Yang Abadi Adalah Jejak Digitalmu. Review Buku Permanent Records oleh Edward Snowden

Standar
Yang Abadi Adalah Jejak Digitalmu. Review Buku Permanent Records oleh Edward Snowden

Saya sudah mengikuti cerita Snowden sejak 2013, membaca beritanya, menonton film CitizenFour, baca buku No Place to Hide oleh jurnalis yang menulis bocoran Snowden untuk the Guardian, Glenn Greenwald. Sepanjang kuliah, materi essay ga jauh-jauh dari Snowden. Esai dengan nilai terbaik saya waktu itu dimulai dengan kalimat “Edward Snowden membalas twit saya dengan …” novel kedua Hening, juga ga jauh inspirasinya dari cerita Snowden lalu begitu melihat buku ini, meski di dompet duit tentang segitu-gitunya, belilah… kalau ada figure di dunia modern yang berpengaruh dalam hidup saya, Snowden salah satunya

Buku ini menceritakan tentang kisah hidup Snowden dalam tiga babak; babak pertama kehidupan awal, babak kedua tentang pekerjaannya sebagai kontraktor IT untuk badan intelejen di Amerika, dan ketiga, tipping point atau momen puncak dari hidupnya yang membuat dia memutuskan untuk membocorkan rahasia negara. Tiap babak memberikan kesan tersendiri buat saya. Bahwa Snowden lahir di keluarga yang memiliki privilege untuk mendapatkan komputer seri pertama karena ayah dan ibunya juga bekerja untuk lembaga intelejen Amerika. Komputer tak Cuma sahabatnya tapi hidupnya bagi Snowden, di balik layar orang bisa menjadi apa saja, termasuk diperlakukan sebagai orang dewasa ketika dia menghubungi sebuah laboratorium dan memberitahu kebocoran sistem keamanannya, usia baru belasan tahun ketiga itu.

Babak kedua, memasuki dunia intelejen yang seru. Membacanya sambil membayangkan film mission impossible dengan CD yang terbakar usai memberikan perintah, atau seri berikutnya yang membaca semua kegiataan orang di layar virtual, dan itu yang memang dilakukan oleh intel. Yang paling seru buat saya ketika Snowden menggambarkan ruangan kerja dan bagaimana CIA bekerja dengan gamblang. Tentang orang tua dari zaman “colonial” masih dipekerjakan untuk menjaga ruang penyimpanan data yang bekerja dengan kaset dan tape recorder. Pertama karena CIA sendiri tak percaya dengan sistem komputerisasinya yang sewaktu waktu bisa rusak dan menghilangkan semua simpanan data, kedua, karena tidak ingin dibajak balik. Di babak kedua ini, Snowden membongkar cara-cara “nakal” pemerintah dengan menyewa kontraktor melakukan hal buruk, seperti nurturing al qaeda untuk menghalau rusia keluar dari tanah Afghanistan, tapi yang terjadi kemudian berbalik, Al Qaeda menyerang Amerika – ini yang disebut sebagai Frankenstein Effect. Tentara-tentara bayaran untuk maju di medan perang dan menyiksa tahanan di Abu-Ghraib. Di sini Snowden mulai bertanya pada dirinya sendiri, apakah nilai patriotism itu? Berjuang untuk negara yang melanggar nilai kemanusiaan atau apa? Pada moment ini, Snowden mulai sangat hati-hati menyebarkan informasi pribadi di internet. Dia tidak menggunakan kartu kredit karena takut diambil datanya, dia beli mobil secara kas loh.

Babak ketiga, perjalanan menuju akhir terowongan dimulai. Di bagian ini dia ingin menceritakan kalau keputusannya membongkar rahasia NSA yang melakukan mass surveillance kepada warga Amerika dan dunia lewat kerjasama dengan sekutunya yang disebut Five Eye (Canada, UK, New Zealand, Australia dan Amerika) bukan keputusan ujug-ujug. Snowden menimbang semuanya, dia tahu kalau akan kehilangan kehidupan pribadinya kalau dia membocorkan ini. Tapi keputusannya sudah matang, ini bagian dari cara dia menebus kesalahan pada dunia, dia yang membantu sistem surveillance ini terbangun dan kemudian digunakan untuk kepentingan tak Cuma intelejen atas nama keamanan negara tapi kepentingan para kapitalis. Metadata yang tersimpan sepersekian detik tentang kehidupan pribadi setiap orang di dunia ini diperjual belikan kepada kapitalis untuk membaca dan prediksi perilaku, tingkat konsumsi, preferensi minat membeli, dan kemampuan membeli. Bagi intelejen, semua data pribadi bisa disalahgunakan untuk melanggar kehidupan privasi orang. Di Amerika, kepemilikan pribadi sangat dilindungi negara dengan undang-undang, tapi hukum selalu terlambat dibanding perkembangan teknologi, data pribadi menjadi property negara dan itu harus dilawan. Snowden bilang, orang yang tidak peduli pada privasi datanya seperti orang tidak percaya tuhan hanya karena dia atheis, orang tidak percaya demokrasi karena dia otoritarian dan seterusnya. Hari ini kamu boleh tidak percaya pada perlunya perlindungan data pribadi, tapi suatu saat hal terburuk bisa terjadi, datamu digunakan untuk melawanmu dan generasimu berikutnya.

Salah satu yang cerita yang membuat dia menemukan keputusan adalah ketika dia mengawasi atau surveille seorang dosen di Indonesia. Dosen itu mengajukan penelitian bersama dengan universitas di Iran, dengan menyebut Iran saja, namanya kemudian masuk dalam daftar pengawasan intelejen Amerika. Snowden melihat kegiatan si dosen dengan laptopnya di belahan dunia lain. Tiba-tiba anak si dosen menghampiri bapaknya, dan dipangku. Snowden berhadapan mata dengan anak itu dan dia membayangkan dirinya sendiri bersama bapaknya. Dia langsung berdiri dan ke kamar mandi, napasnya berhenti. Dia membayangkan apa yang akan terjadi pada anak itu dengan data yang tersimpan bahwa bapaknya berhubungan dengan Iran. Saya berhenti membaca di bagian ini… sejenak… dan menangis. SHIT! Kita bisa sangat mudah masuk daftar hitam hanya karena mampir ke situs situs yang dianggap sensitive oleh negara dan itu menjadi catatan abadi yang sangat mungkin memengaruhi kehidupan anak cucu nanti

Kecemasan demi kecemasan yang membuat Snowden mendapatkan serangan epilepsy di usia 27 tahun. Ibunya ternyata juga mengalami epilepsy di akhir 30an. Kecemasan memicu serangan di otak dan itu yang membuat kejang atau seizure. Cerita ini mengena buat saya pribadi karena sahabat dekat saya meninggal dalam tidur karena kejang epilepsy tiga tahun silam.

Ada banyak cerita yang bisa diambil pelajarannya dari buku ini, termasuk bagaimana cara menghindari penyadapan ketika kamu melakukan aktivitas yang sensitive untuk “diinteli” yang berguna untuk kawan-kawan jurnalis. Awareness saja tidak cukup untuk melindungi data pribadimu, kamu harus berjuang untuk melindunginya kata dia.

2016 saya mencolek Snowden di twitter “terus kenapa lu ada di twitter padahal tahu diawasi?” jawabannya singkat tapi mengena, “untuk menyampaikan pesan.” Nel-uga… tapi kan ga setiap orang bisa melindungi datanya seperti dia huhuu, saya hanya mengurangi apa yang bisa saya kurangi dari data pribadi.

Kita selalu percaya bahwa perbuatan baik semasa hidup akan membuat nama kita abadi saat mati nanti, tapi sekarang, yang abadi hanya data pribadi. Jadi berhati-hatilah dengan jejak digitalmu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s