Perempuan Dalam Persekutuan Lelaki di Silicon Valley. Review Brotopia oleh Emily Chang

Standar
Perempuan Dalam Persekutuan Lelaki di Silicon Valley. Review Brotopia oleh Emily Chang

Buku ini dibuka dengan penelitian psikologi tentang kepribadian para penggila komputer, game lalu mengeneralisasi bahwa para programmer terbaik untuk teknologi informasi adalah kutu buku, penyendiri, fokus pada hasil dan mereka adalah laki-laki dan berkulit putih. Lalu hasil penelitian ini yang kemudian diambil mentah-mentah dan dipercaya oleh para pendiri perusahaan digital dan ini lah awal perempuan tersingkirkan dalam persaingan di dunia teknologi informasi.

Jumlah perempuan dalam perusahaan teknologi informasi yang bermunculan seperti jamur di Silicon Valley tidak pernah sampai 30%. Dalam sebuah memo kontroversial James Damore, teknisi di Google menggambarkan pandangan umum laki-laki di dunia teknologi yang menolak kehadiran perempuan karena dianggap terlalu peduli pada “manusia” ketimbang produk “barang” dan itu tidak cocok di dunia mereka. Damore dipecat dari Google 2017, tapi apakah industri teknologi informasi kemudian berubah ramah pada perempuan? Entar dulu.

Emily Chang menjelaskan budaya brotopia – persaudaraan laki-laki di Silicon Valley begitu kuat dan butuh revolusi untuk mengubahnya, butuh pengarusutamaan gender dan literasi feminis di industry ini. Perempuan bukan hanya dianggap tidak mampu menguasai teknologi, tapi juga tidak masuk dalam “budaya” brotopia mereka. Perempuan menjadi obyek dalam pergaulan para lelaki yang sepanjang hidup dianggap cupu, korban perundungan semasa sekolah karena itu tadi, mereka dianggap aneh, kutu buku, penyendiri dan merasa tidak bisa menarik perempuan. Ketika berada di Silicon Valley dan berkesempatan mendapatkan uang, mereka bebas, Emily Chang menyebutnya “balas dendam si kutu buku.” Pertemuan bisnis bisa berakhir dengan pesta seks, pesta biasa berakhir dengan pesta seks dan perempuan selalu menjadi obyek. Perempuan ada di posisi yang selalu salah di Silicon Valley, kalau mereka tidak memenuhi undangan untuk minum dan pesta, maka kehilangan peluang bisnis, tapi kalau mereka datang, maka dianggap “murahan,” bisnis dan kesenangan menjadi satu.

Pelecehan seksual bukan hal aneh di Silicon Valley, jika perempuan mengadu pada HRD, mereka dianggap mengada-ada dan tidak bisa menerima candaan. Dalam beberapa kasus yang dianggap besar karena diangkat mereka, pelakunya memang dipecat tapi dengan pesangon yang cukup untuk bikin start-up baru, sedangkan perempuannya tetap dikucilkan dalam pergaulan.

Tidak ada kesempatan untuk memikirkan berkeluarga. Perusahaan menyediakan makan malam gratis pada pukul 8 malam, ajakan seperti perintah untuk tetap berada di kantor. Penyediaan berbagai sarana untuk “bikin betah” karyawan dilakukan seperti ping pong, tenis, bir yang selalu tersedia di dalam kulkas, tempat istirahat, anything that will keep them stay. Perempuan yang hamil, sudah hampir dipastikan akan kehilangan tempatnya ketika kembali. Mereka yang sudah punya anak, tidak ada tempat penitipan anak, dan memerah susu atau menyimpannya, kecuali bersamaan dengan bir.

Perubahan memang ada, di Google misalnya diusahakan agar rekrutmen dilakukan untuk calon karyawan dari berbagai latar belakang budaya dan ras, bahkan berinvestasi pada pendidikan teknologi untuk anak perempuan. Facebook, karena salah satu bos besarnya perempuan, Sheryl Sandberg, perubahan terjadi ketika Sandberg ketahuan pulang 5.30 setiap hari, lalu ramai-ramai karyawan menuntut yang sama. Makan malam di Salesforce digeser dari jam 8 malam menjadi 7 malam agar karyawan bisa pulang lebih cepat. Slack dianggap terbaik karena memiliki staf perempuan hingga 40an persen, memerhatikan keberagaman latar belakang budaya dan ras, dan menyuruh karyawan pulang setelah jam 7 malam…. Work Hard and Go Home!

Emily Chang mengatakan, perubahan memang harus dimulai dari kesadaran para petinggi perusahaan teknologi ini, tetapi itu harus bisa diturunkan ke level karyawan. Budaya memang tidak mudah diubah, tapi sebagai perusahaan, mereka bisa memasukkan keberagaman, kesetaraan gender dan inklusivitas sebagai bagian dari etik dan nilai perusahaan yang tidak bisa dibantah.  Perempuan harus lebih berani bersuara, dimulai dari gerakan #MeToo dan saling menguatkan, dan ada persaudaran perempuan kini di Silicon Valley untuk saling menguatkan.

Perubahan itu juga harus dilakukan terhadap venture capitalis dan investor, untuk tidak menanyakan hal konyol seperti “kalau kamu menikah, bagaimana kamu akan mengurus start upmu?” rekrut lebih banyak perempuan dalam tim VP dan LP, agar perempuan punya kesempatan yang sama mengembangkan start- upnya.

Yonatan Zunger, bekas teknisi Google mengatakan, pekerjaan sesungguhnya dari seorang teknisi (engineer) adalah memperbaiki masalah yang ada di dunia nyata. Masalah tersebut selalu melibatkan hal pemahaman terhadap manusia dan itu membutuhkan empati yang besar, bukan malah dikurangi. Perempuan memiliki empati yang lebih besar dan hal tersebut sangat dibutuhkan oleh teknologi. Sementara Beth Camstock, dari General Electric bilang, keberagaman justru memicu inovasi, sayangnya orang lebih senang merekrut mereka yang sejenis dan sepahaman.

Logika sederhananya, bagaimana algoritma bisa disusun untuk membaca kebutuhan dan pemikiran manusia yang beragam, jika yang menyusun algoritma hanya tahu manusia dari kalangannya sendiri.

Membaca buku ini membuat saya emosi sebenarnya, ada bagian yang menceritakan Facebook menyediakan layanan untuk membekukan sel telur dan sperma untuk stafnya yang belum akan menikah. Itu memang pilihan, tapi pilihan yang ujungnya untuk kepentingan perusahaan itu sendiri, berusaha selama mungkin menahan karyawannya menikah, karena lagi, perempuan menikah, hamil dan punya anak, masih dianggap merugikan perusahan dari sisi efisiensi waktu dan produktivitas. Aku gemas.

Kegemasan kedua, di tengah eforia teknologi, masih saja orang percaya kalau ini adalah segalanya, lupa kalau teknologi itu cuma alat, dan manusia, kita, adalah masternya. Semua tergantung pada manusia untuk mengelola teknologi. Kalau tidak berinvestasi baik untuk meningkatkan empati manusianya, teknologi akan mencederai masa depan manusia.

Ketiga, pemujaan berlebihan pada tokoh-tokoh seperti Jobs, Elon Musk, Zuck… read this dan kamu akan terganggu, beneran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s