Perempuan Di Balik Jeruji, Siapa Peduli?

Standar
Perempuan Di Balik Jeruji, Siapa Peduli?

Suatu hari saya berkesempatan menghadiri sebuah pertemuan internasional bicara tentang investasi terhadap perempuan. Bahwa perempuan harus diberikan akses penguasaan asset dan permodalan agar mandiri, untuk itu kita harus bantu dan dengan kemajuan teknologi akan mudah diakses oleh mereka bla blab la… yang sangat bagus menurut saya, tentu saja setuju. Tapi ketika bicara tentang perempuan mana yang dimaksud, tentu saja lain cerita.

Perempuan yang bisa mengakses teknologi permodalan adalah perempuan yang sudah dipapari oleh kemajuan teknologi, minimal punya kemampuan menguasai telepon pintar. Dan itu tidak termasuk Nai yang tidak bisa membaca dan menulis, atau Herlina deh yang lebih muda tapi tak lancar membaca. Telepon genggam buat mereka adalah untuk telepon, dan foto-foto. Untuk dapat sinyal saja, lokasi yang 8 jam dari ibu kota kabupaten Berau, Tanjung Redep itu seperti gelombang laut, datang dan pergi sesuka hati. Dua hari lalu Herlina telpon tapi tak sempat saya angkat, hingga hari ini, telponnya tak bisa saya hubungi balik, sinyal sedang hilang di Teluk Sumbang.

Perempuan yang bisa mengakses teknologi permodalan adalah perempuan yang sudah terpapar teknologi DAN bebas mengaksesnya. Itu tidak termasuk para perempuan di balik jeruji yang hampir satu tahun ini berkawan dengan saya lewat kelas Perempuan Menulis. Telepon pintar termasuk barang haram di dalam penjara, kalau ketahuan! Tetapi siapa yang mau menanam modal pada perempuan dengan status narapidana? Tanya saya di depan forum. Tak ada yang menjawab.

Perempuan adalah perempuan, untuk Nai, perempuan dari adat Basap yang sudah berusia 87 tahun, atau N yang berstatus warga binaan di lapas perempuan Bandung, mereka harusnya punya hak yang sama untuk menjadi mandiri dengan mengakses permodalan yang digadang-gadang adalah bentuk perjuangan feminisme di negeri ini. Tapi lagi-lagi semua itu cuma barang dagangan, pencitraan. Siapa yang benar-benar mau nama merk lembaganya menempel pada jeruji besi?

Melihat kawan-kawan di lapas begitu bersemangat menulis, berkarya dan menyusun mimpi, saya patah hati. Bagaimana caranya agar mereka bisa memiliki kesempatan yang sama dengan perempuan di luar sana yang bebas dari stigma? Sebagian dari mereka masih memiliki keluarga yang mampu memodali mereka, tapi sebagian besar tidak. Beberapa kali pertemuan T absen, D bilang, T sibuk kerja serabutan untuk bisa bertahan hidup di lapas sembari mengumpulkan modal agar keluar nanti dia bisa usaha. Beberapa kali jatuh sakit, sampai akhirnya seorang napi kaya mempekerjakannya sebagai asisten, tapi ya itu, T tak bisa seenaknya ikut ina inu, tergantung bos memberikannya waktu, termasuk ikut kelas ini. Padahal di kelas saya, T yang paling rajin dan semangat menulis. Sekali lagi saya patah hati.

Saya terpaksa beberapa kali minta maaf karena keinginan untuk bisa hadir saban minggu dan punya papan madding yang bagus untuk memperlihatkan karya mereka, terpaksa tertunda. Beberapa kali mengajukan proposal kegiatan, gagal, sementara kas pribadi saat ini baru mampu mengongkosi saya bolak balik dua minggu sekali jika tak ada kerja mendesak, untuk bertemu mereka. Jangankan untuk menjanjikan permodalan setelah keluar dari sana. Satu-satunya mimpi untuk bisa melanjutkan hidup tanpa terjerumus kesalahan yang sama adalah membuka usaha sendiri karena bekerja pada organisasi lain, mereka sudah patah arang karena stigma. Kalau mimpi tak kunjung hasil, kata Kezia, banyak yang kembali ke penjara karena hidup tak terlalu susah, makan gratis dan punya atap.

Perempuan adalah perempuan, apa pun statusnya saat ini. Saya dan kamu bisa saja sial, ada di tempat yang salah, bergaul dengan orang yang salah, terjebak kesalahan dan berakhir di balik jeruji, sekali lagi, siapa peduli? Kalau kamu mau perempuan mandiri, jangan pandangi statusnya, kalau kamu memperjuangkan hak perempuan, maukah kau berada di sebelah saya untuk membantu mereka?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s