Menulis Mengikis Luka

Standar

Namanya Lukas, tokoh dalam novel kedua saya yang diberi judul Hening. Lukas bikin saya jatuh cinta sampai akhirnya saya putuskan berhenti meneruskan penulisan novel itu. Konyol ya. Tapi begitulah. Tokoh Lukas itu fiksi, tapi sebenarnya ceplokan dari beberapa karakter yang saya kenal selama ini. Kalau kata Mas Q, kawan saya, kita ini bukan Karl May yang otaknya sudah penuh dengan banyak karakter ciptaannya sendiri, sementara kita, harus lihat orang wara-wiri di depan mata, baru bisa mencipta.

Alasan itu memang terbukti. Selama empat tahun saya berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dari Bandung, London, Berau, dan Bali, selama itu pula, Lukas tetap terpendam. Baru di Jakarta 13 hari, Lukas hidup lagi! Di Jakarta sambil menunggu macet mengurai, saya akan duduk di kafe, menyetel musik di telinga dan mulai menulis, apa pun, termasuk Lukas. Kafe di Jakarta riuh, para pengunjung adalah kumpulan karakter-karakter dalam tulisan saya, mereka menginspirasi. Sementara gunung dan laut membuat saya terkesima tanpa bisa bercerita.

Semesta memberikan tanda buat saya meneruskan tulisan itu. Bukan untuk memenuhi permintaan siapa pun, tapi menulis adalah proses mencipta untuk kepentingan sendiri. Beberapa minggu ini saya bertemu kembali dengan sahabat-sahabat lama, yang tiba-tiba kompak untuk bilang, “jangan berhenti menulis Nit!”

Bersamaan dengan kedatangan mereka kembali, saya harus melewati masa-masa sulit. Harus melewati operasi kuret, dan kami (saya dan akang) mempertimbangkan untuk melepas mimpi menimang bayi. Kami punya alasan kuat untuk ini dan tidak perlu mendengarkan masukkan orang lain, ini akan menjadi keputusan kami. Tapi ada yang sakit di dada. Saya seperti sudah kehilangan seorang anak yang belum lagi jadi milik kami. Yang hilang adalah harapan. Sedihnya berhari-hari.

Sampai suatu hari, hari terakhir saya di kosan lama di Bali. Saya terjaga dengan beban yang tiba-tiba terasa ringan, saya tidak lagi sedih, saya pasrah, sepasrah pasrahnya, saya menerima apa pun yang semesta beri, hari ini atau esok. Hari itu mungkin hari paling bahagia buat saya. Lega ketika kita sudah benar benar pasrah. Satu-satu teman lama kemudian datang memberikan kekuatan, memberi inspirasi. Sampai minggu lalu, saya putuskan, saya akan meneruskan Hening. Saya butuh menulis untuk mengikis luka, bukan sekedar melawan lupa. Saya harus menulis untuk mengubah sedih menjadi sebuah karya. Lagi-lagi ini bukan untuk memuaskan pembaca, maaf, ini untuk mengobati saya.

Hari ini adalah hari ketujuh saya kembali meneruskan Hening dan selesai! 108 halaman, 40.916 kata. HORE! Biasanya ada orang di sebelah saya saat bahagia datang, tapi ini sendirian di kafe Anomali Setiabudi One. Akang yang pertama saya beritahu, dia ikutan senang, jempol!!!

Sekarang Hening sudah selesai diuleni sekalis yang saya bisa, sekarang mari diperam biar mengembang. Saya akan masuk proses editing jika sudah waktunya 😊

Aaah rasanya seperti hidup kembali, kembali mencipta.

writing

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s