Tentang mengubah kebiasaan: membaca buku

Standar
Tentang mengubah kebiasaan: membaca buku

Mumpung baru hari kedua 2020, yuk berubah menjadi lebih baik, termasuk semakin banyak baca. Di tengah derasnya arus informasi digital, sulit membedakan mana yang benar mana yang salah, mana fakta mana rekayasa. Tapi dengan membaca buku, kita bisa jena sejenak dari news snacking atau mengudap informasi singkat untuk menyerapnya lebih baik.

Kawan bilang, baca dua halaman aja sudah ngantuk. Kalau bukunya ga asik memang begitu. Ada dua buku setidaknya yang sampai hari ini saya tidak pernah beranjak dari 4 halaman yaitu Menggarami Burung Terbang – Sitok Srengenge dan Satanic Verses – Salman Rushdie. Saya berhenti membaca karena tidak merasa paham mau dibawa kemana itu tulisan. Padahal pada banyak buku lain, saya termasuk yang senang berpetualang dan bertahan meski 5 halaman pertama bisa sekali bikin kening saya berkerut-kerut. Hmm… di sini saya tidak bisa menjelaskan alasannya, kenapa pada satu buku saya mudah menyerah sementara di buku lain, saya berani berpetualang meski membosankan di awal.

Jangan menjadikan membaca sebagai beban. Membaca itu soal kebiasaan. Seperti dalam ungkapan “membaca itu seperti menarik napas, menulis itu menghembuskan napas.” Tidak ada cerita orang bisa menulis tanpa membaca dan akan jadi kebiasaan kalau secara konsisten dilakukan. Beberapa tips sederhana:

  1. Pilih buku yang kamu suka, bukan karena harus kecuali sedang studi. Tapi pilih buku yang memang genrenya kamu suka, bisa fiksi atau non-fiksi. Kalau untuk fiksi, saya rewel dan setia, hanya membaca karya penulis yang idola hahaha, ga mau ambil risiko beli mahal terus ga suka.
  2. Setiap hari membaca selama 2 jam, minimal! Sebar saja pengaturan waktunya. Biasanya 1 jam pagi, dan 1 jam malam menjelang tidur.
  3. Buku dibawa setiap saat. Kalau kita terekspose buku setiap saat, mau ga mau akan dibuka dan dibaca. Saya bawa buku ke toilet, sambil ngeden, dapatlah 1-2 halaman. Sambil nunggu cucian direndam 15 menit, dapat lah 5 halaman.
  4. Bangun kesadaran sendiri, kalau tidak membaca buku, saya kehilangan sesuatu hari itu. Saya membaca karena saya merasa bodoh dan haus pengetahuan.

Kalau kemudian ada yang bilang membaca itu keren, itu mah bonus *kibas jilbab. Yang paling penting kamu membaca karena sudah jadi kebiasaan saja. Tapi, kata opa Noam Chomsky, baca apa saja tapi baca dengan skeptis, artinya jangan berhenti untuk bertanya, kenapa begini dan kenapa begitu, oh iya? Betul ga sik? Sependapat atau tidak dengan penulisnya. Membaca tidak sekedar selesai dengan membaca, tapi memahami maksud dan bertanya lagi dan lagi, itu yang disebut literasi. Baca, pahami dan kalau bagus, amalkan.

Buku yang bagus buat saya adalah yang bisa memberikan pengetahuan, wawasan, pengalaman dan petualangan baru. Terlebih lagi buku yang bisa meninggalkan kesan dan menggerakkan saya untuk menjadi lebih baik, eh bukan buku motivasi yak, ini buku apa saja. Sementara menuliskan kembali resensi atau review di blog ini selain niat berbagi, lebih dari itu, melatih saya untuk merekam dan menuliskan ulang buku yang saya baca. Buku setebal 500 halaman misalnya, harus bisa saya tulis ulang dalam 1500 kata, maka saya hanya akan ambil materi yang benar-benar saya suka, perlu dan diperlukan untuk dibagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s