Minggu Ketiga, Berbagi Cerita

Standar

Harusnya saya belajar malam ini karena besok ada kelas seminar. Tapi pertemuan dengan kawan-kawan dari kelompok Chevening di kampus tidak bisa dilewati. Selalu ada cerita yang layak saya tulis untuk dibagi dan merekam ingatan.

Tetiba di meja yang dipenuhi kawan dari Bosnia, Serbia, Argentina, Cuba, Vietnam, Malaysia, Indonesia (saya), Iran, Syiria dan Palestina bertebaran cerita perang. Kawan dari Bosnia bercerita bagaimana Yugoslavia terpecah menjadi Bosnia, Kroasia dan Serbia meski mereka berasal dari budaya yang sama. Kawan Bosnia saya bahagia sekali ketika tahu ada anak Serbia dalam kelompok kami, tetiba mereka mojok berdua dan asik bercerita dalam bahasa mereka. Itu minggu lalu. Malam ini giliran pelajaran sejarah yang mereka berikan pada kami.

Dari Argentina, kawan kami sibuk latihan sepakbola. Tadinya mau cari kegiatan mengisi waktu luang aja, tapi keterusan dan harus latihan tiga kali seminggu. Besok akan mewakili kampus dalam sebuah pertandingan sepakbola. Seru abis.

Di Iran, teman kami yang jurnalis ini selalu dibayang bayangi kematian. Dia bilang, suatu saat mungkin dia akan mati ditangan pemerintah. Kami bilang, kalau nyawamu terancam, pergilah ke Indonesia, Malaysia, Argentina, Cuba… dia punya teman di seluruh dunia. Dari dia saya baru tahu kalau sedang musim panas di Teheran, suhunya bisa sampai 40 derajat celcius dan musim dingin bisa mencapai minus 12 derajat.

Ada yang tahu negara Belize? Saya dan kawan dari Iran langsung ngecek di google map. Saya kira Belize ada di afrika, ternyata di karibia. Malunyooo… dan cuma ada 300 ribu orang di negara ini.

Waktu saya bilang, Indonesia punya 250 juta penduduk di 13 ribu pulau dan 12 juta di Jakarta, yang lain melongo… bagaimana bisa hidup di kota padat itu? Ah bisa aja ya ternyata, meski ga masuk akal.

Tapi dari cerita bergulir, semua tertegun prihatin dengan kawan dari Palestina. Dia meninggalkan anaknya yang berusia enam bulan bersama suami di Ramallah hampir sebulan ini untuk belajar di Inggris. Seminggu terakhir situasinya memburuk di kota itu. Belasan remaja dibunuh oleh tentara Israel, dan ga cukup sampai di sana, tentara Israel “menghukum” keluarga karena mereka dianggap bersalah membesarkan anak seperti itu dengan membom rumah mereka. Suami teman saya terpaksa mengungsi dari apartemennya karena dua remaja yang ditembak Israel adalah tetangga mereka. Tentara Israel sudah mengusir mereka dari rumahnya. Kawan saya ini bercerita sambil menahan emosinya, bagaimana dia bisa tidur tenang saban malam kalau suami dan anak enam bulannya itu hidup dalam kondisi perang?

Apa yang bisa kami lakukan saat mendengar cerita itu, selain diam, bingung berpendapat kecuali sama sama berdoa, semoga keluarganya selamat dan mereka segera berkumpul lagi. Kami tetiba merasa, rindu kami pada keluarga di negara yang “damai” ini ga perlu di dramatisir, karena di depan kami ada kawan yang harus berjuang menuntut ilmu dengan meninggalkan keluarganya.

Menutup perbincangan, kami merasa perlu lebih dekat satu sama lain, dengan agenda wisata bersama dan makan-makan. Setiap orang harus menyumbang masakan khas negaranya untuk dibawa ke perjamuan. Saya beruntung berada di antara dua puluh tujuh penerima beasiswa chevening yang punya banyak cerita.

 

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s