Jadi Selama Ini Kita “Work” atau “Labor”?

Standar

“Labor is the activity which correspondents to the biological process of the human body, whose spontaneous growth, metabolism and eventually decay are bond to the vital necessities produce and fed in to the life process by labor. The human condition of labor is life itself.

Work is the activity which correspondent to the unnaturalness of human existence, which is not imbedded in, and whose mortality is not compensated by, the species’ ever re-curing life cycle. Work provides and an “artificial” world of things, distinctly different from all natural surroundings. Within its borders each individual life is housed, while the world itself is meant outlast and transcend them all. The human condition of work is worldliness.” – The Human Condition, Hanna Arendt

 

Dua paragraph itu dibahas dalam satu jam kelas Critical Reading Skill Course dengan penuh perdebatan. Maksudnya si Arendt ini apa sih? Dua paragraph itu bikin saya ga bisa tidur tenang minggu malam Senin untuk mengerjakan peer dari dosen,”jadi apa perbedaan Labor dan Work?”

Ketika ditanya orang tentang pekerjaan, kita pasti akan menjawab “I work as, I work at” almost no one will say “I am laboring at”

Labor ini adalah aktivitas yang berkaitan sama kebutuhan biologis manusia, makan, minum, buang air. Dalam kontek pekerjaan, jika kamu dibayar dengan uang yang kemudian digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup, that’s laboring. Segala sesuatu yang dikerjakan by “order” dan menghasilkan uang, that’s laboring. Kata kuncinya dalam paragraph di atas ada pada “biological process,” kalau dalam tulisan penuhnya akan ditemujkan kata survival, existence.”

Sedangkan Work adalah aktivitas yang kamu lakukan dan menghasilkan sebuah “penciptaan,” “kreasi” yang dilempar ke “dunia” dan bertahan melampui usiamu, artinya seumur hidup, juga mengubah dunia. Contohnya, sebuah karya foto yang mengguncang dunia, film yang menginspirasi, buku yang dibaca banyak orang, atau seorang arsitek yang meninggalkan maha karya. Seniman dan arsitek dalam hal ini bisa saja melakukan keduanya, Work and Labor. Mahakaryanya kemudian menghasilkan uang.

Kalau gitu Van Gogh is working, while politician is Labor itself… we paid them to run and then they ruin the country… oh shit!

Ngebingungin kan? Iya betul… rasanya kok kayak ditampol. Selama ini bekerja atau berkarya? Laboring or working?

Kawan saya jurnalis dari Brasil langsung merasa kalau seumur hidupnya adalah pekerja/buruh, dia menulis untuk menerima bayaran. Lalu saya bilang, kalau tulisanmu kemudian mengubah orang lain, that’s work! dan menurut saya, blogging adalah salah satu kita “WORK” berkarya, yang akan langgeng bahkan ketika kita mati dan berharap kalau tulisan di dalamnya bisa menginspirasi orang lain.

labor

Kelas hari ini ditutup dengan kutipan masih dari Hannah Arendt

“Plurality is the condition of human action because we are all the same, that is, human, in such a way that nobody is ever the same as anyone else who ever lived, lives, or will live.”

(terjemahan bebas : pluralitas itu adalah kondisi dimana kita ini semua sama, manusia, yang setiap di antara kita itu beda menjalani hidup, sebagaimana mereka yang pernah hidup atau yang bakal hidup)

Iya betul, karena tiap orang berbeda dalam menjalani hidupnya, jadi kenapa harus memaksakan sesuatu yang lahiriah adalah berbeda.

I love the class that bring a deep contemplation… thank you bu dosen.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s