Perjalanan ke Pulau Tanakeke : Meski Belang, Saya Senang

Standar

Sudah sejak awal Oktober, kawan mengajak saya ikut sebuah kegiatan di Pulau Tanakeke, Sulawesi Selatan. “Lu harus ikut, ini pulau keren banget. Bukan tempat wisata, tapi keren banget,” kata Mba Ai. Okeh lah, selama gratisan semua tawaran diterima. Oh iya, untuk liburan, saya memang murahan, eh gampangan.

Sebulan kemudian, tiket di tangan, terbang jam lima pagi dari Jakarta. Sampai di terminal 1C, barulah tahu, barengan saya itu para lelaki kinyis kinyis dari yang berambut gimbal, berperut buncit, dari yang baru lulus sma kemarin sampai yang sedang ngitung umur kapan pensiun #eh. Selama gratisan, nikmatin aja, gitu deh prinsip saya. Lagian bocah paling kinyis itu berbekal tongsis, ini perjalanan pasti cihuy. Tongsis sudah pasti akan mencairkan kami semua, orangorang yang sebagian baru bertemu untuk pertama kalinya. Di Makasar, kami bertemu satu anggota lagi yang terbang dari Surabaya. Sudah lengkap, foto dulu.

P1070475

Perjalanan ke Pulau Tanakeke itu harus pagi buta, ketika ombak tenang, jadilah kami bermalam dahulu di Makasar. Ceritanya hotel yang kami inginkan penuh, karena Cuma kepikiran tidur semalam saja, akhirnya hotel kosong yang ternyata hotel transit jam-jam itu pun dipilih. Ya namanya juga hotel jam-jaman yang lumayan beken, sementara saya perempuan sendirian di antara 7 lelaki, bikin ngeri ga sih huehehe. Percayalah kenyataan pahit ini baru kami sadari setelah sampai di pulau Tanakeke keesokan harinya.

Malam itu tetua kelompok mas Wandi mengajak kami makan ke jl. Nusantara, yang ternyata juga beken dengan prostitusi… bagus… eh ini sampai sekarang sih saya ngga tahu apakah dia sengaja atau beneran ga tahu. Doh!

Pagi jam 4, saya ditugasi sebagai alarm hidup, mas wandi menyebut saya sebagai radio rusak karena berisik. Tiga kamar mereka digedor. Jelas lah keluar dan siap-siap ga pake acara mandi. Berangkaaat…

Perjalanan darat sekitar 45 menit sampai 1 jam dari Makasar melintasi kabupaten Gowa ke Kabupaten Takalar. Di pelabuhan lama Takalar, Daeng Haris sudah siap dengan perahu “Cahaya Irna” untuk mengangkut kami ke Pulau Tanakeke. Perjalanan memakan waktu sekitar 45 menitan ke Tanakeke.

P1070505

Mendekati daratan pulau Tanakeke, kami sudah berdecak kagum. Bagus yaaa, rumahnya warna-warni. Kiri-kanan banyak mengapung botol plastic, sampah ini jadi pelampung buat lahan rumput laut. Perahu merapat di dermaga Dusun TompoTanah yang akan menjadi rumah kami dalam beberapa hari ke depan. Rumah kami menginap dua lantai, kami menempati lantai atas yang beralaskan kayu, jadi kalau berjalan akan berderit kayu-kayu itu. Sekali pun tersedia dua kamar, tiga kasur, toh kawan-kawan memilih tidur di atas papan kayu. Saya punya kavling sendiri, sebuah kasur single di belakang sofa ditutupi juga barang-barang kami.

Tidak mau membuang waktu, taruh barang, istirahat sebentar, berangkat lagi kami dengan perahu lebih kecil disebut Jalapa. Kami pakai dua kapal isi masingmasing empat orang, padahal sehari-hari dipakai mengangkut anak sekolah smp – sma sampai 15 orang. Wuidih kebayang padatnya. Tujuan kami, hutan bakau..

P1070516

Jalan-jalan ke hutan bakau bukan pertama kali ini. Bersama kawan-kawan Transformasi Hijau, udah beberapa kali nengokin bakau di Suaka Margasatwa Angke di Jakarta Utara dan di Pulau Rambut di Kepulauan Seribu. Selalu excited untuk bisa nengok bakau lagi. Buat saya pribadi, pohon bakau itu misteri, dia ga berhenti tumbuh, akarnya terus menancap kokoh di dasar pesisir, dia gagah memecah ombak.

P1070540

tanakeke_hutan bakau_01

Pulau Tanakeke ini panasnya lewat dari biasa, luar binasa! 36 derajat siang hari, sementara kalau tidur siang, rumah kami itu dinding dan atap terbuat dari seng. Kami seperti kue lebaran yang dipanggang dalam oven. Datang dengan wajah bersih, baru dua hari di Tanakeke, sudah belang. Perih-perih terasa di muka dan punggung. Mau ngeluh? Ga ada cerita, malu sama para lelaki itu… ntar dikatain manja.

Suatu kali para lelaki tidur siang sambil berangin angina di beranda rumah sementara saya ambil posisi di ruang tengah. Begitu terbangun, mereka semua sudah tersebar di sekitar saya. Ternyata seiring dengan pergerakan matahari, kaki mereka perlahan terbakar, bergesergeser menghindari matahari, sampai akhirnya menyerah dan kembali ke dalam rumah 😉

Wajah itu asset, sungguh kami sadari itu. Bedak dingin jadi obatnya. Biar ga gosong-gosong banget lah, dan juga meredakan perih akibat terbakar. Percaya lah, sun block yang saya bawa dari rumah itu SPF 50, ga ngaruh blas! Ya ngaruh dikit lah.. tetep aja kebakar… hari kedua, kami begini

tanakeke_bedak dingin

Petualangan itu bukan sekedar menikmati alam, tapi juga berbincang dengan manusia di dalamnya. Belajar bagaimana mereka bisa bertahan dari melaut yang bergantung pada musim yang tak lagi menentu, pada rumput laut yang kotorannya tak jarang bikin mereka gatal-gatal sampai harus diberi antibiotic, atau pada arang bakau yang terpaksa dibikin untuk menyambung hidup. Anak-anak yang disekolahkan setinggi-tingginya lalu enggan kembali, melaut seperti bapak ibu tidak lagi masuk dalam agenda hidup mereka yang sekolah hingga SMA. Tentang anak-anak berambut pirang yang malam hari hanya mengandalkan lilin untuk belajar, mereka tak tahu masha and the bear yang pasti. Ketika Ucup, kawan kami si tukang sulap menunjukan keahliannya, dia bagai bintang di kelilingi sekitar seraturan anak usia 5-12 tahun yang datang dari tiga dusun. Para UCUPERS ini menyambangi rumah kami saban sore mengajak main. Saban kami mengeluarkan kamera foto, anakanak berbaris rapi serapi gigi mereka yang menyeringai dan tawa yang berderai seusainya. Ini tentang pulau yang dibangun di atas karang dan tumpukan sampah yang di atasnya dibangun rumah masa depan para pasangan muda. Tentang para bidan yang berbagi waktu antara melayangi kesehatan warga dan merumput laut. Tentang para pencari kepiting dato dan rajungan. Tentang air bersih yang jumlahnya terbatas dan didatangkan dari kabupaten sebrang di Takalar.

Kulit lengket karena udara laut, rambut lengket, tapi kami sadar betul, air bersih sangat berharga. Biar saja lah lima hari di sana, kami sudah mahfum dengan bau kawan-kawan sendiri. Sesekali dapat air bersih buat basuh kulit muka sudah sukur. Perut saja tahu diri, tak memaksa saban hari minta dikeluarkan.

Padahal, Pulau Tanakeke ini punya potensi luar biasa yang bisa bikin ibu Susi Pudjiastuti, menteri kelautan yang pengusaha ikan itu meneteskan liur. Baronang, Kerapu, Teripang sudah biasa mereka dapat. Lobster dan mutiara yang bernilai jutaan itu ada di sana. Gurita dan bulu babi yang tersebar itu bisa bikin pengusaha sushi mandi liur!

Kami mencicipi ikan pari yang disate dan lebih enak dari sate kelatak yang selalu bikin saya kangen Yogya. Makan gurita, kepiting rajungan bahkan bulu babi yang ditonton warga sekampung sambil menyengir geli dan takut.

tanakeke_bulubabi

Pulau Tanakeke ga cocok buat yang pengen snorkeling, kecuali jagoan banget ngadepin bulu babi huhehe. Kami belum menemukan spot yang cocok bahkan untuk berenang sekali pun. Kami memang bertualang dengan hutan bakau dan hidup bersama warga dusun sambil menggendutkan perut dengan makanan laut.

Saat Jalapa tersangkut tali bentangan rumput laut, sejenak kami terdiam sementara langit mulai gelap. Hujan rintik turun pertama kali sejak lebaran, itu pun sebentar banget. Jika terjadi sesuatu dengan kapal ini, kami pasrah, berenang pun percuma, kiri kanan ditunggu bulu babi. Akhirnya Jalapa kembali jalan, sepanjang perjalanan nyanyian tak jelas diteriakan, saya tahu kami sedang berusaha menghibur diri, menenangkan hati. Perjalanan menegangkan itu jadi yang terakhir buat saya bersama tim kecil lelaki kinyis kinyis yang sudah pada belang itu.

P1070959

P1070999

5 November subuh sudah dipanggil lagi untuk kembali ke Makasar, terbang ke Jakarta lalu lanjut ke Bandung. Kerja! Aaaahhh… Pulau Tanakeke tetap di hati, kapan-kapan kembali lagi…

tanakeke_pagi

terima kasih buat Yusuf Garuda untuk foto-fotonya terutama yang pake tongsis tea, makasih buat kawan seperjalanan yang menyenangkan dan seru ini, Mas Luluk, Kaka, Daniel (didoakan segera ketemu jodohnya), dan mas Roim (yang ternyata jauh beda sama image yang ditanamkan pada saya dan ucup sebelumnya) … makasih buat semua keseruan ini yo…. keep in touch kakak kakak sekalian…

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s