It’s like Ramadhan for ‘dummies’ – cerita Ramadhan di London

Standar

Makan siang saya disingkirkan Marcio, kawan dari Brasil. ‘Kamu kan ga boleh makan?,’ katanya. Saya sedang haid, boleh liburan puasa… lalu dijawabnya, ‘It’s like Ramadhan for dummies. Jadi kalau lagi haid, kamu ga puasa?’

Marcio yang ada di depan saya waktu puasa hari pertama. Dia khawatir liat saya ga makan dan minum berjam-jam, ‘yakin ga papa?.’ 18 jam 44 menit…. Buat temanteman non-muslim di sini, ini namanya self-torturing, menyiksa diri sendiri.

‘So tell me what is the goal of fasting?,’ kata kawan saya dari Amerika. Saya bilang, salah satunya untuk belajar empati terhadap orang lain yang kesusahan. Lalu dia senyum,’rasanya gue bisa belajar empati tanpa harus menyiksa diri.’ Hihihi, ga mudah dimengerti memang buat mereka yang baru ketemu Muslim, tapi mau tahu minimal tentang apa yang saya lakukan.

Pas jam 5 sore … ‘ you look dead!’

Tempat nongkrong saya tentu saja perpustakaan, dan bulan ini hampir semua kawan kembali ke sini buat nyelesaian disertasi, eh baru mulai sih. Ada mereka di sekeliling saya bikin 18jam beneran ga berasa, eh boong ding, berasa di empat jam terakhir deh. Lalu mereka akan makin sibuk bertanya tentang Islam tentang puasa.

‘Please eat something, I don’t want to see you fainted in front of me.’
Tentu saja ga pingsan, sebenarnya puasa itu berat di tiga hari pertama, hari keempat dan seterusnya serasa ringan karena mulai terbiasa.

Mereka minta maaf kalau mau makan dan minum di depan saya. Saya bilang,’no need to say sorry. Been doing this for 30 years, makanan dan minuman ga akan bikin saya ngiler. Liat cowo lucu baru tuh, susah untuk ga ngelirik.’

‘Jadi apa aja yang ga boleh dilakukan?’
‘No drink, no meals, no sex.’
‘what no sex? Im not going to fast ever!’
*ngikik

Belum lagi saya bilang, emosi harus dijaga, ga boleh marah karena bisa ngurangin nilai puasa. Lalu jadilah bulan-bulanan dipancing emosi, untuk sabar *halah…

‘Joao, no drink for me this month, okay?’ kata saya kepada sahabat yang suka banget nyulik ke pub selesai kami belajar.
‘Paul, im so sorry, won’t be able to have your coffee. Im fasting.’

Lalu tetiba mereka bilang, ‘we lost your fun side, you r so dull for a month.’ Hahahaha tentu saja mereka becanda lah. Mereka menghormati saya dan keputusan buat puasa yang bahkan sebagian kawan muslim di sini ga melakukannya, this 18 fucking hardest hours…

Majd dari Maroko bilang dia ga pernah sahur, minum sampe kembung dari buka puasa sampai menjelang subuh. Beuh itu mah bikin males, ntar pipis melulu.

Begitu waktunya buka puasa, mereka ikut sibuk karena sebagian sengaja nahan makan malamnya supaya bisa ikutan makan bareng saya. Mengharukan sekaliiii…. Andrew, sahabat dari Malaysia malah mengajukan diri buat beliin saya makanan, duduk yang manis aja nita, kamu mau apa? saya yang beli, katanya. Soalnya di Malaysia dia sudah biasa menyiapkan buka puasa buat tementemen muslimnya.

Karena mereka tahu saya puasa, begitu tiba waktunya mens, saya seperti kudu kasih pengumuman ulang. Hoi saya mens, boleh liburan puasanya. Jangan heran kalau saya makan dan minum lagi yaaa…

‘Horee, I miss having lunch with you…’ sorak Amanda, kawan dari Amerika… jiaaaah….

Mereka gat ahu islam itu kayak apa, jadi ga ada yang dummy soal Islam. Ga tahu bukan berarti bodoh kan. Saya tidak menjelaskan panjang lebar, saya cuma kebagian menjelaskan secara fisik bahwa puasa sebenarnya membuat saya lebih merasa sehat dan hemat. Punya alasan kuat buat menolak datang ke party atau ke pub 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s