menulis untuk hidup, hidup untuk menulis

Standar

saya sedang menulis novel kedua ketika menulis ini. jeda sejenak untuk semua gangguan yang terus menghambat saya meneruskan cerita.

kegalauan saya untuk pindah kerja bukan sekali dua kali tapi rasanya ini lebih rumit ketimbang masa 10 tahun lalu. ketika itu saya memilih keluar dari zona nyaman dan mencoba peruntungan dari tempat lain.

enam bulan kemudian, hari ini tepatnya, saya sudah punya rencana lain. bukan rencana baru tapi selalu tertunda karena sekitar saya lalu berpendapat,”gila… darimana lu bisa hidup dari sekedar menulis? nyokap masih bergantung sama lu, tiap bulan lu masih harus punya penghasilan tetap.” dan seterusnya.

Pramoedya kata guru sekaligus teman saya mas tosca, di masanya tak ada pekerjaan lain dilakukan selain membakar sampah dan menulis. cerita lain dari teman tetang penulis lainnya, 4 jam sehari dia menulis, 2 jam membaca dan 2 jam lainnya bersosialisasi bertemu dengan teman-teman.

as you re growing older, your chain of friends loosened… then you’ll need to redefine meaning of socialization.

sejauh ini yang gue kerjakan adalah 8 jam kerja rutin, 2 jam pagi untuk menulis, 2 jam malam untuk riset, bahkan menonton sherlock holmes berkali-kali adalah bagian dari riset. dan itu ga cukup! sungguh ga cukup. karena sampai sekarnag akhirnya saya ga cukup waktu untuk berkunjung satu hari penuh ke toko kopi di banceuy, pergi bertemu photographer untuk wawancara atau sekedar seharian duduk di kafe menonton orang beraktivitas dan nguping untuk dapat inspirasi. then i know… i need more time for my writing process.

i found my passion in writing, i have to hold my passion all these times… for many reason, im not being me, chasing my dream and following my passion…. in the name of monthly salary…. im just another ordinary worker…

penerbit saya bilang “kalau belum menyerahkan 8 jam sehari untuk menulis, jangan pernah berharap menulis bisa menghidupi kita. karena kita tidak pernah memperlakukannya sebagai pekerjaan.

salman rushdie bilang “menulis bukan urusan mood, tapi konsentrasi.” konsentrasi terbagi banyak hal, mood saya terganggu tugas lala lili lolo, ya da ya da bla bla….

oh i like what i do right now… finding a wonderful person as we call them social entrepreneur…. but if once again, have to give up my writing passion and time to do so… i dunno… im thinking about quiting…

with all the consequency that i have to face…

i rather spend my times on my corner of starbucks – though i hate their coffee – and watch people pass me by and guessing what’s on their head, than trap in the office hours once again.

ah….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s