Pelajaran Kehumasan dan Jurnalisme Dasar Dari Kasus Livi Zheng

Standar
Pelajaran Kehumasan dan Jurnalisme Dasar Dari Kasus Livi Zheng

Disklaimer dari awal ya, saya punya lebih 10 tahun pengalaman sebagai jurnalis, belajar tentang Komunikasi Politik dan di dalamnya ada kelas tentang Promotional Culture atau budaya promosi. Di kelas itu saya belajar tentang kerjaan konsultan politik dalam kehumasaan dan lobi-lobi. Pengalaman kerja juga mengharuskan saya sedikit banyak belajar tentang kehumasan. Saya penggemar Michele Foucault yang bilang power atau kekuatan atau kekuasaan itu tidak melulu tentang opresi, atau paksaan. Knowledge atau pengetahuan adalah salah satu amunisi kita untuk mempraktikan kekuasan atas orang lain, memengaruhi orang lain untuk percaya, tunduk pada apa yang kita inginkan.

Nah kasus Livi Zheng adalah kemampuan PR- kehumasan yang ada di belakangnya untuk mempengaruhi media arus utama untuk memercayai apa yang mereka tulis dan selanjutnya membuat public percaya pada penokohan Livi Zheng. Kasus ini adalah kemenangan PR atas media yang gagal melakukan tugas utamanya sebagai the watchdog, pengawal, pengawas demokrasi dengan etika jurnalisme yang ketat soal pemberitaan. Livi Zheng bukan politisi, bukan pejabat, tapi justru di sana pintu masuk kita, lalu bagaimana dengan politisi yang memermak wajahnya setiap saat menjadi orang baik yang membawa kesejahteraan rakyat, bayangkan kerja keras tim PR di belakangnya dan betapa mudahnya media bisa “ditipu,” dan sebagai rakyat jelata dah apalah kita, harus terus skeptis membaca apa yang ditangkap mata.

Pilih angle yang tepat dan rilis yang mudah dikutip.

Hal pertama yang sering kami diskusikan di kelas adalah tentang “soundbite” pilih kalimat yang mudah dikutip media, apapun yang ditanya oleh jurnalis yang sekarang makin malas bertanya, maka beri jawaban yang sama. Kita tentu ingat kata-kata yang sering diucap oleh SBY “Saya Prihatin” atau Presiden Jokowi dengan kata “Sontoloyo” nya, dan Livi dalam wawancara terakhir yang saya baca di beritagar, mengulang kata “ada datanya, nanti saya beri.” Terus berulang dan muncul di media, diperdengarkan di berita macam kaset kusut atau CD looping. Itu bukan kesengajaan, itu by design. Contoh lainnya coba ingat lagi apa yang sering diucapkan oleh Prabowo Sandi sepanjang musim kampanye kemarin.

Kedua, pilih angle yang tepat. PR Livi memainkan penokohan Livi sebagai anak muda, sutradara muda Indonesia yang mendunia, mampu menembus Hollywood. Di tengah suasana yang memuakan seputar politik, tokoh Livi adalah angin segar bukan, pengalih perhatian politik. Dengan iming-iming Oscar dan Hollywood, Indonesia yang da apalah kita, yang selalu merasa inferior terhadap apa saja yang datang dari barat, langsung membelalak, oh iyes! Indonesia hebat, good news from Indonesia.

Ketiga, pilihan konteks. Setelah pilih angle, pilih konteks waktu, kapan yang paling tepat menyebar rilis. Moment itu disebut di atas, saat orang muak dengan politik, menyajikan Livi adalah kesegaran baru, “harapan baru” bahwa Indonesia hebat.

Keempat, koneksi. Seperti warung padang yang memasang foto tentara atau restaurant dengan papan panjang tandatangan artis dan pejabat, maka mencitrakan seseorang hebat adalah dengan siapa dia terlihat public. Dalam kasus Livi, dia ada di sebelah Luhut Panjaitan, Tito Karnavian, Jusuf Kalla, Anies Baswedan.

Sederhananya gini loh, kalau hanya bikin film profil kota atau kabupaten, ada banyak rumah produksi dan sutradara Indonesia yang biasa buat ini. Tapi karena ini ada title sutradara Hollywood, baik politisi, pejabat pun memanfaatkan pencitraan yang sama. Iyes.

 

Rendahnya perhatian pada Berita Hiburan

Berita hiburan selalu menarik untuk diklik oleh pembaca, meski isinya tak kurang banyak tentang gossip. Bagaimana Nikita Mirzani kawin cerai itu lebih penting tampil di media daripada cerita perjuangan dia sebagai perempuan kepala rumah tangga, orang tua tunggal yang membesarkan ketiga anaknya sendirian. Oh tentu itu tidak menarik Isabela. Atau ketika Syahrini berbulan-bulan menghiasi berita hiburan kita, mulai cerita rebutan laki, sampai isi tasnya yang rasanya sinting kalau ada yang ingin tahu. Tapi itu click bait buat media.

Berita hiburan sering dianggap “remeh” oleh redaksi, hanya hiburan, sehingga mungkin sangat longgar dalam pengawasannya. Di lapangan, jurnalis hiburan seringkali tidak dianggap sebagai jurnalis, karena hanya menulis gossip. Lalu naik tingkat ketika menjadi jurnalis budaya, bicara tentang film, pertunjukan seni dan budaya. Tapi lagi-lagi dimana posisinya? Ada di halaman belakang, ada di sidebar, atau di acara sempilan. Intinya, nyaris berita hiburan tak dianggap serius

Lalu semua media mengangkat sosok Livi Zheng, take it for granted.

Di dunia yang serba cepat, rilis yang mudah anglenya bagus, tokohnya bagus, waktunya tepat, dan mudah dikutip, langsung cus, naik berita. Dalam beberapa kesempatan tidak Cuma berita hiburan, bahkan berita pun hanya mengandalkan rilis yang dikirim oleh lembaga tertentu tanpa ada upaya untuk verifikasi. Kalau perlu rilis itu dipotong menjadi beberapa berita pendek lagi supaya angka visitor dan viewer naik. Kalau hanya mengandalkan rilis, jadi jurnalis rilis aje.

Ketika media arus utama menampilkan Livi Zheng, maka serta merta media lainnya juga seperti laron, beramai-ramai menaikan informasi tentangnya. Semua menelan mentah-mentah, tanpa verifikasi di awal. Lagi-lagi saya sih curiganya karena kepengen cepat, kepengen click naik, dan ini berita hiburan…

Sampai ketika seorang dengan nama palsu menulis tentang Livi di Geotimes, dan ditangkap cantic oleh Tirto lalu berbondong-bondong media yang sebenarnya ikutan bersalah itu mencuci tergesa-gesa muka yang terlanjur kecipratan air kotornya sendiri. Sampai lupa sebenarnya, media mana saja yang paling awal memberitakan soal ini?

Buat saya ini skandal jurnalisme Indonesia, kalau dianggap kecil, kamu salah. Bayangkan ini bisa sangat mungkin terjadi pada penokohan lain, politisi atau pejabat public. Media yang kita harapkan menjadi rujukan kebenaran ternyata gagal menjalankan hal paling sederhana, 5W +1 H, gagal bertanya, gagal memverifikasi berita rilis.

Media tidak seharusnya membeda-bedakan kualitas berita, politik, lingkungan dan hiburan. Kualitas jurnalisnya harus selevel dong, harus punya kemampuan yang sama, tetap kritis pada informasi. Pelatihan jurnalisme investigasi harus berlaku untuk semua desk berita, tak terkecuali.

Di tengah digitalisasi informasi, ini saatnya merefleksi istilah FAST, karena FAST and FALSE itu FATAL! Mau cepet eh salah. Ih gemes.  Jangan lagi kecolongan deh ah. Malu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s