Cara Feminis Mencari Kebahagiaan – Review The H-Spot oleh Jill Filipovic

Standar
Cara Feminis Mencari Kebahagiaan – Review The H-Spot oleh Jill Filipovic

Saya pernah di suatu waktu dalam hidup ini berharap, jika reinkarnasi itu benar adanya, maka saya ingin dilahirkan sebagai laki-laki. Memori kecil saya merekam omongan papi yang berharap saya ini lelaki agar bisa menemaninya bekerja layaknya lelaki dan membawa nama orang tua. Sepanjang kebersamaan kami, saya berusaha agar dia bangga pada saya meski saya perempuan. Di beberapa hari sebelum kepergiaan papi, beliau mengacungkan jempol pada saya. Pada akhirnya dia tahu, bukan soal lelaki atau perempuan, tapi siapa yang berbuat lebih untuknya dan keluarga. Saya dengan cara saya sendiri, dan beliau bisa pergi dengan tenang meninggalkan keluarga, karena saya mampu dijadikan tumpuan.

Sementara mami, sepanjang hidup saya selalu didoktrin olehnya, “jadi perempuan harus mandiri, harus pintar, bekerja dan jangan pernah mengandalkan hidup pada lelaki.” Beliau mencegah saya menjadi dirinya yang pasrah bertahan dalam keluarga poligami, demi saya dan adik-adik bisa sekolah.

Pengalaman menjadikan saya seorang feminis dan saya bangga dengan itu.

Buku H Spot ini menguraikan keresahan saya secara gamblang. Perempuan, tempatnya “salah.” Menjadi ambisius dan mengutamakan karir, maka sekitar akan memicingkan mata, menyindir karena dalam nilai tradisional perempuan harus submissive, berada merendah di bawah lelaki. Jill memulai bukunya dengan bercerita tentang hubungan pertemanan dengan sahabat perempuan yang merenggang begitu lepas dari sekolah. Beberapa memilih jalur tradisional, selesai kuliah menikah, punya anak. Sebagian persahabatan merenggang setelahnya. Sisterhood seperti sebuah cerita dongeng, selalu ada yang membatasi itu di antara perempuan. Ada rasa iri yang dibangun oleh patriarki melihat perempuan lain “sukses.” Sukses yang dalam nilai tradisional adalah menjadi perempuan, dalam bahasa Indonesia wanita, wani ditoto, makhluk yang diatur oleh norma sosial yang dibangun oleh lelaki.

Perempuan tak menemukan kebahagiaannya secara individu karena selalu ditanamkan sudah alaminya perempuan itu lahir dengan keinginan merawat keluarga, suami, anak, dan orang tua. Perempuan lupa pada dirinya sendiri. Saya bertanya dalam status FB, “kapankah terakhir merasa bahagia? Lepaskan dulu status sebagai isteri, ibu dan anak. Mari bicara tentang kamu.” Jawaban para perempuan adalah, saat punya waktu untuk diri sendiri, sambil selonjor makan coklat, bisa olahraga sendirian atau saat membaca buku. Sesederhana itu. Perempuan selalu kebagian sibuk saat berkenaan dengan urusan rumah, kenapa coba? Kita lupa bahwa perempuan itu individu utuh yang memiliki cita-cita untuk dirinya sendiri. Perempuan seolah tak boleh memelihara mimpi apalagi menjadi ambisius untuk mewujudkan mimpinya. Perempuan tak bisa menikmati seks tanpa dicap “slut” atau menikmati makanan tanpa rasa takut kegemukan.

Buku H-Spot tidak sekedar mengajak perempuan untuk menjadi dirinya sendiri dalam mencari kebahagiannya. Perbedaan kelas ekonomi menghalangi perempuan meraih kebahagiaannya. Jill menulis ini dalam konteks masyarakat Amerika Serikat ya, yang tersegreasi secara tegas kelas menengah ke bawah dan kulit berwarna dengan perempuan putih dan berpendidikan.

Perempuan berkulit hitam dan miskin memiliki lebih banyak anak, dan mengalami obesitas. Akses pada kontrasepsi tidak murah bagi perempuan miskin dan nutrisi bukan jadi prioritas ketika memberikan makanan pada anak-anak, yang penting kenyang. Lingkaran kemiskinan akan terus berjalan jika intervensi politik tidak memerhatikan kondisi perempuan di dalamnya. Perempuan miskin dibuat sibuk mencari pekerjaan, tidak satu atau dua, tapi bahkan tiga pekerjaan sekaligus untuk menghidupi keluarga mereka. Jika pemerintah berpihak, harusnya memberikan akses perbaikan gizi bagi anak-anak miskin, memberikan fasilitas penitipan anak yang baik kepada anak-anak dengan ibu tunggal atau kedua orang tua bekerja. Termasuk juga menyediakan akses pendidikan setara, mudah diakses bagi semua anak.

Kenyataannya tak seperti itu. Perempuan dapat gaji / honor lebih rendah dari rekan lelaki, meninggalkan anak tanpa pengawasan menjadi pelanggaran hukum sementara si ibuk harus tetap bekerja untuk mereka bertahan. Sekolah di Amerika itu mahal, ada pinjaman studi yang harus dibayar mencekik leher. Kadang perempuan berkencan hanya untuk mendapatkan tenaga bantuan untuk mengawasi anak dan meringankan bayar sewa yang dibagi dua. Tapi tak jarang menghadirkan sosok lelaki di rumah justru mendatangkan bencana, kekerasan rumah tangga.

Lalu pemerintah Amerika Serikat dibawah pimpinan Clinton, George W. Bush dan diteruskan Obama mengalihkan tanggungjawab mereka pada “suami.” Dalam kebijakan kesejahteraan keluarga, negara memberikan budget khusus untuk memromosikan pernikahan dengan segala manfaatnya, tetapi prinsipnya melepaskan tanggungjawab menangani kemiskinan itu menjadi tugas suami. Negara meniadakan dan mengabaikan kondisi keluarga dengan ibu tunggal dan ibu sebagai kepala keluarga. Sound familiar yak, persis! You read my thought!

Perempuan-perempuan “hebat” yang menjadi dirinya sendiri adalah mereka yang bisa meraih pendidikan tinggi, pekerjaan mapan, dan itu adalah perempuan kulit putih. Jalannya tak akan semulus itu bagi perempuan berwarna pun ketika mereka bisa meraih pendidikan tinggi. Tapi tak sedikit juga perempuan kulit putih yang mundur dari karir mereka yang cemerlang karena begitulah norma sosial, budaya patriarki inginkan. Bahkan ketika memiliki pasangan yang mendukung mereka karir mereka, semua berubah ketika seorang anak hadir dalam kehidupan mereka. Negosiasi berulang, siapa yang akan merawat anak-anak dan berada di rumah, jawabannya tentu saja, lagi-lagi perempuan yang harus mengalah.

Padahal tidak perlu begitu.

Jill mencontohkan tiga negara, Swedia, Norwegia dan Finlandia yang sudah melandasi hukum mereka dengan nilai feminisme. Perempuan memiliki akses yang sama seperti laki-laki, bisa memilih tinggal di rumah atau bekerja, dan pemerintah memfasilitasi itu semua. Untuk perempuan bekerja, pemerintah menyediakan fasilitas penitipan anak yang baik dan memastikan anak-anak mendapat nutrisi cukup. Dukungan yang sama bisa juga diterima oleh ibu yang memilih di rumah. Prinsipnya keluarga menjadi tanggung jawab bersama lelaki dan perempuan. Keduanya harus berbagi peran sebagai pencari nafkah maupun ngurus rumah tangga. Salah satunya dengan memberikan cuti melahirkan kepada laki-laki dan perempuan enam bulan tanpa kehilangan gaji. Di negara-negara ini, jumlah anak-anak miskin rendah sekali.

Jill juga mengingatkan perempuan agar tidak menghilangkan dirinya dengan mengganti nama menjadi nama suaminya. Di Amerika begitu menikah sangat umum perempuan menggunakan nama suaminya. Di era digital ini, jejak nama gadis mereka dengan segala prestasi semasa sekolah atau bahkan saat berkarir menjadi hilang ketika mereka menikah dan mengubah nama dengan menyelipkan nama suami di belakang nama mereka.

Sesekali buang lah semua itu, status yang membelenggu perempuan untuk berperan sebagaimana harapan sekitar. Buang jauh-jauh keserahan menjadi gendut dan keinginan untuk makan yang membahagian. Sesekali jadilah diri sendiri, berbahagialah. Highlight buat saya dari buku ini, feminisme itu tentang membuat dan mengajak perempuan mampu memilih dengan kesadaran penuh dan dari dirinya sendiri.

Saat membaca buku ini, kebodohan terjadi. Tentang RUU Ketahanan Keluarga yang mengglorifikasi pernikahan, keluarga dan ibuisme. Trust me, di Amerika aja gagal undang-undang begini. Karena tidak semestinya negara mengatur peran lelaki perempuan bahkan anak, yang pemerintah harus lakukan adalah memastikan akses kebutuhan dasar, pendidikan, kesehatan dan lapangan pekerjaan itu terbuka untuk perempuan dan lelaki. Memastikan lingkungan yang aman dan sehat untuk anak-anak bertumbuh kembang, jangan lepas tangan atas nama “keluarga.” It never works!  Jika kamar anak dan orang tua terpisah, anak lelaki dan perempuan terpisah, apakah pemerintah sudah memenuhi tanggungjawab menyediakan “Papan” aka rumah yang terjangkau untuk semua termasuk keluarga miskin? Percaya lah, konsep menikah dan berkeluarga akan semakin tidak menarik bagi anak-anak milenial.

RUU Ketahanan Keluarga ini hadir bersamaan dengan RUU Cipta Kerja yang cilakalah buat saya mah. Sementara investasi digenjot, buruh semakin ditekan daya tawarnya, cuti melahirkan yang akan dikurangi, lalu kesejahteraan menjadi tanggung jawab lelaki sebagai suami. Selamat! Jika kedua RUU ini lolos, si miskin akan semakin terpuruk, hail yeah, semakin makmur mereka yang berkantong tebal.

Ketololan berikutnya adalah perempuan berenang akan hamil. Ujungnya segregasi fasilitas untuk perempuan dan laki-laki, semakin sempit perempuan berada di ruang public. Tolol ke bol-bol!

Indonesia, we are going backward! Selamat datang masa kegelapan. Maafkan kami Kartini, Cut Nyak Dien, Dewi Sartika… Belanda memang pergi, tapi penjajah sebenarnya tidak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s