Bicara Dalam Bahasa Mereka, atau Kau Diam!

Standar
Bicara Dalam Bahasa Mereka, atau Kau Diam!

Di angkatan saya sewaktu sekolah di London dari 27 orang, dua yang tertua adalah kawan dari Hongkong 42 tahun dan saya 38 tahun, lalu yang termuda usianya baru 22 tahun. Suatu hari Cheng bilang pada saya, “aku gagal paham, kenapa kamu bisa main bareng mereka? Kita ini selisih usianya jauh dengan mereka Nit. Mereka belum kenal dunia, seperti kita.” Sambil senyum saya bilang, “teman, ya saya anggap teman, termuda saya adalah Leon, anak Indonesia yang hari ini barangkali usianya baru 18 tahun. Dan saya juga tidak kenal dunia mereka, karena itu saya mau kenalan.” Cheng pergi sambil manyun, “saya tidak bisa seperti kamu. Tidak selevel lah.” Oh baiklah kata saya. Itu kan pilihan dia.

Kawan lain dari Malaysia bilang, “kamu seperti orang tua yang berusaha menjadi anak muda, Nit.” Lagi-lagi sambil senyum saya bilang,”usia bukan batasan buat dua orang berteman. Saya bukan tante atau orang tua mereka, saya kawan.”

Barangkali sejak mengasuh Green Radio 2008, saya sudah mulai membiasakan diri berbicara dengan anak muda. Tim saya, setengahnya hampir 20an orang itu baru lulus. Kalau saya tak bicara dalam bahasa mereka, mengenal gaya hidup mereka, tim tidak akan solid, maka saya hanya akan dikenal dengan boss yang cuma bisa perintah ini dan itu. Tim harus kuat, saling dukung dan meski Green Radio Jakarta tiada, tim kami sampai hari ini masih komunikasi, masih saling lempar rezeki, pekerjaan.

Lalu bekerja dengan Ashoka Indonesia dan bersinggungan dengan Young Changemaker, anak-anak muda usia 14-25 tahun yang punya gerakan sosial. Berkenalan dengan ratusan anak-anak di Indonesia yang punya empati dan tergerak untuk menyelesaikan masalah sosial di sekitar mereka. Buat saya, mereka anak-anak luar biasa, yang sampai hari ini, saya mengikuti perjalanan mereka. Bahkan mereka yang sudah meninggalkan kelompoknya, tetap menjadi anak-anak muda yang punya idealism dan empati tinggi. Bertemu mereka, berteman dengan mereka, membuat saya percaya, kita masih punya harapan.

Tapi sudah hampir sebulan ini, banyak sekali orang seangkatan dan di atas saya merasa sangat perlu menasehati anak muda bagaimana mereka harus berpolitik, mengekspresikan pendapatan bahkan dalam soal berbuat kebaikan, bahkan mengajari mereka untuk menabung. Wow… sungguh wow…. Sindiran dan nyinyiran terus dilemparkan pada anak-anak muda yang sedang mengekspresikan pendapat dan perbuatan dengan cara mereka, dalam bahasa mereka. Saya mau bilang, “bagitukah caramu “mengatur” anakmu di rumah?”

Kamu tahu kah kawan tua, kawan-kawan muda ini tak punya banyak “kebanggaan” terhadap kita, tanah air bahkan masa depannya. Apa yang mau dibanggakan ketika hutan sudah berganti tambang, ketika laut isinya hanya sampah, hewan yang tersisa hanya ada di kebun binatang, bukit hijau dipangkas seperti tetek ibu terserang kanker dan harus dibuang. Uang yang kau suruh anak muda itu tabung, takkan bisa membeli oksigen, air bersih, dan mengembalikan hewan yang sudah kau punahkan. Uang yang kau suruh anak muda tabung, takkan sanggup untuk membayar utang yang kau wariskan, takkan sanggup membeli rumah seperti kau karena bahkan tanah saja tak bersisa untuk mereka tinggali, untuk mereka tanam.

Kalau ada anak muda bilang “kita mungkin mati besok,” ya iya sangat mungkin! Orang tuanya sibuk mengumpulkan uang dengan menggerus dari alam yang tersisa hari ini. Orang tua sibuk mengatur selangkangan daripada memperbaiki dan menyiapkan masa depan. Orang tua melakukan kekerasan dan berkata kasar, sungguh contoh yang luar biasa. Orang tua sibuk nyinyir sementara karir politiknya juga mandek dan hidupnya tak lebih untuk membuat sensasi, supaya dianggap ada. Kita ini yang punya dosa banyak pada anak-anak muda itu.

Bicara lah dengan bahasa anak muda, jika tak sanggup, maka diam dan berikan dukungan saja. “Kami lelah berpolitik cara orang tua,” kata Ananda Badudu dan saya sangat memaklumi itu. Jika tak sanggup berkawan dengan mereka, jangan posisikan jadi lawan. Bukan, tak usah geer, ini bukan tentang masa depan kita orang tua yang sebentar lagi akan magrib dan berpulang, ini tentang mereka yang harus menjalani masa depan dengan perjuangan yang panjang dan akan melelahkan.

Dukung saja, atau kau diam.

foto : The Youth Movement – Korn Ferry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s