Pada Suatu Masa di Indonesia

Standar

Negeri ini penuh amarah pada penis yang serakah dan jahat, pada setan komunis yang tak juntrung rupa pada laut yang ditimbun menjadi daratan, pada … masa…

Kita seperti lupa piknik… lupa untuk menenangkan isi kepala untuk menyimak jernih, tidak berisik lalu berkata… tugas lu lah, situkan kepala negara, situ kan pemimpin bangsa, situkan… situ warga, apa cuma warga yang berhak murka?

Pada suatu masa di mana semua orang bicara tanpa mendengar, lupa pada si korban, pada perempuan yang harus berulangkali memutar kenangan yang sebenarnya sangat ingin dilupa. Lupa bahwa keadilan tak bisa diukur dengan kematian atau kebiri. Penonton emang selalu lebih galak dari pemeran utama, seperti pengamat merasa lebih pintar dari pemain bola. Juga lupa bahwa palu pengadilan tak bisa jadi akhir cerita melulu…

Saiah juga sedang marah, tapi sambil mendengar demo music dari kesatria penguasa nada yang bersenyembunyi di perpustakaan, bikin adem rasanya… you are the sun to me… katanya… entahlah buat siapa…

Ketika bicara hak asasi manusia, semua merasa benar… yang pro hukuman mati dan kebiri, merasa paling benar mewakili korban dan keluarga, yang kontra hukuman mati dan kebiri, merasa pelaku masih perlu dibela haknya sebagai manusia.

Saiah di mana?

Dalam kriminologi ada mata kuliah sistem pemasyarakatan 3 SKS tahun 199 something, sampe lupa semester berapa itu. Dalam sejarah penjeraan, tidak ada satu pun hukum di dunia ini yang benar-benar berhasil menjerakan pelaku dan calon pelaku – baca masyarakat umum. Betul, di kebiri satu, tumbuh seribu, lah wong penis lahir bersama anak lelaki…. Jadi menurut saya percuma dikebiri – walaupun saya sempat emosi untuk setuju hukuman ini – tapi setelah dipikir ulang berkali-kali sambil mendengarkan lagu cinta, ini hukuman ga masuk akal…

Saya belum baca perpu itu, makanya ga mau galak seperti yang lain… tapi kalau pelakunya adalah anak di bawah 18, apa iya hukuman mati juga yang diberlakukan? Atau kebiri? Buat saya, mereka masih punya hak untuk melanjutkan hidup, memperbaiki kesalahan. Entahlah, hukuman mati untuk kejahatan manapun rasanya tidak pas..

Suara kita selama ini rasanya sudah benar ketika merasa perlu dibenahi budaya kekerasan terhadap perempuan melalui pendidikan, di sekolah, di rumah, lewat pendidikan formal maupun non formal, termasuk pendidikan agama. Kenapa sekarang suara itu terpecah antara hukuman mati dan kebiri, dan yang menolak?

Lagilagi saya tidak percaya ada orang yang 24 jam jadi penjahat melulu… selama jantungnya berdenyut, dia masih punya rasa.  Tak lagi percayakah kita pada cinta? Ini serius, saya tak lagi becanda.

Murka tentu saja sah, tapi tidak lantas ketok palu menyiakan hukuman mati. Ini tergesa-gesa ingin memuaskan sebagian amarah, tapi liat paragraph sebelumnya, kita lupa…. Korban apa kabar? Apa iya kita sudah menyuarakan hati mereka?

Padahal saya sendiri masih marah soal kiri yang dimusuhi, tapi saya sadar ini cuma permainan isu.. satu belum selesai, yang lain muncul lagi, lalu sekarang kebiri… isunya tumpang tindih…

Pada masa di Indonesia, ketika semua orang mudah lupa secepat dia murka…

Sudah ya.. saya kembali ke lagu cinta saja….

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s