“No Pain No Gain” – 3 Jam Berdiri Demi Benedict Cumberbatch #mycheveningjourney

Standar

Semalam itu sedang buang hajat kecil ketika Puji teman saya yang kuliah di SOAS (School of Oriental and African Studies) tetiba tanya apakah saya mau ikut ke Barbican Teater untuk menunggu Benedict keluar dari Teater Stage Door dan minta tandatangan, sukur-sukur bisa selfie dengannya. Tanpa pakai mikir saya bilang “IYAAAA, YUUKK,” padahal sebelumnya menolak ajakan Ben untuk makan bareng usai pemutaran film karena pasti akan pulang malam. Rumah saya jauh di tenggara kota London. Tapi untuk Benedict Cumberbatch seems distance doesn’t matter at all.

Pagi sebelum keluar kamar itu emang udah niat bawa buku biografi Benedict dan tiket Hamlet yang saya tonton minggu lalu, niatnya mumpung ada di tengah kota pengen sekalian nangkringin state door sekali lagi. Rasanya bakal mati penasaran kalau sampai pulang ke Jakarta ga dapat tandatangan dan ngeliat langsung lelaki yang bikin akang cemburu berat ini.

Tas saya hari itu penuh dengan makanan… terlihat seperti kebetulan, tapi semesta itu emang suka bekerja di luar nalar. Makanan itu jadi bekal kami berdiri di tengah dingin kota London dari jam 8 malam sampai sebelas malam.

Karena kami tiba jam delapan kurang dikit, kami bisa dapat di baris paling depan yang dibatasi pagar besi bersama dengan belasan penggemar Benedict lainnya. Sebagai informasi yaaa, penggemar Benedict itu perempuan perempuan dewasa gitu.. *tunjuk diri sendiri, kibas poni” ga ada abege berisik. Sebagian besar sudah dua tiga sampai lima kali ada di sana, bahkan ada anak Indonesia yang tinggal di Singapora menyempatkan datang ke London Agustus lalu untuk dua minggu berturut-turut menanti Benedict. Saya, untuk kedua kalinya. Saya ga pasang target besar, tandatangan di buku catatan essay dan kamera yang dipasang selfie. Kamera butut, bawaannya foto gelap terus. Ga papa deh asal Benedictnya keliatan.IMG_20151022_215517

Berdiri 3 jam di tengah dingin itu rasanya… di jam 10 malam, menguap kita kakak.. tapi harus sabar sabar… posisi saya berdiri ini udah pasti jadi rebutan semua orang yang ada di sana. Makin lama makin penuh. Satu persatu mendesak kami makin ke depan. Lalu salah seorang perempuan yang bertugas sebagai keamanan mengingatkan kami,”nanti kalau benedict keluar coba ya teriaknya dalam hati aja… aaaahhh gitu, tapi ga pakai suara. Kalau berisik Benedict ga mau keluar loh.”

Lalu semua menyamakan suara…. Sssshhhhhh……

Setengah sebelas malam… pemain Hamlet satu persatu keluar, saya menyodorkan buku dan mendapat tandatangan empat orang di antara mereka.

IMG_20151023_003519Hati saya makin degdegan, mulut meralap kalimat yang mau disampaikan kalau Benedict sampai di depan saya! “Thank you for helping me with English. Don’t stop producing audio book.”

“HELLOOO…” Kata Benedict begitu keluar pintu yang disambut dengan teriakan… aaaahhh…. Lalu shhhhh…. Ssshhhh….

Kilatan kamera foto dimana-mana, setiap orang cuma kebagian dua detik untuk bisa dekat dengannya saat dia kasih tandatangan. Puji teriak,”I flew from Indonesia, can I have a selfie with you?” yes kata Benedict… tapi kamera fotonya tetiba ngambek dan foto batal padahal dua kali Benedict kasih kesempatan.

IMG_20151022_225635

Tiba giliran saya…. saya bengong, beruntung ga mendadak pingsan atau menangis.. sayang bengong sampai lupa kalau bukunya belum ditandatangan…. Begitu ingat, saya sibuk berteriak, “please dooong…” yoi, pake doong…. Dan semua susunan kalimat itu menghilang… hilang….

Melihatnya sudah cukup… cukup… membuat saya jatuh cinta lebih dalam hahaha… duh Tuhan, terima kasih sudah menciptkan makhluk di depan saya ini… dia manusia, lelaki beneran nyata.. bukan lagi di depan layar laptop, televisi dan layar bioskop!

IMG_20151022_225647

Di luar itu semua, saya puas! Puas mewujudkan mimpi yang dibawa sejak 2012, berjumpa langsung dengan Benedict Cumberbatch, dan dapat tandatangannya. Meski kalau bisa meminta lebih, bolehlah suatu hari nanti kami minum kopi bareng.

Kata dessy savina,”ngelunjak lu”

Sekali lagi, saya percaya ga ada mimpi yang terlalu tinggi untuk jadi terbukti… hari ini mungkin tidak, tapi besok, cuma Tuhan punya rencana kan. Nicholas Saputra juga Cuma mimpi bertahun tahun sampai 2007 saya mewawancarainya dengan pertanyaan bodoh, lalu tahun berikutnya kami sudah minum kopi the poci bareng. Lalu dia selalu inget,”kita tuh pernah ketemu sebelumnya kaaan?” gue selalu bilang…”kagaaa” hahaha malu karena dulu pertanyaan bodoh yang muncul.

Skenario suatu saat saya dan Benedict mungkin akan sama… lalu saya akan cerita,”iya saya menunggu kamu berdiri kedinginan selama tiga jam dan sudah nyusun kata-kata lalu cuma bisa bengong begitu kamu di depan mata.” Jreng!

IMG_20151022_230154

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s