Negara Tidak Perlu Bayar Hutang. Menilai Kemiskinan Dari Perspektif Sejarah dan Ekonomi Global Bersama Jason Hickle Dalam Buku – The Divide. Review #6

Standar

Apa yang menyebabkan tingkat kemiskinan dunia terus bertambah padahal milyaran dollar dana bantuan sudah disalurkan dari negara-negara kaya kepada negara-negara miskin? Apa  yang membuat kesenjangan antara orang kaya dunia dengan rakyat miskin dunia terus terjadi?

Jawaban paling standar yang biasanya diterima: miskin itu bawaan, hal yang natural terjadi, ada yang miskin dan ada yang kaya. Orang miskin karena tidak mau usaha, kesalahan sendiri, pemalas, siapa suruh banyak anak, dan sebagainya. Perempuan yang akhirnya melacur adalah dosa maha besar, sekalipun dibelakangnya ada kebutuhan untuk bisa bertahan hidup untuk dia dan keluarganya.

Jason Hickle yang berlatar belakang antropolog, anak seorang dokter di sebuah negara afrika, hidup dekat dengan kemiskinan dan orang yang hidup dengan HIV/AIDS yang setiap hari antri di klinik bapaknya untuk sembuh. Seseorang berkata pada bapaknya, Hickle, bahwa dia berjuang di tempat yang salah. Tanpa melakukan pencegahan, sepanjang umurnya akan habis mengobati orang sakit yang hanya akan terus bertambah.

Dari sanalah buku ini disusun Hickle. Kemiskinan itu bukan hal yang alami terjadi, kemiskinan itu disusun sedemikian rupa oleh sistem yang tidak adil. Mari mundur ke sejarah kolonialisme eropa terhadap afrika, asia dan amerika selatan. Para penjajah mengeruk sebesar-besarnya sumber daya alam dari negara-negara ini, menangkapi dan menyandera pribumi untuk kerjapaksa dan dijadikan budak.

Membacanya kesel sendiri, kita sik jadi orang ramah bener sama pendatang, diberi makan, diberi tempat tinggal, diberi emas sebagai buah tangan lalu mereka memotong tangan yang memberikan kebaikan. Kesel karena kalau saja James Watt tidak menemukan mesin uap yang membuat kapal laut berjalan lebih cepat menjajahi negara-negara di luar eropa, barangkali penjajahan tidak terjadi, tidak meninggalkan kemiskinan abadi.

Lalu datang kebangkitan negara-negara korban penjajahan ini dimana-mana, negara-negara eropa meninggalkan mereka, tapi tidak pernah benar-benar pergi. Ketika negara-negara ini membutuhkan modal untuk memulai pembangunan di negaranya, eropa dan amerika datang lagi dengan gula-gula. Mereka yang tidak mau nerima gula-gula seperti Soekarno di Indonesia, Cuba, Colombia, Brasil, sampai Irak, digulingkan dengan cara kekerasan dengan berdalih ‘kiri’ menghadirkan boneka seperti Soeharto yang ramah pada Amerika untuk duduk di pemerintahan dan menjadi dictator 32 tahun selanjutnya.

Gula-gula itu berupa Utang yang hanya akan diberikan jika negara-negara penerimanya mau melakukan Structural Adjustment program (SAP) yang isinya antara lain memotong budget negara untuk layanan public dan privatisasi asset nasional agar kemudian perusahaan-perusahaan asing bisa leluasa menanamkan modal di negara ini. Lalu ada ‘Free Market’ yang mengharuskan negara menjauh dari urusan ekonomi. Pada negosisasi tertutup tentang TTIP dan TTP, bahkan disebutkan perusahaan bisa menuntut pemerintah sebuah negara yang merugikan investasi mereka. Hua hebat ya… kongkalingkong World Bank, IMF dan WTO itu lah sistem yang mengabadikan kemiskinan di negara-negara Afrika, Asia, dan Amerika Selatan. Tiga setan ini pun dikuasai sepenuhnya oleh kepentingan negara kaya, pengusaha-pengusaha multinasional dan politisi-politisi yang hanya ingin melanggengkan kekuasaan dan kekayaannya saja.

Lalu bagaimana mengatasi kemiskinan ini jadinya? Hickle mengajukan lima poin upaya pengentasan kemiskinan dunia dan menutup kesenjangan dan ketidakadilan negara kaya dan miskin.

  1. Debt Resistance

Ga usah bayar utang aja! Toh sejak awal, sebagian utang itu dipaksa untuk diterima negara-negara ini kan? Hickle bilang kalau kita hapuskan hutang, tidak ada yang bakal mati, dunia akan berjalan seperti biasanya. Utang itu tidak perlu dibayar, bahkan emang seharusnya tidak perlu dibayar jika untuk membayarnya harus mengorbankan banyak orang.

Tapi sejarah mengingatkan, mereka yang berani menolak hutang dan menolak membayarnya akan berakhir dengan kudeta yang didukung oleh negara-negara kaya.

  1. Global Democracy

Tiga serangkai IMF, World Bank dan WTO harus direformasi. Lebih transparan terhadap rencana-rencana kebijakannya, tidak lagi lobi-lobi rahasia yang merugikan public. Negara-negara miskin dan berkembang harus duduk setara dalam ketiga organisasi ini. Suara bukan berdasarkan besarnya sumbangan financial, tapi berdasarkan jumlah populasi negaranya. Dan Presiden IMF dipilih secara demokratis dan bukan Cuma datang dari Amerika dan Eropa.

  1. Fair Trade

Perdagangan yang adil bukan sekedar perdagangan bebas. Memberikan kesempatan yang sama bagi negara-negara berkembang untuk aktif melalukan perdagangan sesame mereka dan punya kebijakan sendiri yang tidak diatur oleh Amerika dan Eropa.

Paten itu menjebak terutama dalam ilmu pengetahuan dan dunia pengobatan. Paten menyengsarakan banyak orang. “It is vital that natural substances and public knowledge remain in the public domain, so that people have equal access to bounty of life and the yields of humanity’s collective intelligence.”

  1. Gaji Yang Adil

Hentikan perburuan buruh murah dalam perekonomian dunia. Harus ada standar bersama yang disesuaikan dengan kondisi ekonomi lokal, biaya hidup dan daya beli, supaya tidak terjadi lagi eksploitasi buruh di negara miskin.

Hickle dibagian ini bilang, “kita tidak perlu memilih produk yang diproduksi adil dan tidak adil. Ketika kita membeli sesuatu karena kebutuhan dan untuk menikmati hidup, kita harus bisa yakin bahwa barang yang kita beli itu bukan dari hasil mengeksploitasi manusia lain.”

  1. Reclaiming the common

Pajak adalah sumber pendapatan negara untuk membangun dan mensejahterakan warganya. Jika ada kasus penggelapan pajak dan pelarian pajak ke negara lain, itu merugikan secara keuangan negara. Ini harus dibenahi. Sistem perpajakan dalam perekonomian dunia harus direformasi agar lebih transparan.

Hal lain yang Jason Hickle usulkan dalam buku ini untuk mengentaskan kemiskinan adalah dengan mengubah perspektif pembangunan mengejar pertumbuhan angka GDP – Produk Domestik Produk menjadi GPI – Genuine Progress Indicator, atau indeks kebahagian yang mengukur pembangunan dari hal diluar angka ekonomis seperti: kesukarelawanan, mengurangi polusi, penurunan jumlah kejahatan dan upaya mengurangi kesenjangan sosial.

Karena pada kenyataannya GDP tidak sama dengan kebahagiaan. Makin tinggi angka GDP sebuah negara tidak berbandinglurus dengan tingginya angka GPI. GDP berarti mengubah hutan menjadi perkebunan sawit, pertambangan, mencaplokan lahan untuk industry, menggusur manusia di dalamnya dan melanggengkan kemiskinan. Perubahan iklim mendatangkan bencana, yang tidak pantas disebut sebagai bencana alam, tapi bencana yang disebabkan oleh perilaku manusia.

Buku dengan 303 halaman ini belum ada di toko buku di Indonesia. Saya memesannya secara online di Periplus.com dan makan waktu 20 hari karena barangkali dipesan dari luar negeri juga. Doh. Jejak karbon buku ini saja sudah banyak huhuhu….

Saya tidak serta merta sepakat dengan Hickle, ada beberapa pertanyaan yang sebenarnya ingin diajukan, mungkin liwat twitter resminya. However, menurut saya, usulan dia itu masih terlalu lemah, dan bikin saya pesimistis dengan kelanjutannya. Harusnya dia bisa bilang, seperti juga tentang Hutang, do we really need these three evils of IMF, WOLRD BANK and WTO today and the future? Instead of purposing the reformation of these three, why not just say, NO TO IMF, WORLD BANK and WTO!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s