Kulitmu, Pelindungmu. Biarkan Dia Bekerja Alami. Review Clean – James Hamblin

Standar
Kulitmu, Pelindungmu. Biarkan Dia Bekerja Alami. Review Clean – James Hamblin

Saat menulis ini, saya belum sikat gigi, apalagi mandi. Baru sekedar cuci muka. Hari-hari bekerja dari rumah yang sudah masuk 202 hari ini membuat saya jarang mandi, cukup sekali sehari dan keramas, kecuali setelah keluar rumah dan bertemu banyak orang. Ternyata tidak sering mandi ya tak papa juga. Saya juga semakin jarang pakai perawatan kulit; pelembab wajah, badan dan tangan, apalagi deodoran, kecuali kalau keluar rumah dan bertemu banyak orang. Ternyata ya, saya pakai itu semua buat orang lain, menghormati mereka bukan sekedar merawat tubuh saya sendiri. Begini cerita lengkap dari buku itu.

Clean ditulis oleh James Hamblin, dia dokter dan pengajar di Yale School of Public Health. Dia juga penulis untuk the Atlantic. Untuk menulis buku ini, dia mewawancarai banyak pakar kesehatan kulit, produsen perawatan kulit dari industri besar sampai rumahan. Gaya bahasanya asik banget, seperti dia ada di depan saya dan berkata, “kalau kamu jijik saya membahas anus, boleh dilewati bagian ini. Tapi anus itu bagian penting dalam tubuh kita, coba sebut anus-anus, lagi dan lagi, lebih kencang sampai kamu bisa menerima anus di kepalamu.” Jiaah iseng amat.

Buku ini ditulis sebelum pandemi, sebelum kita seperti kesurupan cuci tangan dan mengoleskan sanitizer ke tangan setiap saat, ke tubuh, ke pakaian dan semua yang ada di sekitar kita. Sebelum kita mandi setiap saat, keramas setiap saat, dan mencampur air mandi dengan antiseptic. Kita “rela” membunuh mikroba baik demi mencegah virus COVID-19, kita lupa pada kekuatan tubuh untuk menangkal itu semua tanpa mengurangi semua protokol kesehatan yang disarankan. Kita memang lebih senang “mematikan” mikroba baik daripada membuatnya tetap sehat dengan tidak bertemu banyak orang jika tak perlu sekali dan menjaga jarak. Membersihkan tubuh saja memang tak jadi syarat utama mencegah covid tanpa disertai masker dan jaga jarak toh.

Anyhow, Hamblin sudah tidak mandi selama 5 tahun terakhir dan dia merasa sehat-sehat saja. Pasangannya bilang kalau sekarang dia bau seperti manusia, bukan wangi artifisial yang biasa kita semprotkan atau oleskan di kulit. Mandi versi Hamblin cukup membasuh ketiak, selangkangan dan kaki, di sini sumber-sumber bau dari mikroba tubuh terbesar. Selebihnya hanya pelengkap.

Tubuh ini kawan, adalah sebuah ekosistem yang kalau kamu ganggu keberadaannya satu saja, akan merusak keseimbangan. Di permukaan kulit ada mikroba-mikroba yang hidup berdampingan dengan manusia, mereka melindungi kita dari patogen luar tubuh dan menyebabkan kita sakit. Bengkak dan bernanah adalah mekanisme tubuh untuk melawan patogen jahat yang ingin masuk ke dalam tubuh. Kita berbagi mikroba dengan pasangan yang tinggal sekamar, dengan anak-anak bulu yang hidup bersama kita. Semakin beragam kita punya mikroba, semakin baik pertahanan tubuh menghadapi patogen yang mungkin datang.

Anak-anak yang dibebaskan berlarian di alam dan tumbuh bersama alam akan punya risiko lebih rendah untuk kena asma atau eksim ketimbang anak-anak kota yang terisolasi dalam ruangan tertutup. Obat paling murah untuk tetap sehat adalah dengan membuka jendela rumah, membiarkan udara masuk dan mikroba baik datang, dengan catatan polusi udara masih bisa ditoleransi.

Perubahan lingkungan sekitar akan sangat berpengaruh pada perubahan ekosistem dalam tubuh kita. Semakin padat penduduk perkotaan, semakin sempit ruang gerak dan semakin sedikit kita terpapar matahari, maka semakin rentan kita kena penyakit.

Sayangnya pendekatan kesehatan yang menjadi trend saat ini adalah personal care, individualistik yang nilainya sangat mahal. Jika saja itu dialihkan untuk perbaikan kesehatan lingkungan, tentu kesehatan tidak menjadi ekslusif milik mereka yang punya uang tapi semua orang. Jika ingin mengurangi beban anggaran kesehatan, yang kita butuhkan adalah investasi pada taman-taman kota, toilet umum yang bersih dan sehat dan air bersih.

Tentang personal care yang narasinya selalu bisa membuat kita merasa “jelek” sukses menguras kantong dan merusak apa yang tubuh berikan dengan baiknya. Sebut saja collagen yang disuntikan ke dalam kulit, apa perlu? Tidak! Kalau collagen diminum itu lebih bodoh lagi karena dia hanya akan mengalir sebagai kencing tidak ada hubungannya dengan kulit. Lalu triclosan yang ada pada sabun antiseptik, FYI ya, itu sudah masuk dalam list bahan berbahaya di Amerika. Menyuntikan probiotik atau lactobasilus ke dalam tubuh dan kulit juga hanya akan mengganggu kesehatan tubuh kita sendiri. Kalau kamu sekarang merasa gampang sekali kena penyakit, coba refleksi dulu seberapa sering kita mengganggu keseimbangan ekosistem dalam tubuh sendiri?

Wangi, bersih, dan mulus, itu bahasa dagang, begitu juga dengan segala macam perawatan tubuh dengan label natural. Dia tak menyarankan semua orang berhenti mandi atau meninggalkan semua perawatan tubuh di kamar mandi dan di meja rias, tapi mengajak kita untuk menyadari apakah kita benar-benar membutuhkan? Apa yang terjadi kalau kita berhenti pakai parfum, apakah pheromone alami kita akan  serta merta gagal memikat pasangan?

Tentu saja apa yang dikatakan oleh Hamblin harus dikembalikan pada konteks pribadi dan sekitar kita. Semisal ya, kalau dia ga mandi 5 tahun tapi tinggal di Broklyn yang tidak selembab Jakarta, masih Okay lah. Sewaktu sekolah di London, musim panas adalah siksaan buat saya. Bus kota tanpa jendela terbuka dan orang-orang yang jarang mandi, baunya semerbak mengacaukan keseimbangan otak saya, mual. Lalu ada orang-orang terlahir dengan kulit sensitif dan memang sakit yang perlu perawatan khusus dalam dampingan medis.

Selebihnya, buku ini memang mengajak saya refleksi, memang tak banyak perawatan tubuh yang saya punya. Terakhir mencoba cuci muka yang direkomendasikan kawan malah berakhir dengan kulit kering, akhirnya saya berikan ke orang lain. Kulit wajah saya nyaris tak pernah tersentuh make up kecuali pelembab dan bedak, itupun kalau harus keluar rumah saja. Cuci muka pakai sabun aja, nyaris jarang. Sabun mandi di rumah adalah buatan ibu-ibu sarongge menggunakan minyak kelapa. Setiap kali kulit terasa kering, saya oleh pakai vco. Murah dan ternyata memang saya tak perlu barang mahal, kulit saya masih terasa mulus, kencang dan saya sehat.

2 responses »

  1. Dari waktu ke waktu seiring perkembangan zaman dan teknologi, berimbas pula pada semakin cangggih dan mahalnya biaya dibidang kesehatan dan perawatan kecantikan… untuk yang memang yang mampu secara finansial mungkin sah-sah saja kalo mau mencoba produk / perawatan kecantikan yang bisa dibilang mahal…
    Tapi untuk mereka yang ekonominya pas2an, pasti akan berfikir dua kali sebelum melakukannya…
    Back to Nature mungkin solusinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s