Kesalahan Matematika Sehari-hari . Humble PI – Matt Parker

Standar
Kesalahan Matematika Sehari-hari . Humble PI – Matt Parker

Suatu hari dalam sebuah acara seminar bersama mahasiswa, kawan bertanya pada temannya, “sejak sekolah saya selalu bertanya, apa sih gunanya belajar matematika. Selain tentang angka, menambah, mengurangi, membagi dan mengalikan, apa gunanya? Kayak trigonometri, emang ditanya bagaimana mengukur tinggi gunung dalam sehari-hari?”

Setelah membaca Humble Pi, saya jadi tersenyum sendiri. Setiap hari adalah matematika, secara kita sadari atau tidak. Bukan sekedar belanja, jajan dan mengukur jarak dari rumah ke lokasi meski bisa lihat aplikasi. Bagaimana jalan dibangun, dan bola disepak, itu semua dihitung dengan cermat pakai rumus matematika. Lalu saya merasa menyesal tak belajar matematika secara serius dulu waktu sekolah. Saya suka, tapi sekitar saya tak menyemangati saya untuk meneruskan itu. seperti Matt Parker, si penulis buku ini bilang, ahli matematika atau mathematican itu bukan orang pintar dengan angka dan melihat matematika itu hal mudah, justru sebaliknya. Dia adalah orang yang melihat matematika sebagai barang yang sulit dipecahkan dan dia tak boleh menyerah karenanya. Barangkali di situ, saya orang yang gampang menyerah.

Parker ini bekas guru SMA di Australia yang migrasi ke Inggris. Pada bagian propabilita, dia bercerita bagaimana setiap hari memberikan PR kepada siswanya untuk melempar koin sebanyak 100x. Hitung berapa kali gambar kepala dan buntut atau ekor yang ada di atas.  Dari PR itu saja, kata Parker, dia bisa lihat berapa anak yang curang dengan hanya memasukan angka, dan mereka yang jujur melakukannya sebanyak 100x. Manusia itu sulit disuruh random, jadi akan selalu kelihatan berpola dan itu yang diterjemahkan dalam algoritma. Saya manggut-manggut membacanya. Iya juga. Hidup kita itu sangat mudah ditebak dan terjebak dalam rutinitas.

Masih dalam probabilita, Parker menantang istilah “memang sudah jodoh dan takdir” dengan hitungan matematika. Contoh yang dia ambil, pasangan yang bertemu di waktu dewasa ternyata pernah punya sejarah ada di foto yang sama ketika mereka sama-sama kecil. Keduanya tak saling kenal waktu kecil dan ada di frame sama sebuah foto di kerumunan. Apakah itu artinya jodoh? Parker bilang, itu probabilita. Kita tergabung dalam 1 komunitas besar bernama masyarakat, ada berapa jumlah anggotanya, dan hitung berapa kemungkinan kita bertemu satu sama lain? Semakin kecil jumlah angka pembaginya, semakin besar angka kemungkinan itu. Saya lagi-lagi tertampar. Saya bertemu dengan suami di sebuah percakapan di grup regional Bandung. Ada sekitar ratusan orang di sana, maka bisa dihitung berapa besar kemungkinan saya bicara dengannya lalu menjadi dekat. Dia yang seharusnya orang asing, ternyata tidak juga. Kakaknya ternyata kawan dari Eci karena mereka satu kampus di Bandung. Secara matematika, kita tak pernah benar-benar “asing” satu sama lain.

Parker juga menceritakan bagaimana kita tak boleh meremehkan hitungan teknis dalam sebuah benda karena bisa mengundang bahaya. Tentang jembatan yang tidak dihitung dengan baik kekuatannya menampung kendaraan dan gerakan yang melintas, menyebabkan dia ambruk. Tentang mur jendela pesawat yang lepas lalu manajer yang tak menemukan mur yang seharusnya lalu menambalnya dengan mur yang ukurannya paling dekat. Bedanya hanya sepersekian milimeter tapi kesalahan itu mengakibatkan jendela pesawat lepas saat di udara.

Parker juga memprotes gambar sepakbola yang menjadi marka lalu lintas di Inggris. Sepakbola itu hanya digambar dengan hitungan asal, semuanya bergambar pentagon atau prisma segilima yang kalau menurut matematika itu tidak mungkin menjadi bola kecuali permainan menggunakan bola berbentuk donat. Bola dalam permainan sepakbola adalah hitungan jumlah petagon dan hexagon.

Parker mengkritik excel yang “semena-semena” membulatkan angka desimal sementara angka desimal yang banyak di belakang koma itu tetap angka dan punya nilai. Kita juga telah salah menghitung hari dalam setahun karena sistem pembulatan ini.

Buku ini juga didesain ajaib dalam halaman yang dihitung mundur. Buka lembar pertama itu adalah angka 314 lalu mundur hingga halaman 1. Saya langsung merasa pening, bagaimana bisa mengutip buku ini dengan “benar” kalau halamannya tidak biasa dibuat.  Lalu pengantar itu disebut sebagai bab “ZERO” dan daftar isi tentang desimal ya dibuat desimal. Antara 9 ke 10 itu ada 9, 01 dan seterusnya. Buku ini seru karena tidak pernah bertemu dengan model penyusunan seperti ini. Buku yang mengajak saya memerhatikan hal-hal “kecil” sekitar kita tapi punya dampak yang besar. Saya jadi semakin mencintai angka lebih dari sekedar deretan angka di rekening bank.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s