Lahir Sebagai Sebuah “Kejahatan,” Review Buku Born A Crime by Trevor Noah

Standar
Lahir Sebagai Sebuah “Kejahatan,” Review Buku Born A Crime by Trevor Noah

Saya bisa mengambil judul lain untuk review buku kali ini, tapi Trevor sudah dengan apik memilih judul dan itu menggambarkan persis apa yang dia tulis di 282 halaman.

Trevor Noah adalah comedian asal Afrika Selatan. Saya tidak tahu apapun tentang Afrika Selatan selain cerita umum tentang sistem politik Apartheid yang memisahkan orang kulit putih sebagai status tertinggi di negara yang terletak di benua Afrika dengan tentu saja mayoritas berkulit hitam, orang Afrika. Trevor Noah lahir di masa itu, ketika persemaian benih perempuan Afrika dan laki-laki kulit putih adalah haram dan anak yang terlahir dari sana adalah sebuah kejahatan. Trevor tidak memiliki “kaumnya” karena di masa itu, Afrika Selatan terbagi menjadi 3 kelompok; kulit putih, colored atau berwarna yaitu orang India, Cina dan bangsa lain selain Afrika yang menempati kasta terendah di rumah mereka sendiri. Trevor besar tanpa teman, tapi ibunya, Patricia Noah membesarkannya dengan cara-cara yang membuatnya terlepas dari lingkaran kemiskinan dan perbudakan.

Adalah Patricia Noah yang bertumbuh tanpa rasa kasih sayang dan merasa dimiliki dan diinginkan oleh keluarganya, Bapak dan Ibunya. Patricia tidak di sekolahkan orang tuanya, dia pergi mencari ilmunya sendiri di sekolah yang didirikan misionaris, yang mengajarinya membaca, berbahasa Inggris dan akhirnya mengetik. Keterampilan yang akhirnya memberikan pekerjaan sebagai sekretaris bagi Patricia, dari upah itu dia memasukkan Trevor di sekolah terbaik, mengajari Trevor bahasa Inggris dan bahasa lokal afrika lainnnya, serta menghujaninya dengan banyak buku. Bahasa, dan buku yang kemudian mengantarkan Trevor berbeda dan mampu “diterima” public sebagai seorang comedian, penyiar radio, penyiar tv dan seorang DJ’s.

Tapi perjalanan ke sana sangat tidak mudah. Sebagai the “outsider” Trevor tak punya identitas kelompok, tapi dia melihatnya sebagai sebuah keuntungan, artinya dia bisa masuk dan keluarga kelompok manapun dengan mudah, berbekal bahasa lokal afrika yang berjibun. Sepanjang hidupnya Trevor dibullied karena warna kulitnya yang terlalu terang sebagai Afrika, dan terlalu gelap untuk disebut kulit putih. Trevor bengal sekali, yang menurut dia sih wajar saja dilakukan di usianya ketika itu, hampir membakar hangus rumah orang, dikejar polisi saat mencuri alcohol dan coklat di sebuah mal, membajak music, tapi selalu lolos karena polisi tidak punya hukum yang mengatur hukuman terhadap anak “mixed” atau campuran kulit putih dan hitam. Tapi suatu hari, Trevor ditahan karena tak punya sim dan menggunakan mobil custom milik bengkel bapak tirinya. Seminggu dia ditahan, Patricia bilang, itu pelajaran paling penting dalam hidupnya.

Sejak menonton video Trevor Noah di facebook, saya jatuh cinta pada isi komedinya yang cerdas dan cerita yang sama dituangkan dalam buku ini dan tetap dong bisa membuat saya tertawa, cekikikan. Tapi saat yang sama terutama bagian bagian akhir, saya tercekat sesak napas, bapak tirinya menembak Patricia sang ibu.

Trevor memberikan perspektif baru tentang anak campuran Afrika Selatan yang hidupnya penuh tantangan. Kemiskinan yang nyata, ketika Patricia sempat besar dengan makan lumpur sungai asal perutnya bisa merasa kenyang, ketika Trevor Cuma bisa makan ulat bulu bercampur dengan sayur dari tanaman liar karena bisnis sang ibu hancur. Bahwa berjuang untuk keluar dari lingkaran kemiskinan itu tidak mudah, dibutuhkan ibu segila Patricia yang berani mendobrak aturan-aturan konvesional yang membuat orang Afrika selamanya dianggap “terbelakang.” Dibutuhan keberanian untuk tampil berbeda dan bangga untuk itu. Trevor mengutip Mandela “Berbahasa dengan bahasa yang dimengerti oleh seseorang, kamu akan menyentuh isi kepalanya. Tapi berbahasa dalam bahasa lawan bicara akan membuatnya tersentuh dari dasar hati” bahasa telah membuat Trevor selamat dalam pergaulan dan Bahasa Inggris menjadi mata uang yang membuatnya “kaya.”

Ketika buku ini selesai dibaca, I have a mixed feeling…. Saya dapat pengetahuan baru tentang Afrika Selatan, penjajahan di masa modern dan bagaimana orang kulit hitam hidup dalam stigma “primitive” dan perjuangan mereka untuk keluar dari stigma tersebut. Buku ini memyimpulkan  rasisme adalah konstruksi sosial, kamu yang punya pilihan dimana kamu berada, memilih identitasmu sendiri, dan saya (Trevor Noah) adalah Afrika, I am with Black People.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s