Mencoba Melucu, Belajar Menjadi Lucu

Standar
Mencoba Melucu, Belajar Menjadi Lucu

Salah satu pekerjaan yang menurut saya luar biasa sulit di dunia ini adalah menjadi comedian, menjadi lucu, dan membuat orang lain tertawa. Pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang cerdas yang mampu menjadikan sesuatu yang rumit menjadi ringan dan buat orang lain paham dalam tawa. Tapi ternyata tidak semua comedian yang bisa begitu, sebagian macam jatuh sengaja dan berharap orang tertawa, atau yang paling gampang mencela orang lain secara fisik, secara ideology, itu sik gampang, a piece of cake. Kalau cuma cari bahan candaan dengan menjelek-jelekan orang lain, ga perlu jadi orang pintar, cuma perlu jadi ngehek. Karena itu bagian roasting di acara stand up comedian, menjadi bagian yang paling tidak lucu sebab sebagian besar cuma mencela lawan dengan hal yang tidak lucu.

Anyhow, saya sedang menantang diri sendiri untuk menjadi lucu. Saya tidak lucu sama sekali. Sila baca tulisan-tulisan saya di blog ini, atau novel TUN (jualan lagi), emang ada yang bikin kamu tersenyum? Saya tidak bermaksud melucu memang, dunia ini serius banget di mata saya. Sangat mudah membuat saya emosi karena membaca ulama mencela symbol agama lain, atau sekelompok orang mengatai-ngatai orang lain monyet, asal kamu tahu, kita ini semua hanya beda 1% DNA dengan monyet, kita ini monyet semua. Asal kamu tahu, empati kita jauh lebih rendah dari gajah! Jadi apa yang bisa kamu banggakan dari menjadi manusia? Sampai sini saya sudah lucu belum?

Mark Twain bilang “humor born not from joy, but from sorrow” dalam beberapa kesempatan saya menuliskan “berdansa dengan luka” mengubah sedih menjadi sesuatu yang menyenangkan, menertawakan duka sendiri dan membuat orang lain tertawa, barangkali malah jadi pahala dan menyembuhkan luka pribadi. Saat ini, kalau Twain ada di samping saya, mungkin dia akan menepuk pundak dan bilang, “yes, it is about time for you to be funny!”

Arie Kriting, Trevor Noah adalah dua di antara comedian yang bisa bikin saya tertawa, tertawa dalam luka sebenarnya karena menertawakan betapa konyolnya kita memerlakuan orang lain dengan semua perbedaan dan melukai mereka yang kita anggap “minoritas”. Saya ingin belajar banyak dari Sakdiyah Maaruf yang bisa membuat ekstremisme Islam dan keperempuanan serta kearabannya sebagai bahan untuk membuat orang paham tapi sambil tertawa. Saya mau belajar seperti Gus Dur – semakin berat tantangannya J

Ada banyak kisah ironi terjadi di sekitar yang menurut saya bisa membuat orang tertawa sambil menangis. Tentang anak narapidana teroris yang hanya bisa mengucap Pancasila ketika ibunya sedang meleng, anak sekecil 2 tahun itu tahu ibunya yang teroris itu tidak mengakui Indonesia. Tentang sekelompok elit Indonesia yang lebih senang bicara tentang kekacauan di luar negeri daripada di dalam karena itu akan menyangkut periuknya sendiri. Tentang orang Indonesia yang lebih bangga berbahasa Inggris biar dianggap pintar saat berbicara dengan sekumpulan orang kampung. Orang Indonesia itu lucu loh bener, saya aja yang sok serius!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s