Monthly Archives: Oktober 2015

Jadi Selama Ini Kita “Work” atau “Labor”?

Standar

“Labor is the activity which correspondents to the biological process of the human body, whose spontaneous growth, metabolism and eventually decay are bond to the vital necessities produce and fed in to the life process by labor. The human condition of labor is life itself.

Work is the activity which correspondent to the unnaturalness of human existence, which is not imbedded in, and whose mortality is not compensated by, the species’ ever re-curing life cycle. Work provides and an “artificial” world of things, distinctly different from all natural surroundings. Within its borders each individual life is housed, while the world itself is meant outlast and transcend them all. The human condition of work is worldliness.” – The Human Condition, Hanna Arendt

 

Dua paragraph itu dibahas dalam satu jam kelas Critical Reading Skill Course dengan penuh perdebatan. Maksudnya si Arendt ini apa sih? Dua paragraph itu bikin saya ga bisa tidur tenang minggu malam Senin untuk mengerjakan peer dari dosen,”jadi apa perbedaan Labor dan Work?”

Ketika ditanya orang tentang pekerjaan, kita pasti akan menjawab “I work as, I work at” almost no one will say “I am laboring at”

Labor ini adalah aktivitas yang berkaitan sama kebutuhan biologis manusia, makan, minum, buang air. Dalam kontek pekerjaan, jika kamu dibayar dengan uang yang kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup, that’s laboring. Segala sesuatu yang dikerjakan by “order” dan menghasilkan uang, that’s laboring. Kata kuncinya dalam paragraph di atas ada pada “biological process,” kalau dalam tulisan penuhnya akan ditemujkan kata survival, existence.”

Sedangkan Work adalah aktivitas yang kamu lakukan dan menghasilkan sebuah “penciptaan,” “kreasi” yang dilempar ke “dunia” dan bertahan melampui usiamu, artinya seumur hidup, juga mengubah dunia. Contohnya, sebuah karya foto yang mengguncang dunia, film yang menginspirasi, buku yang dibaca banyak orang, atau seorang arsitek yang meninggalkan maha karya. Seniman dan arsitek dalam hal ini bisa saja melakukan keduanya, Work and Labor. Mahakaryanya kemudian menghasilkan uang.

Kalau gitu Van Gogh is working, while politician is Labor itself… we paid them to run and then they ruin the country… oh shit!

Ngebingungin kan? Iya betul… rasanya kok kayak ditampol. Selama ini bekerja atau berkarya? Laboring or working?

Kawan saya jurnalis dari Brasil langsung merasa kalau seumur hidupnya adalah pekerja/buruh, dia menulis untuk menerima bayaran. Lalu saya bilang, kalau tulisanmu kemudian mengubah orang lain, that’s work! dan menurut saya, blogging adalah salah satu kita “WORK” berkarya, yang akan langgeng bahkan ketika kita mati dan berharap kalau tulisan di dalamnya bisa menginspirasi orang lain.

labor

Kelas hari ini ditutup dengan kutipan masih dari Hannah Arendt

“Plurality is the condition of human action because we are all the same, that is, human, in such a way that nobody is ever the same as anyone else who ever lived, lives, or will live.”

(terjemahan bebas : pluralitas itu adalah kondisi dimana kita ini semua sama, manusia, yang setiap di antara kita itu beda menjalani hidup, sebagaimana mereka yang pernah hidup atau yang bakal hidup)

Iya betul, karena tiap orang berbeda dalam menjalani hidupnya, jadi kenapa harus memaksakan sesuatu yang lahiriah adalah berbeda.

I love the class that bring a deep contemplation… thank you bu dosen.

 

 

Ketika Rentetan Judul Bacaan Menghajar Harimu. #mycheveningjourney

Standar

Masa senang-senang di minggu pertama sudah selesai. Masa dimana semua orang bilang,”have fun, make friends and start your journey,” dan masa itu ga ada yang akan bilang “study hard ya” yang ada… enjoy your time while you can. Maka datanglah masa dimana waktu 24 jam ga cukup buat membaca sejumlah judul bab yang harus dipelajari sebelum masuk kuliah minggu depan. Jreng jreng…

Membaca itu penting banget, kecuali mau keliatan dungu di kelas dan bikin kesel anggota tim karena diskusi ga nyambung atau malah ga aktif. Membaca juga jadi penting karena pas sesi “lecture” para dosen itu cuma kasih slide singkat aja. Dua kuliah yang gue ikutin, dosennya punya gaya berbeda. Yang satu seneng main grafik di presentasinya, ngomongnya teratur tapi demennya nyumput di belakang infocus, padahal ada teknologi namanya remote control kan ya hehehe, mungkin dia pemalu. Tapi sungguh kuliahnya menarik sekali.

Dosen yang kedua, nyentrik abis, dengan jas dan topinya yang dua kali pertemuan berbeda. Barangkali dia punya 52 pasang. Slidenya hanya berupa gambar, lalu dia akan bercerita sambil jalan menguasai panggung dan audience. Masalah terbesar gue adalah, dia pakai aksen beda dan belum terbiasa gue mendengarnya. Mungkin minggu depan baru bisa ngikutin bicaranya hehehe

Di sini setiap mata kuliah itu akan ada dua kali pertemuan saban minggunya, satu “lecture” kuliah kelas, satu lagi seminar atau workshop, diskusi berkelompok, role play, supaya lebih hidup. Nah di seminar ini deh, kita bisa bebas bertanya atau malah ditanya, mengeluarkan pendapat, kalau ga ada bekal bacaan, diskusi kayak sama sapi… ga nyambung lah. Ini yang bikin berdebar.

Perminggu dosen kasih bahan bacaan itu ga cuma satu chapter (let say 50 halaman) tapi tiga, malah ada yang sebelas. Padahal kemampuan tiap orang membaca itu berbeda kan ya, ada yang cepet nangkep ada yang lambat, gue mungkin yang kedua, karena ada faktor bahasa juga. Jadilah saban membaca ya ditulis ulang, biar nyangkut. Cara lainnya, baca introduction, minimal tau ini buku mau dibawa kemana sih, abis itu baca bab yang kirakira relevan sama topik minggu ini.

Biar kata gue udah nemu sendiri tipsnya, tetep ajaaaa… ini 24 jam dikurangi tidur berasa ga cukup…. masih perlu adaptasi cara paling ampuh buat membaca. Marilah kembali ke buku dan stabilo, harus segera kembali ke bahan bacaan neh, belum lagi memantau berita politik Inggris… watttaaawww… Bismillah… bisalah! ya harus bisalah…

reading list