Melindungi Sumbermu Sampai Mati – Catatan Kuliah Media Law and Ethic week 4

Standar

Butuh empat minggu sampai ketemu koneksi sama bapak professor yang nyentrik ini. Setengah mati tiga minggu sebelumnya untuk tidak tertidur saat kuliah umum dan berusaha nyambung di kelas seminar. Saking semangatnya, semua bahan dia masukin ke dalam folder mata kuliah yang bisa kami akses, tapi tanpa martikulasi yang jelas, minggu ini mau membahas apa sih. Sampai minggu keempat ini, saya ngeklik dengan tema bahasannya, tentang melindungi sumber berita, how to protect your source.

Kuliah umum kemarin dia buka dengan cerita saat masih bertugas di lapangan, 30 tahun dia jadi jurnalis radio bersama BBC dan sebagian besar bertugas sebagai jurnalis criminal, nongkrong di pengadilan kalau tidak siaran di studio. Suatu hari datanglah perempuan, istri dari salah satu terdakwa pembunuhan yang masih menjalani persidangan dan dengan nada sedih perempuan ini bilang,”apa kamu tahu dampak siaranmu tentang suami saya terhadap anak-anak kami?” kata si professor, sejak itu dia kayak ditimpuk, saat itu dia tahu bahwa sebagai jurnalis, broadcaster, kita harus peka sama dampak dari setiap ucapan dan berita yang kita sampaikan.

Kuliah seminar hari ini dibuka dengan pertanyaan saya,”apa jawaban anda ketika perempuan itu datang?” panjang lebar dia bercerita, dan berkali-kali dia minta maaf jika menyakiti perasaan anak-anaknya. Bagaimana pun yang “jahat” adalah si bapak, tapi anak-anak ikut menderita, dijauhi secara sosial.

Sekali lagi dia berpesan, you should realy really careful on what you are saying, think about others, respect other, not only your listener but the community.”

Pertanyaan saya berikutnya,”it would be hard to do when you are live broadcasting or live report.” Dia mengakui itu, tapi itulah fungsinya produser di ruang siaran untuk menjaga agar ucapan tetap teratur dan tidak menyinggung atau berdampak negative pada pendengar.

Tiba ketika dia bercerita tentang wawancaranya dengan salah seorang narasumber yang tidak ingin disebut namanya. Saya kembali bertanya,”bagaimana kalau ada orang yang tahu siapa dia dari suaranya? Lalu dituntut, dan bagaimana kekuatan “off the record” untuk melindungi narasumber?”

Jawaban dia panjang sekali, tapi singkatnya begini

  1. Ketika wawancara terjadi, pastikan narasumbermu tahu bahwa ada alat rekaman yang dipakai. Minta izin boleh tidaknya merekam percakapan, kalau tidak boleh, respect!
  2. Lalu tawarkan, apakah dia bersedia disebut sebagai narasumber, atau ini akan jadi “off the record”
  3. Kalau ini adalah “off the record” keep all the information to yourself, not even your boss should know it! jaga rahasianya beyond the grave! Ga ada kompromi soal ini, ingat!
  4. Apa yang menjadi informasi “off the record” tadi Cuma jadi referensi untukmu mencari sumber lain.

Menjaga hubungan dengan narasumber yang tidak mau disebut namanya itu penting sekali karena ini soal kepercayaan. Professor nyentrik ini bilang,”what most important about being a journalist is the thing that you don’t tell or publish.” Ini soal hubunganmu dengan masyarakat sekitar dan terutama narasumbermu.

Pernah lebih dari 10 tahun jadi jurnalis, ini hal yang sebenarnya sudah dihapal di luar kepala. Tapi namanya di luar kepala justru lebih sering lupa, ga Cuma saya, tapi juga jurnalis lain di Indonesia. Bener kaan? Kadang sudah cuek sama narasumber begitu berita sudah naik…

Empat pertanyaan dari saya cukup membuatnya bicara selama satu jam, padahal kami Cuma punya satu setengah jam buat seminar yang biasanya dipakai buat praktek jadi pengacara, penuntut dan hakim. Saya sampai minta izin pada kawan-kawan sekelas untuk mengajukan dua pertanyaan terakhir, baru kali ini semangat membuncah. Tetiba merasa jadi anak baru yang lagi ngebet banget pengen liputan J

journalism

2 responses »

  1. wah iya ya benar juga kadang tidak menjaga hubungan baik dg narasumber serti berkomunikasi menanyakan kabarnya. dan memang benar seorang narasumber harrus dijaga privasinya. terimkasiih buat artikel dan inforrmasi didalamnya, jadi tau apa aja yg harrus dilakukan ketika meliput dan memperlakukan narasumber.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s