Panggilan Kematian

Standar

Adzan Isya baru selesai berkumandang, dan menjelang Qomat, pengurus masjid mengumumkan “telah berpulang kehadirat Allah SWT, Bapak Rahmat yang beralamat di Jalan Dukuh No.5, RT 02 RW 03..”

Anto menghembuskan napas panjang. Satu hari ini sudah tiga pengumuman kematian yang disampaikan dari masjid yang sama. Para tukang gali kubur dan pemandi jenazah panen honor, begitu juga dengan rombongan pengajian laki-laki dan perempuan. Jika keluarga mampu, dua kelompok dihadirkan lepas shalat ashar untuk perempuan dan kelompok laki-laki di malam hari, kadang selama tiga hari berturut-turut, kadang tujuh hari. Tukang masak juga ketiban sedikit rezeki hari ini hingga tujuh hari mendatang.

Anto menghembuskan napas panjang kedua kalinya, apakah keluarganya akan mampu memberi makan para pengaji yang datang, apalagi untuk membekali mereka? Berapa yang akan datang dan berapa di antara yang datang melatunkan doa dengan ikhlas dan bukan berharap berekat? Apakah keluarganya cukup punya uang untuk biaya pemandian, gali kubur, sewa keranda, tenda dan lubang kubur yang katanya bisa seharga lima juta satu paket itu? Apakah sanggup keluarganya membayar iuran sekitar dua ratus ribu rupiah agar kuburnya nanti tetap bersih dan memastikan tidak dipakai orang lain.

Jakarta kian sempit, jika tak membayar rutin, kavling bisa saja dipakai orang. Dia akan mati, dan menjadi tulang belulang, tak ada lagi kesempatan untuk memrotes karena ditiban jenazah baru. Tapi apakah keluarganya rela kehilangan tanda dimana dia dikubur? Atau apakah mereka akan berkunjung rutin di hari raya dan berkirim doa?

Anto memejamkan mata menahan sakit di dada, di kepala, di kakinya, dan di seluruh tubuh. Dia sangat yakin Tuhan sedang menghukumnya dengan memberikan sakit tak berkesudahan. Sudah sembilan tahun stroke menghajar tubuh bagian kiri lalu pindah ke kanan, ditambah diabetes yang membatasinya makan manis, kesukaannya. Semua jenis gula tebu diganti Si Minah atas perintah Aditya anak satu-satunya dengan pemanis buatan yang tak karuan rasanya itu. Anto merasa hidup hanya membuat orang lain susah. Dian isterinya terlalu lelah merawat Anto hingga lupa kesehatannya sendiri, jantung merenggut nyawanya saat shalat subuh. Sekarang tinggal Adit, anak satu-satunya yang sibuk mencari nafkah untuk pengobatan dan perawatan Anto, membayar semua tagihan listrik, dan air juga gaji Minah.

Dia titipkan iri kepada tiga tetangganya yang mati berbarengan hari ini. Sulis, Rahmat dan Tito adalah teman mainnya sejak kecil di kampung yang berubah menjadi komplek perumahan itu. Mereka masih di sana, menghabiskan masa tua di komplek yang kini hanya diisi para pensiunan. Rapat RT lebih mirip ajang curhat para orang tua yang kehilangan penglihatan, pendengaran, yang diabetes, darah tinggi sampai kanker. Ajang rapat RT menjadi pertemuan saling berbagi resep sehat sampai nama rekomendasi dukun ampuh yang mengobati segala macam penyakit dari vertigo sampai sipilis.

“Kamu jangan terlalu khawatir dengan dunia To. Matimu susah nanti,”Sulis menepuk pundaknya semalam saat rapat RT berlangsung. “Kita ini sudah tinggal waktunya menunggu panggilan untuk mati. Sudah selesai tugas di dunia. Biarlah anak-anak mandiri. Percayakan masa depan mereka pada mereka sendiri, bukan kita lagi.”

Siapa sangka Sulis meninggalkannya pagi tadi, serangan jantung. Tiga ring di jantungnya tak mampu menghalau malaikat maut. Disusul Tito yang sudah dua minggu koma di rumah sakit, lalu malam ini, Rahmat, dia jatuh di kamar mandi pagi tadi saat mendengar pengumuman dari masjid tentang kematian Sulis. Hanya hitungan jam, Rahmat menyusul sahabatnya ke alam kubur.

“Dit,” Anto menyapa anaknya lewat telpon

“Iya Pak. Bapak kenapa? Bapak menangis?” Adit mulai mengkhawatirkan Anto

“Besok kamu pulang?”

“Insya Allah pak. Adit pulang bawa kejutan nanti.”

“Apa Dit, sekarang saja, mumpung bapak masih ada waktu.”

“Bapak masih punya banyak waktu e. Jangan bikin Adit khawatir ah.”

“Maafkan bapak ya Dit, selalu membuatmu khawatir.”

“Bapak iki, ada apa?”

“Nda apa-apa. Besok kamu pulang jangan lupa ke makam om Sulis, om Tito dan om Rahmat.”

Belum sempat Adit bertanya ada apa dengan mereka, telpon mati, dia tak bisa menghubungi bapaknya lagi. Perasaan Adit tak keruan. Malam itu juga dia cari tiket kereta untuk kembali ke Jakarta.

Anto tersenyum bahagia, air matanya seketika mengering. Sulis, Rahmat dan Tito sudah menunggunya di pagar rumah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s