Merekam Suara Kematian, Sebuah Sejarah Peradaban

Standar

jewel of ear

Kalau lihat poster tersebut, tentu dibayanganmu adalah pertunjukan sitar India yang mistis, sesuai dengan keterangannya yang berkaitan dengan funeral, pemakaman. Saya membayangkan menikmati sitar dan akan hanyut bersamanya, menangisi kematian.

Yang terjadi di dalam ruangan teater yang dipenuhi sekitar 30 puluhan orang, yang sepuluh menit pertama berkurang, terus berkurang, hingga tiga baris yang tidak lagi penuh. Saya bertahan, barangkali akan ada kejutan, di tengah, atau di akhir.

Adalah dua orang musisi idealis, kolektor piringan hitam, dan orang “gila”. Ini music eksperimental, ga tepat sebenarnya disebut music yang harusnya ada sebuah “harmonisasi” di antara alat alat yang mengeluarkan suara. Ini menggabungkan suara piringan hitam, rekaman audio dalam bentuk kaset dan eksplorasi ruangan dengan alat perekam yang menghasilkan “feed back” suara. Iyalah melengking, tidak ada nada dalam pertunjukan tadi, samar samar terekam sitar, suara nyanyian, suara orang bercakap. Melengking, sampai sampai sebagian besar penonton menutup telinga, seorang mahasiswa berbisik pada temannya, “When this will be end?” lalu tanpa sengaja dia berdahak kebanyakan soda persis di akhir pertunjukan ketika semua orang bertepuk tangan.

Sepanjang pertunjukan di kepala saya berpikir keras, maksudnya apa sih ini, apakah gue yang bego ga ngerti pertunjukkan tingkat tinggi ini?

Ternyata, kejutannya justru ada di sesi tanya jawab… oh iya, suara ajaib tadi berlangsung selama 45 menit. No wonder kalau banyak yang akhirnya mundur dari sisi penonton.

Dua orang di depan yang bermodalkan shellac records, gramophones, field recordings, feedback dan gitar tua 1960an, intinya itu bercerita tentang sejarah recording sebagai alat dokumentasi dan preserving human history through sound. Keren ga tuh. Suara suara lapangan yang ada dalam pertunjukan tadi adalah rekaman suara upacara pemakaman, saat kremasi dilakukan, disatukan suara feedback dari ruangan teater.

“Kenapa gramophones dan recording sounds justru lahir di Barat dan bukan di India, Cina atau Afrika? Karena di Barat melihat pada kebutuhan akan itu,”kata Gilles Aubry, yang punya project ini bersama Robert Millis. Dengan kekuatan teknologi rekaman itulah Barat kemudian menjadikan music India komersil, ya itu berkaitan juga dengan masa kolonialisasi Inggris terhadap India.

Justru dari suara yang memekakkan telinga itu, saya belajar sejarah manusia lewat rekamanan suara. Sebagai bekas jurnalis radio yang pernah dekat dengan Marantz dan masih pakai recording Sony, ga pernah kepikiran sebelumnya bahwa suara yang pernah saya rekaman, sesederhana apapun adalah sebuah sejarah!

Harusnya saya bisa merekam suara sepatu yang dipakai, bus yang ditaiki, dosen yang mengajar, debat yang terjadi di kelas, sampai suara dentingan piring dan sendok ketika makan siang. Saya bisa cerita nanti, tentang masa sekolah di Inggris.

Atau bisa saja, saya mewasiatkan pesan, kubur saya bersama alat rekam Marantz atau Sonny, sampai di suatu waktu diambil, dengarkan bagaimana saya perlahan habis mendaur bersama tanah dan cacing di dalamnya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s