barat bisa terus menghasilkan banyak emisi lalu mengkonversinya dengan membayar negara lain yang masih punya hutan untuk menyerap emisi. Jadi singkatnya yang dosa biar tetap melakukan dosa, nanti dihapus dengan memberikan uang pada orang lain. Seperti juga konsep tebang 1 tanam 100, mau tanam 1000 juga percuma, wong satu pohon butuh sekian puluh tahun untuk bisa berfungsi sama dengan yang ditebang dan dalam perjalanannya mereka rentan mati dalam kondisi seperti sekarang. Seperti konsep circular economy, kalau kita hanya menyelesaikan sampah di hilir, maka produsen sampah di hulu akan terus leluasa beroperasi menghasilkan sampah.

Lalu apakah kita tanggalkan saja tiga mantra suci ini? kata Jonathan Joseph, J. Allister McGregor, tidak harus begitu juga cara pikirnya. Kita bisa memanfaatkan dan mengembalikan tiga mantra suci ini pada prinsip dasarnya. Menggaungkan the Me-Culture – atau semuanya serba gue, tidak seharusnya melepaskan tanggungjawab pemerintah. Konsep Governmance in distance itu mengabaikan prinsip bernegara ketika rakyat menyerahkan mandat pada pemerintahan untuk bekerja. Wellbeing harus dikembalikan pada konteksnya, sulit untuk menyamaratakan indeks kebahagian secara global seperti yang dilakukan dalam GDP karena konsep kebahagian setiap budaya sangat mungkin berbeda. Resilince tidak boleh dilepastangankan hanya menjadi tanggungjawab kelompok masyarakat karena tanggungjawab pemerintah tetap ada di bagian pencegahan dan bagaimana membangkitkan kembali kehidupan masyarakat. Sustainability harus dikembalikan pada konsep bahwa manusia adalah bagian terintegrasi dalam sebuah ekosistem. Aktivitas yang dilakukan manusia jelas merusak dan menyebabkan ekosistem terganggu. Kedua penulis buku ini mengungkit kembali gerakan DeGrowth, melepas patokan GDP sebagai penentu ekonomi dan kembali pada tolok ukur keberlanjutan lain, secara radikal mengubah konsep ekonomi yang selama ini ada.

Kira-kira begitu pemahaman saya terhadap buku ini. Selamat membaca dan terganggu seperti saya. ahai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s