Cerita dari pojok starbucks citos

Standar

Satpam

Dia memilih lokasi berdiri dengan sikap siaga di belakang pilar besar, sedikit jauh dari sinar matahari yang jatuh hanya sekitar 5 cm dari tumit sepatunya. Mencoba awas, menangkap pandangan kiri dan kanan. Selain berjaga-jaga, tugasnya berat…. Menghapal setiap sudut mal ini. Dia sigap menjawab pertanyaan paling sederhana dan paling sering terjadi “toilet sebelah mana ya pak?” lalu dia akan menghadap ke kanan dan tangannya menunjukkan lokasi dengan akurat. Sesekali mengusap wajah karena berdiri lebih dari satu jam takkan menyenangkan pun keringat menetes karena topi biru putihnya itu tak memberikan kesempatan bagi kulit kepala bernapas.

 

Lelaki bule 1

“Saya minta cheese bangle dong.”

“Habis mba.”

“ Iya, saya juga cari. Ga semua starbucks jual cheese bangle ternyata.” Kata perempuan di depan saya. Dia meninggalkan saya untuk bertemu seorang lelaki bule dengan busana hitam putih seperti seorang magang di tempat baru.

Mereka bercakap serius sekali dari meja seberang saya, dari gerak tubuh dan laptop yang dibuka perempuan itu, rasanya ini sebuah percakapan bisnis. Hampir satu jam mereka bicara serius, saatnya berpisah. Keluar pintu dan bersalaman, saling mengucap selamat tinggal. Semoga rapatnya sukses ya, batinku.

Lima menit lelaki itu berdiri di depan pintu starbucks, ah menanti sebuah telepon masuk. Kedua ujung bibirnya mendadak tertarik lebar ke kiri dan kanan, deretan gigi putih memajang melengkapi wajahnya. Dia berlalu…. Selanjutnya makan siang penuh cinta….  pasti… cinta selalu mudah terbaca di wajah pemiliknya.

 

Batik, batik, batik….

Semua berbatik. Kalau saja Unesco tak menjadikan batik sebagai warisan dunia milik Indonesia, apa kita dengan sukarela berbatik? Kenapa harus pakai batik di Jumat? Kenapa bukan Senin, Selasa, Rabu dan Kamis?

 

Pelayan

Senang karena menjelang siang pelanggan terus bertambah. Apa orang-orang ini kenyang dengan roti? Tapi pelanggan banyak berarti sampah yang tertinggal bukan kepalang banyaknya. Harap maklum, kita tak terbiasa mengangkut sampah bekas minum sendiri atau bungkus rokok ke tempat sampah yang tersedia di depan mata.

Karena kita terbiasa membeli segelas kopi 25 ribu bersama pelayanannya termasuk untuk melap bangku yang basah karena kondensasi dan membuangkan bungkus rokok serta gelas plastic bekas minum. Jangan lupa untuk menyapu lantai yang kotor karena abu rokok dan tisu. Karena kita terbiasa memperlakukan orang lain sebagai pelayan dengan uang yang kita punya.

 

Perempuan di pojokkan

Es Coklat ukuran sedang dan croissant almond menemaninya sejak jam 10 siang tadi, sendirian.  Laptop di depan mata dan headphone di balik rambut panjangnya, Cuma terlihat bunderan penutup kuping yang berwarna putih oranye. Sesekali serius, sesekali Cuma diam menatap orang-orang yang lalu lalang. Tidak ada yang bisa menebak isi kepala seseorang, tapi galau itu mudah terbaca dari kerut kening dan air muka yang tak ceria.

Perempuan itu… aku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s