Mengiri kematian

Standar

Aku ceritakan satu rahasia tergelap dalam hidupku hanya padamu. Aku merindukan kematian. Ketika datang melayat, aku tidak menangisi jenazah atau berduka pada yang ditinggal. Aku berduka untuk diriku sendiri, kenapa aku masih berada di bumi dan hidup. Aku menangis karena iri pada mereka yang telah pergi. Curang! kenapa kau duluan yang pergi sementara aku harus tinggal di sini? Kenapa kau yang akan tetap abadi, sementara aku harus menua terlebih dahulu dan sakit, lalu merasa kesepian. Kenapa kau yang dipilih pulang lebih dulu dan bukan aku? Kata orang, orang baik memang pergi lebih dulu. Apa itu artinya aku jahat?

Angin dingin berhembus, menembus jaket bulu angsa bekas yang aku beli loakan. Kopi panas kadung dingin hanya dalam hitungan tak sampai lima menit. Big ben berdentang, pukul 10 pagi. Turis lalu lalang mengabadikan momen dan merekam suara menara jam bernuansa gothic dari abad ke 16 itu.

Waktu. Kau dengar itu? Buatmu waktu telah selesai, kelar. Suka tidak suka, kamu pergi meninggalkan kenangan atas suka dan duka. Enak sekali. Sementara aku, harus melaluinya setiap menit. Tersenyum sementara aku ingin marah. Kadang aku marah pada hal yang tidak salah, supaya dikira bersolidaritas, bersimpati.

Kamu tahu kenapa kamu mati dan aku masih hidup?

Seorang gelandangan menatapku penuh tanya. Aku terlalu kencang bicara dalam bahasa yang dia tak paham, sambil memegang kopi dan menangis. Air mataku dibawa terbang angin yang dingin.

Kenapa selalu dingin di sini?

Memegang sesuatu yang hangat di tangan dan makan atau minum hangat dapat menggantikan dinginnya kehidupan sosial. Begitu kata riset. Bullocks! Bagaimana bisa mendapatkan yang hangat di tengah cuaca dingin begini. Kamu enak, sudah selesai. Tak lagi merasakan dingin berkepanjangan, panas yang menyengat, banjir dimana-mana, kekurangan air, kekurangan makan. Hal-hal buruk yang datang karena kebodohan kita manusia, dan aku merasakannya hari ini, atau besok, sementara kau tidak. Kau yang tidak peduli buang sampah pada tempatnya, tidak pernah bawa mug sendiri, kemana-mana bawa kendaraan pribadi, lalu kau mati duluan? Enak sekali. Aku hidup untuk menderita karena kau.

Angin berhembus di telingaku, hangat dan aku tersentak

“Kalau kau pikir kematian itu menyenangkan, mati lah sekarang. Pernahkah bertanya, apakah aku ingin mati atau hidup? Kita yang tidak pernah minta dan ditanya kapan ingin dilahirkan dan kapan ingin dimatikan. Hiduplah seperti kau akan mati besok, tapi jangan simpan irimu dalam-dalam. Karena sejujurnya, aku ingin terus hidup menemanimu.”

Lalu aku menangis sejadi-jadinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s