Hari Ke 100 Dalam Karantina – Merayakan Kewarasan

Standar

Hari ini adalah hari ke 100 dalam karantina karena Covid-19. 100 hari tanpa bertemu Mami, adik dan ponakan saya di Jakarta. Saya pernah tak jumpa mereka 365 hari saat sekolah, tapi kali ini rasanya setiap hari seperti hari terakhir. Mungkin besok dan seterusnya tak lagi bisa jumpa.

Ini juga kali pertama saya bersama Akang sejak kami pacaran, 9 tahun silam. Kali pertama bersama 100×24 jam! Beruntung kami menumpang di rumah ibu yang punya banyak ruangan, jadi secara teknis saya tak bertatap muka sepanjang 24 jam itu. Akang lebih banyak di rumah utama, saya di kamar tamu yang disulap jadi tempat kerja. Kami berjumpa di meja makan atau sesekali bertemu di lorong dan istirahat siang di kamar, baru bertemu lagi malam hari.

100days_room 01

Ini adalah ruang saya untuk tetap terkoneksi dengan dunia luar dan semesta. Ruang kerja, mushola dan tempat yoga

Sejak memutuskan menikah, kami bersepakat saya akan berada lebih banyak di ruang publik aka luar rumah dan Akang menguasai ruang privat, aka di dalam rumah. Sesekali Akang kumpul dengan teman-teman klub motornya yang dia dirikan sejak 1997 waktu masih piyik di bangku SMA, dan sampai hari ini masih aktif. Sampai Covid -19 mengubah semuanya. Kami berada dalam satu bangunan rumah, berbagi kehidupan 24 jam selama 100 hari ini. Sekali dua kali kami bertengkar, tak saling tegur berhari-hari. Belajar berkompromi dengan orang di luar diri sendiri memang tak mudah. Ada banyak hal baru dan selalu baru saya temui dari Akang setiap hari. Cinta tentu saja, tapi hidup jelas tak melulu soal cinta.

100 hari yang tak mudah menjaga kewarasan. Setelah bertahun-tahun merawat bapak yang stroke dan tak bisa bicara, di hari 8 sejak PSBB dilaksanakan 14 Maret 2020, bapak masuk rumah sakit. Dipindahkan ke ruang ICU dan meninggal dunia 27 Maret 2020. Saat berduka yang sepi tanpa sanak saudara dan keluarga juga sahabat memeluk dan menyemangati kami. Ibu menangis, Akang semakin pendiam dan saya merasa semakin kesepian, dan bingung dalam bersikap. Ada banyak hal buruk terlintas di kepala, saya mau kabur saja ke Jakarta. Untung hal itu urung dilakukan.

Kehilangan pencaharian tak terbilang. Dalam hitungan saya, keuangan kami hanya bertahan sampai 2 bulan saja. Saya pencari nafkah utama dan Akang tentu saja semakin sulit kalau harus mencari pekerjaan di luar di hari-hari ini. Jika sampai akhir bulan kedua saya masih belum berpenghasilan, maka semua aset harus segera digadaikan, kata saya. Utang keluarga, cicilan rumah dan premi asuransi menanti untuk dibayar saban bulan, bagaimana kepala tak rasa ingin pecah. Tapi Tuhan itu memang maha baik. Dia mengirimkan orang baik yang memberikan saya bantuan selama dua bulan dan tunjangan hari raya. Hidup tak bisa mengandalkan orang lain tentu saja. Pekerjaan ada satu dua orderan untuk kami bertahan, tetap bekerja dari rumah. Setiap hari buka laptop dan membuat target pekerjaan, kalau tak ada yang berbayar, ya kerjakan proyek pribadi. Setiap hari menulis dua tiga halaman fiksi, menulis blog, menuliskan ide, apa saja, saya mau bilang pura-pura sibuk, tapi begitu yang saya percaya, nanti juga akan datang rezeki kalau tetap usaha.

Ketika Ramadhan, hati ini sudah dimantapkan untuk sepenuhnya berserah dalam ibadah. Lalu hormon manja yang kelamaan di rumah itu mengamuk, saya dibuat mens 25 hari + 10 hari tambahan setelah dari dokter. 35 hari! Seperti diombang-ambing, emosi saya nyaris lepas kendali. Akang tak kurang dimaki, meski dalam hati. Benci datang dan pergi, pada Akang, terlebih pada diri sendiri. Saya semakin menarik diri dari obrolan keluarga dan bersembunyi di ruang kerja dan di sosial media. Ada hari-hari saya mengumpat kenapa masih diberi hidup, kenapa tak dijemput pulang?

Ibu-ibu di lapas menertawakan saya, manalah sekarang kita berbeda. Kita sama, hanya beda bentuk kurungan. Di sana mereka berhitung hari, begitu pun saya. Setiap kita punya penjaranya sendiri, buat saya 100 hari ini adalah “penjara” yang tak pasti kapan waktu akan bebas. Semakin hari, semakin berat, semakin mati gaya karena untuk “bebas” dari Covid 19 makin hari makin jauh dari harapan. Iya jauh dari harapan, karena setiap hari orang yang seharusnya bisa menahan diri di rumah, malah liar di luar sementara angka penderita bertambah 1000.  Apakah saya akan bertahan di 100 hari ke depan?

Bangun tidur hari ini rasanya berbeda. Tumben, hari ini saya terbilang bangun kesiangan, 6.30 dari biasanya pukul 4.30. Saya terbangun yang mimpi yang membuat saya sesak napas, karena saya kabur dari patroli polisi yang menangkapi orang tanpa masker. Dalam mimpi saya sama sekali lupa pakai masker. Terbangun terengah-engah dan akang di sisi kiri saya tersenyum, sementara Unin di kaki saya mengulet dengan kuku tajam mencengkram kaki. Okay saya bangun!

Hari ke 100, saya menarik napas dan menghembuskannya. Saya masih hidup, bersyukur dibangunkan di sisi Akang dan Unin, tapi kenapa? Pasti ada alasan kenapa saya dipilih untuk bertahan sementara yang lain tidak. Kenapa saya masih bangun dengan penuh kesadaran akan napas, akan hidup, tapi yang lain tidak? Apa yang membuat saya terpilih untuk satu hari lagi menjalani hidup, sementara yang lain tidak? Apa yang semesta inginkan dan titipkan pada saya hari ini?

100days_me

Swafoto di hari ke 100, sehabis peregangan dengan wajah merah sisa peluh dan belum mandi.

Covid mengajari saya untuk tidak semata-mata menerima anugerah hidup tanpa memaknai pesannya. I stop taking life for granted. Saya tahu selalu ada alasan di balik sesuatu. Jika Tuhan masih memercayakan kehidupan pada saya, artinya ada kewajiban yang harus lakukan, untuk menjadi manusia, untuk memberi manfaat.

Covid adalah badai yang semua orang hadapi di waktu bersamaan, tapi bagaimana kita menghadapinya, setiap kita berbeda. Sekoci saya, ya segini ini, penuh dengan gelombang dan pengaman seadanya. Saya belajar banyak untuk tidak mengukur orang lain dengan cara “saya” karena setiap kita punya cara berbeda.

Hari ini saya merayakan hari ke 100 ini bersama Akang dan Ibu. Hanya Hokben paket murah meriah tapi cukup untuk merayakan kewarasan! Saya ingin meninggalkan jejak digital sebagai pengingat bahwa pada suatu masa saya hebat, masih hidup dan melewati masa sulit 100 hari ke belakang dan insya Allah dengan kekuatan yang bertambah, saya akan bisa bertahan di 100 hari berikutnya dan berikutnya dan berikutnya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s