Day 40: Petapa Corona

Standar
Day 40: Petapa Corona

Seorang petapa bertirakat, menjauh dari segala godaan nafsu duniawi untuk menemukan ketenangan. Pada arti lain, petapa adalah orang yang sedang menjalani hukuman sebagai ganjaran atas perilakunya.  Maka saya seperti merasa sebagai seorang petapa, lengkap dengan dua alasan yang sama. Saya sedang menjalani “hukuman” dari perilaku duniawi dan dipaksa untuk menemukan ketenangan dalam ruang petapaan bernama rumah.

Hari ini adalah hari keempat puluh saya menjalani petapaan menghadapi musuh utama Corona, yang terberat adalah melawan diri sendiri, melawan kebosanan, kesepian dan ketidakpastian. Karantina yang saya anggap sebagai masa petapaan memang berawal dari kata 40 dalam bahasa Italia disebut Quaranta. Berkisah tentang perahu di Italia pada abad pertengahan yang saat menepi di Venesia sedang terjadi penyakit pandemic dan harus bertahan di dalam kapal selama 40 hari. Quaranta menjadi karantina.

40 hari dalam kepercayaan masyarakat juga punya arti sakral. 40 hari adalah saat ruh ditiupkan kepada janin dalam rahim. 40 hari setelah kematian, ruh baru benar-benar pergi dari rumahnya meninggalkan orang-orang terdekatnya selama hidup untuk menetap selamanya di alam ruh.

40 hari ini ya Corona, I have learned my lesson, beneran. Semakin hari di dalam ruang petapaan, semakin saya bertemu dengan diri sendiri. Bahwa saya adalah kehidupan itu sendiri dengan campuran emosi yang naik turun. Bahwa saya tidak benar-benar sendirian dalam menjalani kehidupan ini, ada cinta yang menguatkan. Bahwa nafsu Uniqlo, Lemari Lila, bahkan Kanken hanya jadi barang-barang tak berguna selama 40 hari ini. Bahwa celana tidur Winnie the pooh dan Dark Vader menjadi teman setia dan aset kerja bersama kaos bekas yang usianya sudah 4 tahun dengan lubang angina yang semakin banyak di ketiak. Bahwa kegembelan harian saya adalah berkah.

Dalam 40 hari ini, saya menjadi koki, guru untuk Zi dari jauh, manejer keuangan yang mengatur tabungan untuk bertahan hidup tanpa pemasukan. Saya petani kota dengan empat jenis sayuran di pot. Saya ibu dari anak bulu yang saban pagi berisik minta pintu dibuka. Saya menjadi segala yang harus dilakukan untuk bertahan sejauh ini, tanpa mengandalkan lagi bau knalpot ojek yang mengantar saya ke sana kemari. Saya menjadi murid kehidupan yang sederhana. Saya menemukan Nita yang berbeda dalam 40 hari ini dan hidup akan berbeda setelah ini.

Di hari ke40 ini, saya merindu Mami dan bau bacin ponakan, merindu papi dan tak bisa berkunjung ke makamnya. Saya kehilangan bapak mertua tapi tak bisa berduka selain pasrah. Sesekali terbayang bapak yang tiba-tiba muncul di depan pintu melihat saya bekerja dan cuma senyum. Betapa momen makan bersama akang selalu terburu-buru karena waktunya bersamaan dengan akang menyuapi bapak.

Ini hari terakhir usia 41 tahun, what I have done so far in life? Apakah saya jadi yang esensial untuk ibu bumi pertahankan? Apa yang lebih menyakitkan daripada menanti ketidakpastiaan dalam hidup? Berapa lama lagi saya harus berada dalam petapaan? Tak cukupkah pelajaran yang saya dapat sampai 40 hari ini?

Saya seperti peserta kelas menulis di lapas. Pada akhirnya kita semua hidup dalam penjara, dalam petapaan, dalam sebuah panapticon. “Hukuman” bukan untuk mencapai keadilan, tapi untuk melayani mereka yang memiliki kekuasaan. Saat ini, naratif dominan itu milik semesta. Saya menyerah pada keputusanmu, semesta, bahkan jika harus menjalani petapaan 40 hari kedepan lagi. My life is yours!

pic: epodcastnetwork

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s