Berusaha Sekedarnya, Hidup Secukupnya, Mengambil Seperlunya. Review Less is More – Jason Hickel

Standar
Berusaha Sekedarnya, Hidup Secukupnya, Mengambil Seperlunya. Review Less is More – Jason Hickel

2016, saya secara khusus didatangi seorang bekas ketua adat dayak di Berau. Saat itu saya bertugas untuk membangun komunikasi dengan masyarakat, merancang aktivitas ekonomi apa yang bisa dilakukan jika kampung punya listrik 24 jam. Kami membangun pembangkit listrik tenaga matahari di kampung ini. Beliau dengan nada tinggi – saya tidak menganggapnya sebagai kemarahan- dia bilang “listrik itu hanya akan membawa keburukan di kampung kami. Kalau sudah terang orang akan malas bekerja, dan mengurus kampungnya. Akan banyak keburukan dibanding kebaikan.” Saya mengingat betul kata-kata beliau, dan ironi sebuah pembangunan memang persis yang dia khawatirkan. Anak-anak tak beranjak dari depan televisi, bapak dan ibu lebih banyak berdebat hal yang jauh dari lingkungan mereka, informasi selalu datang dari pusat. Televisi menunjukkan standar hidup baru yang mereka seharusnya tak merasa perlu. Biasanya juga menanak nasi pakai tungku kayu atau gas jika dekat akses pada gas, tapi sekarang mereka berlomba beli magicom atau magic jar. Sisi baiknya tak perlu saya sebut, teman-teman pembaca akan bilang ya kan bisa belajar sampai malam, mata tak rusak karena terang dan bisnis bisa jalan. Iya benar, tugas kami adalah memastikan agar listrik tak hanya dikonsumsi berlebihan tapi juga mampu mendukung ekonomi masyarakat. Tiga tahun setelahnya, saya diprotes kawan, karena warga akhirnya memang berhemat listrik, perusahaan listrik kampung morat-marit untuk bertahan. Saya sih merasa menang di sisi itu.  

Tiga jam dari kampung, di kota Kabupaten Berau, Tanjung Redep, listrik bisa mati sampai lima kali dalam sehari padahal tongkang pengangkut batubara melewai Sungai Segah saban saat. Produksi batu bara mereka bukan buat mensejahterakan warganya atau minimal memastikan listrik menyala deh. Tapi dibawa ke Jawa juga diekspor sebagai pendapatan daerah. Ini hanya contoh tentang pembangunan dalam skala kecil, skala kabupaten.

Buku Less is More ini memang akan mengganggu kenyamanan pembacanya yang sudah terbiasa dilenakan oleh jargon pembangunan ekonomi atau naiknya GDP sama dengan peningkatan kesejahteraan rakyatnya. Padahal tidak. Beberapa negara dengan GDP tinggi, mengalami ketidaksetaraan ekonomi dan sosial yang lebar di antara rakyatnya, angka bunuh diri yang tinggi, kesehatan buruk. Belum lagi tentang kerusakan lingkungan yang terjadi akibat konsumsi energi yang besar. Emisi yang dihasilkan oleh negara maju 30x lipat dari negara berkembang. Buat mereka mudah saja menurunkan emisi, yaitu mengalihkan produksi ke negara berkembang. Membuat kerusakan di negara lain dengan investasi dan negara berkembang pemuja GDP tentu saja akan girang agar tingkat ekonomi mereka naik, meski semu. Sound familiar ya.

Ada banyak gerakan penyelamatan bumi dilakukan, tapi percuma kalau Hickel kalau kita tidak menyelesaikan akar masalahnya, kapitalisme dan pemujaan berlebihan pada GDP. Upaya penyalamatan lingkungan hanya akan jadi kedok buat kapitalis selama dibelakangnya diembel-embeli “growth” ada green growth, ada blue growth. Hickel menjelaskan sejarah awal Kapitalisme dan GDP muncul, silakan baca sendiri. Tapi intinya gini, kapitalisme adalah sistem ekonomi yang bukan hanya mengejar profit tapi bagaimana menginvestasikan profit untuk menghasilkan double profit dan begitu seterusnya yang ditunjukkan dengan GDP. Tanpa batasan, tanpa mempertimbangkan kerusakan ekologis sekitarnya. Untuk menghasilkan profit maka produksi harus massal, buruh murah dan membangun sebesar-besarnya konsumsi. Bagaimana membuat market / konsumen, dengan iklan yang memanipulasi manusia agar selalu merasa kurang. Kapitalisme merusak ekosistem yang akan merugikan manusia, hutan yang gundul dan  botak karena tambang mengakibatkan banjir, menggusur manusia dari rumah dan penghidupannya. Lalu konflik akibat migrasi manusia yang mencari kehidupan baru akan terus terjadi. Sepanjang sejarahnya, kapitalisme selalu diikuti oleh kolonialisasi yang hanya berganti rupa.

Lalu apa yang harus dilakukan? Kalau tidak bisa berhenti melakukan aktivitas ekonomi, maka pelankan jalannya. Ada gerakan baru yang namanya De-Growth. Seorang kawan bertanya, lah kalau ga bertumbuh lalu bagaimana perekonomian mbak? Begini prens.

Degrowth adalah tentang de-kolonialisasi, de-enklosur atau bebas dari pembatasan kepentingan masyarakat, de-komodifikasi dari barang yang harusnya milik umum seperti kesehatan dan pendidikan, dan de-intensifikasi pekerjaan dan hidup. Semua ini dimulai dengan mengambil lebih sedikit dari biasanya. Degrowth ini diinisiasi pada ekonom ekologis yang ingin memastikan bahwa perilaku ekonomi berada pada batas toleransi bumi. Mengambil tidak lebih dari apa yang bisa dihidupkan kembali dalam ekosistem, menghasilkan sampah tak lebih dari apa yang bisa diserap kembali oleh bumi. Ekonomi yang mengubah perspektif dari exchange –value menjadi use-value, sesuai dengan kebutuhan yang ada. Mengukur ekonomi tidak menggunakan GDP tapi pada pendekatan well-being, tingkat kebahagian masyarakat. Absurd? Enggak juga, sudah ada matriks nya kok, world happiness index, sustainability index – silakan google.

Kalau dibilang utopia, ya nggak juga. Negara seperti Costa-Rica, New Zealand, Buttan, dan Denmark sudah memulainya. Itu sih negara kecil, tapi artinya bisa dimulai dari yang kecil kan?

Ada lima cara yang harus dilakukan untuk memulai sistem ini:

  1. Hentikan produksi barang dengan masa pakai yang singkat. Ini biasa dilakukan pada barang-barang elektronik yang umur pakainya singkat dan sengaja diproduksi begitu agar pabrik terus menghasilkan barang baru. Di eropa muncul gerakan “hak untuk memperbaiki” atau right to repair barang-barang elektronik yang rusak.
  2. Kurangi iklan. Iklan ditujukan untuk memanipulasi pikiran, memunculkan kecemasan berlebihan bahwa kita selalu merasa kurang sehingga harus beli sesuatu untuk kita merasa lebih baik. Iklan memang ditujukan agar konsumsi meningkat.
  3. Beralih dari “ownership” atau kepemilikan, menjadi “usership” atau pemakaian bersama. Contoh paling sederhana adalah budaya berbagi transportasi, kita pernah punya nebengers. Tidak perlu lah satu anggota keluarga punya satu alat transportasi.
  4. Hentikan Sampah Makanan. Beberapa negara melarang sampah makanan masuk ke pembuangan akhir karena sampah makanan bisa diolah menjadi organik. Perancis dan Italia melarang supermarket membuang sampah makanannya, begitu juga di Korea Selatan.
  5. Turunkan skala industri yang merusak alam. Contoh yang diberikan adalah peternakan sapi yang merusak hutan amazon padahal kebutuhan daging bisa diubah ke protein nabati.

Di penghujung bukunya, Hickel mengajak kita berkenalan dengan masyarakat adat yang selama ini hidup menyatu dengan alam. Kita bukan penguasa alam, kita bagian dari alam itu sendiri. Saya tidak berenang di sungai, saya adalah sungai. Kita adalah bagian dari ekosistem jadi kalau kita merusaknya, maka sebenarnya kita sedang merusak hidup kita sekarang dan masa depan.

Butuh 4 jam buat saya menuliskan review buku ini. Pikiran saya terdistraksi oleh narasi-narasi perdebatan tentang demonstrasi penolakan Omnibus Law yang undang-undang aselinya hingga tulisan ini selesai pun, belum dipublikasi. Luar biasa. Tapi prinsipnya tidak berubah, Omnibus Law ditujukan untuk memudahkan investasi dengan meringankan izin usaha termasuk melonggarkan prinsip perlindungan terhadap lingkungan. Ironi.

We cannot save the world by playing by the rules. Because the rules have to be changed – Greta Thunberg

One response »

  1. Ping-balik: Rekomendasi buku 2020 yang bisa kamu baca 2021 | nroshita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s