Tentang Sosial Media dan Sebuah Gerakan Sosial

Standar

Twitter revolution di Mesir 2011, Occupy 2011-2012, Iran 2009, atau di pemilhan presiden Indonesia 2014… bukti bahwa sosial media bisa digunakan untuk melakukan gerakan sosial, perubahan sosial. Itu berguna loh. Betul. Siapa yang menyangkal. Tapi segala sesuatunya ga bisa dilihat satu sisi… mari bicara digital media dalam pigura yang lebih besar yuk.

Apakah suara yang kita lempar di sosial media mewakili suara seluruh warga? Siapa yang punya akses ke sosial media?

Dari 1998 yang cuma 500 ribu pengguna internet di Indonesia, tahun 2011 tercatat oleh MarkPlus ada 55 juta orang. Emarketer memperkirakan 2018, pengguna smartphone di Indonesia bisa mencapai 100 juta orang – asumsi saja pengguna smartphone terkoneksi langsung dengan sosial media, terlepas mereka aktif atau tidak. Tapi pengguna internet di Indonesia masih terkonsentrasi di kota besar, paling banyak masih di pulau Jawa. Lalu apakah itu bisa disebut mewakili Indonesia? Siapakah yang gunakan sosial media? dari sosial media yang cenderungnya digunakan untuk kepentingan narsisme, berapa di antaranya yang kemudian aktif menyuarkan isu politik? Makin kecil lagi…

Selain soal akses internet yang belum merata, beberapa isu seputar sosial media sebagai kuncian perubahan sosial:

  1. Echo chamber: artinya berisik di antara temen sendiri. Akui saja kita lebih senang berteman dengan orang yang sepaham. Contoh sederhana, berapa banyak kawan yang kalian unfriend karena pandangannya jauh berbeda dengan kalian? Terutama saat ‘perang’ pendukung Prabowo vs Jokowi. Ketika kita share berita atau menulis status, yang membaca ya teman yang sepahaman. Ketika mengundang orang untuk kumpul bertemu di lapangan, ya lagi-lagi teman sendiri yang datang. Ini kayak istilah 4L – lu lagi lu lagi.
  2. Johnson and Kaye dikutip oleh Van Alest, P dan Walgrave. 2004: 97, bilang yang aktif berpartisipasi lewat sosial media ya Cuma mereka yang sudah jadi ‘Political Junkies.’ Yang memang sudah aktif berpolitik baik online maupun offline.
  3. Surveillance . Snowden sejak 2013 sudah mewanti-wanti begitu kita terjun di dunia internet, kita sebenarnya menyerahkan ‘privacy’ hal pribadi kita pada metadata. GAFA – Google, Amazon, Facebook, Apple – yang menguasai applikasi memanen data kita kata Van Dijk untuk kepentingan (1) business, ketika jumah user aplikasi dijual kepada pengiklan, (2) negara untuk kepentingan kabarnya keamanan.
  4. Free labour. Istilah yang dikenalkan Tiziana Terranova 2004 ini mengacu pada posisi pengguna sosial media sebagai produsen sekaligus konsumen. Kita menulis lalu menyebarkannya lagi. Contohnya bikin meme AADC deh, bikin lalu posting lalu viral, secara tidak langsung mengiklan film itu, padahal baik Miles ga peduli soal karyamu itu.
  5. News Snacking. Ini kecenderungan kita, Cuma baca headline berita lalu menyebarkannya. Media sekarang itu emang bikin judul semenarik mungkin buat mata yang kadang ga nyambung sama isinya, blas.

Segitu dulu, sila yang mau menambahkan.

Sementara Manuel Castell 2011 bilang, kalau kita mau bikin sebuah perubahan tentu ga cukup dengan metwit, bikin kultwit atau posting banyak-banyak di facebook yang Cuma dibaca oleh teman yang sebenarnya sudah sepaham bahkan lebih pintar darimu, uhuk. Untuk membuat sebuah gerakan, pastikan informasinya dipahami, well-informed. Lah gimana well-informed kalau lima hal di atas terjadi.

Micah White co-founder Occupy pernah nulis di Guardian, betapa sedihnya dia ketika Occupy terjadi cuma rame di media tapi sebenarnya yang terjadi status quo. Ga ada perubahan riil terjadi. maka ketika Panama Papers muncul, dia gelisah, jangan-jangan perubahan Cuma terjadi di Islandia saja. Apakabar di Indonesia? Nama Luhut Panjaitan, Sandiaga Uno yang muncul di sana, masih bebas bergerak dan maju terus di pilkada DKI. Mungkin karena kita memang gampang lupa.

Gerakan sosial ga cukup dengan jempolmu di hape kawan. Perjuangan di lapangan perlu seimbang. Sosial media membuat pergerakan di lapangan terjadi tanpa struktur yang jelas, semua berlangsung tanpa ‘komando’. Saya hadir sukarela dengan kawan ketika panggung besar di Senayan, begitu juga ribuan kawan. Tapi begitu Jokowi jadi presiden, yang katanya relawan saling tinju, saling iri satu sama lain. Aha!  Kalau relawan kepada pada berebut jabatan? Jangan naif, there is no such as free lunch.

Gerakan sosial baru bisa dikatakan berhasil kalau bisa membuat perubahan, sekecil apapun. Nah gerakan sosial kalau kata dosen saya, Natalie Fenton, butuh tiga hal

  1. Momentum – ciptakan atau tunggu kejutan. Kawan IPT 1965 mendapatkan momentumnya ketika Jokowi berkunjung ke London dan Pak Dubes menunjuk Mba Soe Tjen sebagai penanya.
  2. Sorotan Media – sosial media masuk di kolom ini bersama dengan media konvensional macam televisi, koran, dan radio.
  3. Power – perlu tah persis dimana kekuatan itu berada dan berasal. Jangan sampai energy terbuang percuma karena salah sasaran.

Bersiarlah di sosial media bersama dengan lobi di ruang-ruang tempat mereka berkuasa, kampanye di ruang publik yang kamu bertemu muka, bermainlah dengan media yang bisa menempatkanmu di halaman muka, di tajuk utama. Gerakan sosial itu bisa berhasil kalau semua cara digunakan dengan jitu, bukan sekedar urusan jempol di hape.

social_media_landscape

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s