Bulan Bebersih Hati, Sayang Jejak Digital Tak Semudah Itu Dihapus

Standar
Bulan Bebersih Hati, Sayang Jejak Digital Tak Semudah Itu Dihapus

Politik membuat mulut ini, jari ini, hati ini, begitu panas untuk berkomentar. Maunya kalau tak ditahan, memaki kawan yang hari-hari isi statusnya hanya untuk memprovokasi , tapi diam artinya membiarkan hal yang salah terus berlanjut. Setahun loh, setahun! Saya pikir ujian kesabaran adanya di kemacetan Jakarta yang sekarang sudah sedikit longgar, terima kasih MRT. Tapi ternyata, ujian kesabaran terbesar itu adanya di media sosial. Narasumber yang dulu sempat disalutkan, kemarin menulis di twitter dengan ucapan “Pantat lo!” haish mamak, nilainya terjun bebas di kepala, maaf kawan, saya malu pernah memujamu.

Saya belajar untuk menahan diri tidak berkomentar, tidak ikutan mencela kubu manapun, tapi yang tidak bisa saya tahan jika ada yang bawa-bawa agama untuk membenarkan tindakannya, mengatasnamakan ulama karbitan youtube sebagai yang paling benar. Dan itu banyak! Yaiyalah banyak. Kalau sebatas merasa benar untuk dirinya sendiri, baiklah, tapi kalau sudah memaki orang lain adalah kafir, saya unfollow langsung. Maaf saya pikir kamu manusia, eh ternyata merasa jadi Tuhan.

Setahun ini, berapa banyak fitnah dibuat? Berapa kali mulut memaki? Berapa kali jari membagi berita bohong?

Ramadan tiba, bulannya bebersih hati, bebersih diri, menundukkan kepala dalam-dalam meminta ampunan atas segala kelakuan. Tapi kawan, Google tak semudah Allah menghapus dosa. Jejak digitalmu tertinggal di sana, merekam bagaimana Bahasa kau gunakan, fitnah kau lemparkan. Google merekam siapa kamu sebenarnya. Bahkan ketika kamu menghapuskan postinganmu di media sosial, Google, Facebook, masih menyimpan rekamannya.

Allah itu maha baik, menghapus dosamu, membuatmu kembali fitri di Idul Fitri nanti, insya Allah. Tapi menjadi Jamaah Facebokiyah, Googliyah, tidak semudah itu! Terlanjur sudah kamu dicatat pernah melakukan apa, tendensi melakukan apa dikemudian hari, gaya hidupmu, kemana kamu pergi, pakaian yang kamu pilih, kata-kata yang kamu gunakan. Maka jangan heran, jika hanya makian yang kamu lontarkan, makian pula yang kamu dapat.

Contoh sederhana ya, saya mencari jilbab satu kali saja di Google search, maka sejak dua bulan terakhir, timeline saya penuh dengan iklan jilbab, pakaian syari dan semua terkait jilbab. Saya check in di bandara ngurah rai bali, maka iklan yang muncul mulai tempat dugem, liburan sampai toko bikini di Bali.

Kamu mencari kondom untuk dipakai bersama isteri sahmu di online shop, karena malu beli langsung di apotik atau di warung nyaman macam indomart, selamanya kamu dicatat sebagai orang yang aktif melakukan aktivitas seksual, dokter kandungan, sampai tes HIV gratis mungkin yang berikutnya akan muncul di semua laman digitalmu. Kamu menyukai video kekerasan, teriakan hina dina ustad youtubemu, maka itulah yang tertinggal di jejak digitalmu. Selamat! Kamu boleh panic sekarang.

Kita ini kawan, cuma remah roti di dalam jaringan operasional perusahaan digital yang menambang informasi serinci-rincinya hidup kita sehari-hari, lalu mereka olah, jual ke pengiklan dan dikembalikan lagi ke kita. Semacam berjalan di lorong supermarket, hanya saja kali ini barang yang ditawarkan berdasarkan apa yang pernah kita klik, kita check in, kita lihat, kita pindai, kita beli.

Saya bukan penceramah, saya tidak punya pesan moral yang perlu ditinggalkan untukmu. Saya hanya bisa memberikan gambaran nyata tentang apa yang kamu lakukan, itulah yang akan kamu terima. Seperti Karma, silakan percaya atau tidak. Dunia digital membuat kita harus lebih hati-hati, sangat hati-hati tentang perkataan, perbuatan karena mereka bahkan bisa memprediksi apa yang akan kita lakukan di masa depan.

Allah maha pemaaf, manusia harus mengikutinya, tapi Google dan Media Sosial…. Mau teriak minta dilupakan sama siapa? Pergilah ke Eropa, karena baru mereka yang punya undang-undang untuk minta dilupakan oleh Google, The Right to Be Forgotten, sila pelajari.

Selamat berpuasa!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s