Waktuku

Standar

14.00

Beberapa tahun lalu tempat ini menjadi pelarian yang nyaman buatku dari keriuhan rumah dengan dua balita yang acap kali menjerit satu sama lain. Sesekali aku ingin menikmati secangkir kopi hitam panas dan menikmati salah satu novel yang tak sempat lagi kubaca karena dua puluh empat jam sehari secara tak cukup untuk mengurusi segala tetek bengek dalam kehidupanku. Sebatang dua batang rokok masih sempat kubakar untuk meracuni paru-paruku dengan sadar, saat yang pas adalah ketika menjemur pakaian di atas loteng, saat anak-anak tidur siang. Cuma 10 menit satu hari rata-rata yang kupunya untuk diriku sendiri.

Hari ini entah kenapa, aku punya kekuatan dan kesempatan untuk meninggalkan anak-anak di rumah. Aku meminta Awan mengizinkanku untuk pergi ke pusat perbelanjaan sendiri. Aku  bilang aku ingin liburan. Bukannya tidak pernah Awam memberikan waktu untukku menikmati kesendirian. Tapi selalu aku tolak karena ada rasa bersalah yang mengikutiku saban kali meninggalkan anak-anak di rumah bersama pengasuhnya atau bahkan dengan ayahnya sendiri. Aku selalu takut hal buruk terjadi pada mereka saat aku tak bersamanya.

Tapi hari ini, aku ingin kembali ke tempat ini. Segalanya berubah. Music jazz yang biasanya mengalun merdu kalah nyaring dengan lagu techno yang diputar dari booth pameran tempat kebugaran para pesohor. Lelaki dengan badan tegap, kaos ketat yang sengaja dipakai untuk memperlihatkan otot-otot kering yang menggemaskan sibuk menyebarkan flyer potongan harga bagi anggota baru yang bergabung dengan mereka. Waktunya terbatas, selalu begitu kata kuncinya. Salah satu dari mereka yang boleh dibilang paling tampan menawariku flyer. Barangkali dia lihat badanku yang perlu dibentuk setelah turun mesin dua kali. Pada suatu waktu aku pernah merasa jijik pada tubuhku yang menggelambir di bagian perut, bekas sayatan pisau operasi tak hilang karena kulitku berbakat keloid. Aku pernah menolak permintaan Awam bercinta karena aku malu pada tubuhku sendiri, bahkan kepalaku dipenuhi curiga, hal yang wajar kalau Awam akan mencari perempuan dengan kulit perut yang mulus.

Awam tersenyum ketika kuceritakan alasan itu, dia menyerbuku, menelanjangi dan menciumi bekas operasi itu. “Dari sini lahir kehidupan baru, darah daging aku dan kamu, masa depan kita. Aku mencintaimu bukan perutmu, selamanya akan begitu.”

Lelaki dengan flyer potongan harga itu menggodaku dengan tatapan matanya dan senyumannya dan bilang hanya dalam waktu tiga bulan dengan latihan ketat dibawah bimbingannya, tubuhku akan langsing dan lebih menarik. Terima kasih, aku tidak tertarik mengubah bentukku hanya untuk memuaskan orang lain.

Pernah tidak kamu menghitung berapa banyak waktumu dicuri para penjaja yang ingin membuat kualitas hidup versi kekinian menjadi lebih baik. Dan aku sangat baik hati mendengarkan mereka barang lima menit, alasannya sederhana, aku tahu persis betapa lelahnya menjaga stand dan kesal ketika bertemu orang-orang yang bahkan tidak mau mendengarkanmu. Dengan gaji tujuh puluh lima ribu sehari, pasang muka manis, menarik mereka yang sesuai segmen dagangan dan keringkan kerongkongan dengan penjelasan panjang lebar. Dari puluhan yang kamu undang ke standmu, hanya belasan yang bersedia mendengarkan, dan hanya hitungan jari yang bersedia membeli.

Di sebuah pameran otomotif lah aku bertemu dengan Awam. Aku penjaga stand dan dia seorang eksekutif muda yang sedang mencari mobil. Tuntutan gaya hidup metropolitan memang seperti itu menurut seorang perencana keuangan yang berkoar-koar saban pagi di radio, mencekoki anak-anak muda yang kaget dengan gaji bulanan membuncah melebihi kebutuhan utama. Makin besar penghasilan, tentu biaya gaya hidup makin besar dong, harus disiapkan dana untuk liburan sekian persen, entertainment seperti hang out dan nonton sekian persen, cicilan mobil, apartement, kartu kredit, tabungan, asuransi dan jangan lupa, investasi.

Waduh banyak sekali tuntutan hidup mereka. Aku cukup bahagia dengan gaji tujuh puluh lima ribu rupiah perhari saban kali ada pameran, ditambah membantu terjemahan bebas karena belum tersumpah, menjadi penyiar radio, menulis puisi dan kadang-kadang cerpen untuk dimuat di Koran. Tidak ada gaji tetap, tapi kalau sedang kaya, penghasilanku luar biasa. Investasiku masih konvensional, beli emas saban kali ada uang lebih, tidak banyak, sampai saat menikah dengan Awam jumlahnya hanya dua puluh gram. Itu tabunganku selama lima tahun bekerja lepas.

Sejak awal kami bertemu, Awam sudah mencuri kekagumanku. Sekalipun dia mengikuti tuntutan gaya hidup eksekutif muda, sebenarnya Awam sangat sederhana. Dia tidak punya catatan buruk dalam percintaan, bukan jenis yang gonta ganti pasangan, dia percaya cinta pada pandangan pertama. Seminggu kami bersama, dia memintaku menjadi istrinya. Aku mengiyakan tanpa berpikir panjang bahkan lupa dengan cita-citaku untuk melanjutkan sekolah, mengejar gelar master supaya dapat surat izin mengajar di perguruan tinggi. Atau bekerja dan mengejar karir di perusahaan internasional supaya aku tak perlu lagi berbaju ketat, rok di atas dengkul, wajah didempul dan senyum simpul. Aku mengiyakan ketika Awam bilang “aku ingin kamu di rumah, menjadi ibu rumah tangga, profesi paling mulia yang bisa dilakukan seorang perempuan. Aku akan menggajimu sebanyak yang bisa kamu dapat dari sebuah perusahaan dengan level manajer.”

Tapi Awam lupa, menjadi ibu tidak sama dengan menjadi karyawan. Bekerja penuh dua puluh empat jam sehari, tanpa cuti haid, lebaran atau libur nasional. Menjadi ibu tidak sama dengan manejer perusahaan dengan job description tunggal, aku harus mengurus semua hal, divisi purchasing, keuangan, personalia, operasional bahkan menjadi teknisi. Aku menjadi supir buat anak-anak, menjadi guru, pendongeng dan juru masak. Rumah tangga tidak sama sekali berbeda dengan perusahaan dan aku bukan pegawai juga kamu bukan direktur. Aku lelah.

 

14.30

“Air mineralnya empat belas ribu rupiah ya bu, seharga orange juice,” kata kasir menatapku, memastikan pilihanku tak salah. Aku mengangguk dan dia memberikan air mineral botol plastic ukuran 600ml dengan bonus donut.

Kalau tanpa bonus donut, apakah harganya berkurang?, pertanyaanku membatin saja, malas berdebat karena kutahu akan dijawab dengan senyuman.

Pantas angka diabetes tinggi, bayangkan, air tawar sama mahal dengan minuman olahan. Buat ibu-ibu sepertiku, empat belas ribu rupiah untuk air minuman tawar tentu mahal sekali, bisa dapat tiga botol mineral di luar kafe. Di eropa, kita punya pilihan, membeli air tawar sparkling yang harganya lebih mahal dari segelas bir atau gratisan dari kran yang sudah dijamin kebersihannya dan layak minum. Di sini, kecuali kau mau diabet silah saja menghindari pesanan air minum tawar yang harganya menjulang.

Aku kembali ke kursiku sambil mengutuki harga, padahal ibuku pernah pesan pamali mengutuki sesuatu yang akan jadi tai. Jangan Tanya kenapa begitu, karena dia akan menjawab, tidak usah banyak Tanya, turuti saja apa kata orang tua. Lalu begitu menikah, kamu tidak bisa berbuat apa pun tanpa seizin suami. Oh betapa dirimu tak pernah menjadi milikmu seutuhnya.

Novel Lalita karangan Ayu Utami tak banyak bergeser, aku terlalu banyak melamun ternyata. Membayangkan Awam mengurusi Langit dan Puisi Pagi yang selalu ribut memperebutkan segala hal, remote televisi, bantal, mainan, buku bahkan kursi. Jarak mereka terlalu dekat, Langit baru berusia sembilan bulan ketiga Puisi hadir di perutku. Barangkali dia kesal karena belum puas mendapatkan perhatian dari kami dan kini harus berbagi segalanya dengan sang adik, bahkan ketika air susuku lebih banyak disedot Puisi. Aku kehilangan kebebasan sejak menikahi Awam karena Langit muncul di rahimku hanya satu bulan berselang sejak pesta digelar. Awam begitu bahagia, aku…

Kenapa aku tak bisa mengaku bahwa aku lelah tanpa merasa bersalah, tanpa takut orang lain akan menghakimiku dengan segala nasihat. Kalau kamu ikhlas, tak akan menjadi beban. Menjadi ibu adalah anugerah terbesar bagi perempuan, sebuah kesempurnaan. Mengasuh dan mendidik anak adalah kewajiban. Dan ketika menjadi kewajiban bukankah beranak beban? Kenapa aku tidak bisa menjadi Lena, seorang Lena, individu yang bisa merasakan lelah dan jenuh. Aku butuh bertemu dengan diriku sendiri, bercakap tentang aku dan hanya aku, tentang mauku. Kenapa aku tak bisa menjadi aku?

Karena aku seorang istri dan ibu maka aku tak bisa menjadi Lena?

“Sayang, kalau sudah istirahatnya, segera pulang ya. Langit demam,” pesan pendek dari Awam.

“Langit demam? Aku segera pulang,”

…”Ibu hanya butuh menyetorkan dana awal satu juta lima ratus ribu rupiah saja di awal dan biarkan dana itu bekerja untuk ibu. Ibu tinggal duduk manis di rumah, bisa gajian sehari tujuh ratus lima puluh ribu rupiah…” makelar multi level marketing mengiringiku pulang..

Ya aku pulang…..

 

tol Cipularang, 31 Mei 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s