To Be Or Not To Be… To Sleep, To Dream or To Die… Mari Bermimpi Sekali Lagi Tentang Perjumpaan Kita, Ben!

Standar

“Hampir 85% penontonnya adalah perempuan, dan 90% di antaranya ga pernah kenal siapa Shakespeare si pengarangnya.” Begitu kata seorang kawan.

Begitu juga dengan Sherlock Holmes, yang justru menjadi besar dan mendunia ketika secara radikal diterjemahkan dalam kekinian dan dimainkan dengan sangat baik oleh Benedict Cumberbatch. Maka sudah paling benar untuk mengangkat lagi cerita klasik Hamlet dengan menjadikan Benedict Cumberbatch sebagai pemeran utamanya.

Tiket Hamlet sudah habis terjual sejak tahun lalu. Kalau saya berhasil menonton malam ini, itu karena keberuntungan bisa dapat tiket yang dibalikan ke Barbican teater. Butuh dua hari x tiga jam buat nongkrongin website resmi mereka untuk sebuah keajaiban tiket yang kembali, dengan harga yang tidak juga murah 65 poundsterling. Satu lagi mimpi yang jadi kenyataan karena sudah memantau Hamlet sejak tahun lalu dan ternyata bisa sampai di R31 stall, artinya di lokasi yang langsung menghadap panggung.

IMG_20151015_174825

Di ruang tunggu duduk remaja perempuan dengan dandanan yang sekenanya, jeans robek, kaos oblong dan tindik di bibir. Dia sudah dua kali nonton Hamlet, bukan sekedar suka pada ceritanya, tapi yang pasti mengejar tandatangan Benedict. Dia kasih foto-foto usahanya dia ngejar Ben, she is a hardliner cumberbabe. Dia dari Israel dan di London for long vacation… pasti bapaknya kaya hahaha… dan di dalam teater, barisan depan saya ada 8 pasangan dan mereka baru minggu lalu nonton Sherlock Holmes! Berbisiklah “He is awesome! We definitely will love this show!”

Penonton Hamlet akhirnya didominasi anak muda yang karena kekagumannya pada Benedict, mereka rela bayar tiket yang lumayan mahal untuk kenal Hamlet. Sepanjang acara, mereka menyimak penampilan dengan tenang, sesekali tertawa karena dialognya memang lucu. Ikut kaget ketika music menghentak. Terus terang bahasa yang digunakan dalam dialog sebagian besar asing buat saya karena memakai kosa kata Inggris lama, persis seperti Shakespeare tulis. Tapi secara keseluruhan saya mengerti isi ceritanya.

Tidak perlu panjang lebar menceritakan bagaimana saya sungguh terpesona, melongo, duh gusti orang ini memang keren banget, personal, tampilan. Saya pecinta teater, pernah bermimpi kembali ke dunia teater meski akhirnya Cuma bisa jadi penikmat. Malam ini 65 poundsterling saya sangat layak untuk membayar penampilan seluruh pemain di atas panggung beserta tata cahaya dan seting pertunjukkan, sempurna!

IMG_20151015_210726Yang membuat saya bertanya sepanjang pertunjukan adalah bagaimana kekasih hati saya, Benedict, ini bisa menjaga staminanya? Dia tampil setiap hari, sejak 5 Agustus – 31 Oktober dan tiga jam pertunjukan. Di akhir pekan, pertunjukan malah dua kali, jam 1 siang dan 7 malam. Di atas panggung, mereka berbicara tanpa bantuan mikrophon, bayangkan bagaimana suara mereka harus lantang, kencang dan bulat. Ketika marah, mereka harus membentak, berteriak, selama 3 jam setiap malam. Berlari dari kiri ke kanan, turun naik tangga, melompat, terjungkal… luar biasa!

Kostum yang digunakan tidak lebay mengikuti zaman 1500an saat Shakespeare menuliskannya. Benedict dan para pemain lainnya menggunakan kaos dan celana khaki, sepatu kets, sepertinya adidas J saat Hamlet menjadi “gila” barulah keluar kostum seperti penjaga kerajaan, atau saat ibu ratu Gertrude menikah dengan paman Claudius, sebulan setelah Raja Hamlet meninggal. Beberapa pemain yang menjadi petugas keamanan kerajaan di atas panggung juga bekerja rangkap membereskan property saat ganti adegan. Semuanya berlangsung cepat dan dibawa suasana langsung di atas panggung.

Why Shakespeare always wrote something in tragic? Why the main character has to die on his stories?

Saya tidak akan menjawab pertanyaan di atas karena ga cukup waktu buat riset dan terlalu serius. Cukup menjadi penikmat teater dan Benedict saja. Melihatnya di atas panggung malam ini, masih berasa seperti mimpi. Saya masih senyum sendiri di jam nyaris 1 pagi. Saya seperti melihat langsung Sherlock Holmes, the way he talk, move, angry… itu mirip banget dengan karakter yang dia mainkan di Sherlock. Semoga dia tak terjebak di karakter yang sama seperti kebanyakan artis di Indonesia.

Don’t push your luck too much, I supposed that phrase works for me! I was lucky enough to get the ticket but not his autograph. Dari banyak malam yang dia sempatkan keluar untuk memberikan tandatangan, tapi tidak malam ini. Padahal sudah siap untuk bilang, “thank you for your help me with my English test. Now I am here with the scholarship. And please don’t stop reading the audiobook. It helps me, surely will help others too with your English.”

Mungkin suatu hari nanti bisa punya kesempatan untuk menyampaikan kalimat itu langsung kepadanya. Suatu saat…

_85042334_hamlet3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s