Minggu 1 Menjadi Vegan

Standar
Minggu 1 Menjadi Vegan

Pekan lalu tiba-tiba saya merasa sangat bosan dengan hidup di masa pandemi yang mulai berpola. Adalah jadi rutinitas setelah subuh baca buku lalu yoga dan menyiapkan makanan hari itu. Pukul 9 atau 10 pagi baru mengerjakan tugas kantor sampai sore. Diulangi saban hari begitu. Akhir pekan jadwal jadi relawan ina inu. Semula menjadi pelarian dari suntuk ada di rumah, belakangan lagi-lagi terasa jadi rutinitas. Saya memang gampang bosan, jadi di sela yang rutin harus mencari sesuatu yang baru, apa saja. Bahkan sesederhana pakai jam tangan padahal ga kemana-mana.

Tapi minggu lalu memang mulai lagi uring-uringan karena bosan. Apalagi yang mau jadi target dalam hidup selama karantina? 1 novel publish, adiknya sedang proses cetak. Baca buku sudah, nonton drakor saban malam. Apalagi?

Suatu pagi di 11 Oktober kemarin, saya memutuskan untuk menantang diri sendiri menjadi Vegan, artinya tidak makan apapun yang bersumber dari hewan. Tidak susu, telor dan madu. Dua terakhir itu favorit saya banget. Tapi seperti cinta yang suatu saat harus dilepas, maka saya memutuskan untuk coba melepaskan cinta saya pada telor dan madu. Berat banget.

Hari ini jadi minggu pertama saya vegan. Bagaimana rasanya? Ringan saja ternyata. Saya tidak begitu rindu telor, apalagi ayam, daging dan ikan. Saya hanya kangen mie instant. Meski belum ada karya ilmiah yang membuktikan jadi vegan hidup tenang aka lebih kalem, saya  merasa begitu sih. Momennya pas banget dengan riuhnya Omnibus Law, perang narasi di media sosial yang biasanya bikin saya spaneng, kali ini tenang. Barangkali saya terlalu tua untuk marah, atau terlalu lelah untuk berdebat, atau paling mungkin karena sejak awal sudah menebak mau dibawa kemana narasi-narasi liar ini. Dalam tenang, saya tetap melawan. Investasi setiap hari 2-3 jam cuma untuk melototi narasi yang beredar, membaca referensi, buat saya adalah cara saya melawan. Tapi saya simpan energi untuk tidak berdebat dengan mereka yang otaknya sudah tersumbat rupiah dan kekuasaan. Bicara pada mereka ga akan menang, karena adalah tugas mereka untuk konsisten membela penguasa, bahkan kalau nurani mereka mengakui ada yang tidak beres. Kasih senyum sama jempol aja. Tidak perlu didebat, ada waktunya kita berdebat dan melawan lagi.

Satu minggu berlalu menjadi vegan, apakah saya akan teruskan? Rasanya begitu. Barangkali dengan sesekali cheating makan telor, mau dan mie instant 😉 itulah sebab saya tidak mau mengatakan alasan menjadi vegan karena idealisme. Saya hanya lagi ingin belajar jadi vegan saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s