Cerita Percintaan Lada di India – Review The Last Moor’s Sigh Karya Salman Rushdie

Standar
Cerita Percintaan Lada di India – Review The Last Moor’s Sigh Karya Salman Rushdie

Cerita dibuka dengan kedatangan para pedagang Portugal di negeri India untuk membeli lada dan menjualnya kembali ke eropa. Kisah Vasco Da Gama dan keturunannya dalam menguasai jalur perdagangan lada India-Eropa melewati masa kolonialisme Inggris Raya hingga pertarungan politik dalam negeri antara Hindu-Islam.

Adalah Aurora Da Gama yang ketika itu berusia 15 tahun jatuh cinta pada manager dagang perusahaan Da Gama, Abraham Zogoiby, seorang Yahudi yang ditinggal ayah dan memiliki ibu seorang pencuri. Jatuh cinta mereka diawali oleh wangi lada yang hangat membarakan rasa di antara keduanya yang berbeda jauh dalam usia. Abraham sudah 30an tahun ketika itu dan luluh lantak pada kecantikan dan keanggunan Aurora, pelukis dengan bakat alamiah. Demi cinta, Abraham menentang ibunya untuk menikahi seorang katolik. Si ibu akhirnya memberikan restu dengan syarat agar Abraham menyerahkan putranya untuk diasuh dia. Tentu saja permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh Aurora.

Cerita dituturkan oleh Moores Zogoiby, anak laki-laki Aurora dan Abraham yang terlahir “terkutuk” karena menolak permintaan ibu Abraham. Moor lahir dengan lengan kanan terbalik, dan jiwa dewasa yang terperangkap dalam raga anak-anak. Ketika umur fisiknya 4 tahun, Moor sebenarnya 12 tahun, dan seterusnya. Aurora menolak anaknya disebut sebagai kutukan, tapi justru anugerah keluarga. Hanya Moor yang merasakan air susu Aurora, sementara kedua kakak perempuannya tidak pernah merasakan air susu ibu sejak lahir. Moor istimewa, mendapatkan kasih sayang kedua orang tua dan adik-adiknya. Lengan kiri Moor adalah senjata. Sejak kecil dilatih bertinju dan kepalan tangan kiri Moor kuat dan mematikan.

Moor menceritakan perjalanan cinta ayah dan ibunya yang penuh rahasia. Aurora mampu menyihir dan membuat Abraham takluk terhadap apapun yang menjadi perintahnya. Bisnis keluarga Da Gama diatur sepenuhnya oleh Abraham sedangkan Aurora dengan lukisan-lukisan magisnya dan cerita-cerita cinta sesaatnya dengan banyak laki-laki yang tersihir oleh kecantikannya. Tapi Abraham bukannya menunduk tanpa syarat pada Aurora. Di luar rumah, Abraham adalah mafia yang menguasai pasar gelap hingga urusan narkotika dan menyuplai persenjataan bagi kelompok gerilyawan Muslim dan Hindu radikal.

Cerita ini bukan sekedar cerita percintaan, tapi tentang rasa nasionalisme. Moor tersinggung ketika nasionalisme ke-India-annya dipertanyakan sementara keluarganya Portugal – Spanyol sudah berada di negeri itu selama tiga generasi. Tentang pertentangan agama antara Katolik – Yahudi dan Hindu – Islam. Tentang demokrasi, mengutip Visco Miranda (salah satu kekasih Aurora) “demokrasi bukan tentang satu orang satu suara, tapi One Man One Bribe” karena demokrasi dibangun dengan korupsi. Juga tentang bagaimana seorang difabel diperlakukan selayaknya manusia non-difabel, tidak perlu dibeda-bedakan karena sebenarnya Moor tak ingin diistimewakan. Tentang privilege, keluarga besar Da Gama yang kaya raya, tidak akan mampu membuat mereka paham terhadap kehidupan dunia bawah yang penuh penderitaan.

Drama demi drama dihadirkan Salman Rushdie dengan apik di setiap bagian (ada tiga bagian dalam novel ini) seperti halnya karya Salman Rushdie lainnya. Salman kerap kali membuat tokoh perempuan sebagai sosok yang magis, memiliki kekuatan menyihir dan membuat lelaki takluk di kaki mereka. Barangkali karena latar belakang matriakal Salman yang lahir di Asia Selatan. Perempuan-perempuan dalam novel Salman “know what they want” bukan sekedar obyek. Seksualitas selalu muncul di novel Salman, tapi yang ini, sedikit sekali. Saya hanya mencatatkan dua adegan saja dari Moor.

Selalu ada kematian dalam drama Salman Rushdie dan kejutan di akhir cerita, bahwa Aurora pada akhirnya mati dan dia tahu siapa yang membunuhnya. Moor mempertanyakan ulang tentang cinta kasih orang tua kepadanya sebagai anak, apakah tulus atau bulus saja? Bagaimana jika dia membenci ayah dan ibunya?

Tentang judul, The Last Moor’s Sigh adalah lukisan terakhir Aurora yang menampilkan potret Aurora bersama Moor anaknya. Lukisan ini dicuri Visco Miranda dan dibawa hingga Spanyol dan di bagian akhir Moor mengejar Miranda untuk merebut kembali cerita akhir dari kenangannya bersama ibunya, Aurora.

434 halaman mah gampang dihabiskan jika cerita mengalir dengan ringan dan dapat dinikmati. Sekali lagi saya tersihir karya Salman Rushdie.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s