Waktu adalah Kita. Review The Order of Time by Carlo Rovelli

Standar
Waktu adalah Kita. Review The Order of Time by Carlo Rovelli

Sebelum beranjak pada bukunya, saya cerita dulu ya. Beberapa tahun lalu, saya menyimpan perasaan selama 7 tahun lamanya. Tak pernah disampaikan, sampai akhirnya dia menikah. Setiap kali ada kesempatan, saya selalu merasa “belum waktunya.” Sejak saat itu, saya tidak lagi menunda waktu ketika menyatakan perasaan pada seseorang. What is the worst thing coming after exposing your feelings? A rejection right, but the wound, the shame will shall pass through time. Tapi “waktu” itu apa? Sejak saat itu, saya bilang pada diri sendiri, saya yang menentukan waktu, kapan waktu untuk melakukan apa, kapan waktu untuk berhenti melakukan apa.

Lalu saya bertemu dengan buku ini dan seisinya mengacaukan perasaan saya. Buku yang bagus adalah buku yang menantang kepercayaan awal, dan pengetahuanmu dan ini salah satunya. Tetapi saya sepakat dengan Rovelli, waktu adalah kita!

Menurut Rovelli, waktu itu tidak pernah benar-benar ada. Waktu adalah kita sebagai being, yang dibentuk dari sekumpulan cerita, peristiwa, tersimpan dikumpulan milyaran syaraf, kumpulan entropi yang bergerak dari masa lalu. Setiap kali kita menemukan satu hal, milyaran syaraf memutar ulang ingatan masa lalu, ditambah nilai-nilai yang membentuk perspektif, lalu jadilah masa kini. Sementara masa depan, tetap akan misteri. Waktu adalah kita yang memandang sesuatu berdasarkan perspektif kita sendiri. Sementara hari, jam, detik, adalah ukuran yang dibentuk untuk menyebut waktu.

Waktu bergerak lebih cepat di dataran tinggi atau pegunungan dibandingkan pantai. Rovelli menjelaskannya dengan smurf tua di pegunungan dan smurf muda di pantai. Waktu bergerak sesuai dengan lokasinya. Aristoles bilang waktu adalah perubahan, maka jika tidak ada yang berubah, ya berarti tidak ada waktu. Masa lalu dan masa depan membentuk sebuah cone atau kerucut, dia bergerak bebas dalam spacetime, dengan demikian bukan tidak mungkin jika yang disebut masa lalu akan kembali terjadi di masa depan. Tapi masa kini adalah perspektif kita tentang sekarang.

Rivolli memeringati pembaca kalau bahasa fisikanya terlalu rumit diterima, langsung saja pada bab 11 dan seterusnya. Di bab-bab terakhir, dia lebih banyak mengajak pembacanya untuk merenung tentang hidup. Jika “waktu” itu tidak ada, terus kita ini apa? Kita adalah refleksi dari teman-teman, pasangan, keluarga, dan orang lain yang memandang kita seperti apa. Tiga hal yang harus hadir dalam menentukan identitas “kita”:

  1. Tentang bagaimana kita melihat dunia dari sejumlah informasi yang kita elaborasi sendiri.
  2. Tentang relasi kita dengan sesama. Kita mengasah ide tentang “manusia” melalui interaksi dengan orang lain, karena kita adalah mahluk sosial. Kita melihat diri sendiri dari sekitar kita, ibu, teman dan kolega.
  3. Tentang memori, kenangan-kenangan yang membentuk “kita”. Untuk memahami diri sendiri berarti kita harus merefleksi waktu, tapi untuk memahami waktu, kita perlu refleksi pada diri sendiri. Saya hari ini adalah orang yang sama dengan kemarin.

Lalu waktu akan habis. Ada waktu lahir, ada waktu untuk mati. Ketakutan akan mati menurut Rivolli adalah kesalahan evolusi. Semua ada batasnya bahkan keberadaan umat manusia dan takut mati itu seperti takut terhadap realitas. Jadi buat apa takut?

Rivolli tidak takut, “I do not fear of death. I fear life in suffering” yang dia takut adalah hidup penuh penderitaan. Penderitaan adalah harapan yang tidak sampai, duka menjadikan kita manusia, begitu juga dengan cinta. Kematian buat Rivolli adalah “the sister of sleep” saudara tidur, saat kita menutup lama dan tidur untuk selamanya.

Betul, ini seperti bukan waktu yang tepat menyelesaikan buku di tengah ketakutan dunia akan corona virus. Saya mungkin seperti Rivolli, tak ingin diberi umur panjang, dicukupkan saja. Saya tidak akan bernegosiasi dengan kematian, ketika waktunya tiba. Kita memang akan mati, kalau tidak hari ini ya mungkin besok.

Setelah krisis korona ini selesai, saya akan membaca ulang buku ini dengan penuh kegembiraan… or not. Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk kamu yang ingin tahu tentang waktu, tentang kita dalam perspektif quantum grativity dengan bahasa popular. Saya tidak seperti digurui pelajaran fisika, saya seperti sedang didongengi tentang kehidupan manusia yang fana. Mana ada buku fisika yang membuat saya menetaskan air mata karena ditulis begitu indah, seperti buku ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s