Menikah Bukan Cita-cita

Standar
Menikah Bukan Cita-cita

Dalam beberapa kesempatan bertemu anak muda, setiap kali kami tanyakan cita-cita, mereka menjawab, menikah! Sebagai fasilitator, saya tidak berhak bilang, itu salah dan benar. Hanya bilang bilang, “selain itu? Mosok ga kepengen sekolah lagi, punya ina inu.” Ada mba, punya anak… haiya… tepok jidat.

Di luar kegiatan, baru saya bisa bilang, menikah bukanlah bagian dari cita-cita. Kenapa? Karena menikah adalah bagian dari hidup itu sendiri, seperti juga sakit dan mati. Adakah orang yang bercita-cita mati? Ada, tapi itu di luar nalar dan kebiasaan. Kamu bisa menargetkan akan menikah di usia kurang dari 30 tahun, tapi itu bukan sekali lagi cita-cita karena jodoh cuma tuhan yang tahu, itu kan kita sudah sepakat, kalau beragama. Tidak menikah juga bukan cita-cita, tapi keinginan dan keputusan. Tidak ada yang salah dengan menikah atau tidak menikah. Ada saatnya, keputusan bisa berubah. Saya menikah di usia 39, apakah menikah jadi cita-cita? Ga lah, ada selusin lebih cita-cita yang mau saya wujudkan, ternyata di tengah jalan bertemu jodohnya, menikah deh. Ada kawan menikah saat telah pensiun, ada kawan yang menikah setelah lulus sma. Silakan saja, tapi cita-citamu tak selesai di sebuah pernikahan.

Saya jadi ingat pesan almarhum pak Sutopo atau Pak Topo, jubir BNPB, “bukan soal berapa lama kita hidup, tapi berapa besar yang bisa kita perbuat untuk orang banyak.” Nah coba camkan itu baik-baik. Apakah hidupmu selesai dengan menggantungkan cita-cita menikah? Apakah menikah bisa membantu orang banyak? Kata mereka yang percaya poligami iya, tapi berapa banyak mereka yang poligami menikahi nenek-nenek dan janda-janda tua? Bohonglah itu.

Saat menikah, cita-citamu bisa sangat mungkin bergeser. Dulu kamu sangat idealis, ingin berbuat ina inu, berbuat lebih untuk membantu orang banyak. Tapi begitu menikah, tuntutan hidupmu pun berubah dan harusnya memang begitu, mendahulukan kesejahteraan keluarga menjadi yang utama. Lingkaran orang-orang idealis yang besar, kian hari kian sempit, anak-anak muda yang idealis kian hari hanya berpikir untuk menikah, punya anak, dan lalu…

Kecuali, kamu punya pasangan yang mendukung idealismu, itu berarti kamu beruntung karena ada dua kepala, dua tenaga untuk berbuat kebaikan. Ada tim untuk bisa berbuat banyak, mewujudkan cita-citamu, pasangan yang tidak membuatmu mundur tapi justru mendukung cita-citamu untuk maju. Dan mencari pasangan yang tepat ini jauh lebih susah daripada mewujudkan cita-citamu untuk orang banyak. Kamu akan melewati berkali-kali patah hati, jatuh bangun seperti lagu dangdut, karena itulah do not waste your time to find the right one, habis hidupmu Cuma untuk mencari cinta. Mending ya, berbuat kebaikan, wujudkan cita-citamu, membantu orang lain yang banyak, when you spread LOVE, you’ll find love. Itulah kenapa menikah bukan cita-cita, jadikan menikah bagian dari perjalanan hidup.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s